Namanya

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
Namanya

            Aku mengambil satu novel dari tumpukan yang tersusun di atas meja. Aku baca sinopsisnya dan melihat harganya. Hmm... sepertinya menarik. Baiklah, novel kedua yang akan aku beli, namun kaki ini masih malas untuk menuju kasir. Akhirnya aku memilih untuk kembali menyusuri bagian novel-novel terbaru.

            “Laku banget ternyata tas yang warna-warni ini.” Sebuah suara terdengar tidak jauh dariku. Aku menoleh, menatap sekilas seorang pramuniaga toko buku yang menghampiri temannya. Di tangannya ada tas bermacam warna.

            Aku mengacuhkannya, kembali asyik dengan sinopsis novel yang kupegang. Setelah selesai, ku letakkan kembali ke tempatnya semula sambil menyusun novel yang berada bukan di tumpukannya. Sebenarnya ada pramuniaga yang akan menyusunnya, tapi tanganku rasanya gatal dan aku merasa tidak nyaman melihat ketidakteraturan.

            Aku mengangkat kepala, melihat sekeliling. Toko buku hari ini cukup ramai. Mungkin karena hari Minggu dan besok sudah mulai puasa. Jadi sebagian orang membeli buku untuk menemani hari libur. Tanpa sengaja, mataku melihatnya lagi. Pramuniaga yang baru saja kembali dari tempat penyimpanan tas. Seorang pria yang tampan. Badannya berisi dan pipinya pun tembam. Rambutnya yang cepak-dengan gaya modern caesar-menambah daya tariknya.

            Aku terus menatapnya hingga ia duduk di sebuah kursi. Oh... customer service toh, ucapku dalam hati.

            Setelah mengambil novel ketiga dan satu buah majalah, aku berjalan menuju kasir. Senyuman tidak terlepas dari bibirku karena melihat wajah pramuniaga itu. Aku memang suka pria yang tembam dan manis.

            Usai melakukan transaksi aku sempat melirik ke arahnya yang ternyata sedang asyik menatap layar komputer. Aku ingin tahu siapa namanya namun tampaknya ia tidak mengenakan tanda pengenal di seragamnya.

*

 

            Sebulan lebih aku tidak ke toko buku. Tapi sebulan itu rasanya lama sekali. Aku merindukan sensasi mengambil sebuah novel, membawanya kasir lantas mengajaknya pulang. Kangen dengan bunyi sobek plastik pembungkusnya, kangen dengan aroma buku baru. Menurutku, memilih novel itu ibarat memilih jodoh. Berjam-jam waktu dihabiskan untuk melihat-lihat sampul novel yang dirasa cukup menarik perhatian. Membaca sinopsisnya lalu mengembalikannya lagi ke rak.Karena membeli novel dan membawanya pulang ke rumah, bagaikan memilih pasangan hidup untuk diajak menghabiskan sisa umur bersama. Ada ikatan yang dibuat oleh pembaca dengan buku atau novel yang dibelinya.

            Lagipula aku ingin melihat dia. Dia, pramuniaga toko yang berpipi tembam. Entah mengapa beberapa malam ini aku selalu terbayang wajahnya dan aku ingin tahu siapa namanya. Seringnya aku menebak-nebak sendiri. Apakah namanya seperti nama orang Eropa? Atau jangan-jangan seperti orang Korea?

            Dan sekarang di sini aku berada. Di toko buku yang terletak di sebuah mall. Begitu memasuki toko buku aku melihatnya sedang duduk di kursi customer service dan senyuman terbit begitu saja di bibirku tanpa bisa ku tahan. Mungkin beberapa pengunjung akan heran melihatku yang senyum-senyum sendiri tapi biarlah, aku sedang bahagia sekarang.

            Aku mengambil sebuah novel karya penulis faforitku. Lalu melangkah ke bagian komik-komik. Aku senang membaca komik, terlebih Doraemon. Mengingatkanku akan masa kecil. Tapi aku lebih suka membacanya di toko buku saja.

            Sambil membaca, mataku sesekali memperhatikan sekitar, siapa tahu ia lewat di dekatku atau menyapaku. Hahaha... ge-er banget sih aku ini. Aku menggelengkan kepala lalu kembali fokus dengan komik di tanganku.

            “Kepada seluruh pengunjung toko buku...” sebuah suara terdengar di balik lagu Balon Udara milik Sherina. Dari pengeras suara, dari customer service yang berarti suara miliknya. Amboi! Suaranya pun merdu dan nyaman untuk didengarkan. Ia memberikan pengumuman tentang pameran buku yang diadakan di lantai bawah. Beserta ragam lomba dan meet & greet penulis terkenal.

            Setelah hampir dua jam berkekeliling toko buku, aku melangkah ke kasir dan melakukan transaksi. Dia di sana, namun sedang menunduk dan mencari-cari sesuatu. Aku menghela napas, masih belum bisa ku ketahui siapa namanya.

            Ya Tuhan, aku ingin tahu siapa namanya. Tapi, aku tersadar. Hanya dengan mengamatinya diam-diam dan bertanya dalam hati siapa gerangan namanya, sudah membuatku bahagia, lantas apa yang akan terjadi ketika aku telah mengetahui siapa namanya? Apa yang akan aku lakukan? Apa yang aku rasakan? Bahagia? Atau malah sebaliknya. Ada ketakutan yang merasuk hatiku. Takut kecewa jika aku sudah mengetahui namanya. Entahlah, aku pun tidak mengerti rasa takutku ini. Aku hanya teringat sebuah kalimat di dalam novel terjemahan. ‘Terkadang kebahagiaan itu adalah tidak mengetahui seluruh kenyataan yang ada’.

            Selesai transaksi aku bersiap untuk keluar. Namun, aku menyadari sesuatu. Semua pramuniaga di sini mengenakan pin berwarna biru yang tersemat di baju seragam mereka. Di pin itu tertulis nama masing-masing. Aku menoleh ke belakang. Ke arah meja customer service. Dia masih di sana, mengenakan pin berwarna biru yang aku tidak bisa membaca tulisannya karena jarakku yang terlalu jauh.

            Aku terdiam sejenak di tempatku berdiri. Menimbang-nimbang sebelum akhirnya menghampiri mejanya. “Mas, bisa lihat buku yang itu?” kataku sambil menunjuk sebuah buku karya penulis asing terkenal yang terletak di rak di belakangnya.

            Dia berdiri, meraihnya dan menyerahkannya padaku.

            “Bukunya gak dipajang di rak di sana?” tanyaku seraya melihat harga buku itu.

            Dia tersenyum sebelum menjawab, “Memang enggak, Mbak. Adanya lima ini aja.”

            “Oh...” Aku membuka halaman tengah, buku itu ditulis dalam bahasa Inggris. Sambil pura-pura membaca, aku melirik ke arahnya. Ingin mencari tahu siapa namanya. Sia-sia, ia berdiri agak menyamping sehingga aku tidak bisa melihat pin yang dikenakannya. Aku meletakkan buku itu di atas meja.

“Ya udah, makasih ya,” ucapku.

            “Iya, Mbak. Sama-sama,” sahutnya.

            Aku menjauh dari meja customer service dan berjalan menuju pintu keluar. Sempat aku menoleh kembali dan mata kami bertemu. Aku melemparkan senyum tipis-untuk menutupi kekecewaanku. Dan sebelum aku benar-benar melangkahkan kaki keluar dari toko buku, seorang pria berseragam keamanan menghampiriku.

            “Mbak, ini ada pesan dari customer service kami.”

            Eh? Belum sempat aku bertanya, pria berseragam keamanan sudah menyerahkan selembar kertas padaku. Dengan bingung, aku membacanya.

          Aku tunggu di foodcourt lantai atas 15 menit lagi.

                                                                           Sultan

 

Aku mengangkat wajah dari kertas itu. Dia sedang duduk di kursi customer service menatapku seraya tersenyum manis.

Aku balas tersenyum. Namanya Sultan.

***

 

 

Biodata Penulis

Bernama lengkap Ria Setiani Hayatunnufus, biasa dipanggil Ria atau I’a. Menyukai novel, musik, film, serial detektif dan diskusi. Hobi membaca dan menulis, karena menyampaikan rasa melalui tulisan lebih menyenangkan ketimbang secara lisan.  Masih terus belajar untuk menjadi penulis yang baik serta menghasilkan karya-karya bermanfaat yang bisa dilihat di www.inspirasi.co/ria_setia

  • view 229