Anak (ke)Tengah(an)

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 November 2016
Anak (ke)Tengah(an)

 

            Zaman sekarang, istilah anak kekinian aku rasa sudah sangat-sangat akrab di telinga kita. Seringkali kita lihat penggunaannya di media sosial. Istilah anak kekinian merujuk pada remaja yang gaulnya maksimal, eksis di medsos, followers-nya banyak, dan mereka memiliki gaya bicara serta bahasa tersendiri. Kebanyakannya, anak kekinian adalah generasi yang lahir di tahun 2000-an. Mereka yang sekarang sedang menikmati usia belasan.

             Beberapa tahun yang lalu, sempat booming tagline “Gua bangga jadi anak 90-an”. Hal itu terjadi karena maraknya anak-anak usia sekolah dasar yang sudah memegang gadget atau bahasa Indonesia-nya gawai. Mungkin tagline itu tercetus karena rasa prihatin generasi 90-an terhadap anak-anak masa kini yang asyik bermain games di gagdet tanpa pernah tahu serunya bermain di lapangan kosong. Tertawa berlari bersama kawan-kawan, sepulang mengaji sampai lupa waktu. Sampai orangtua yang memanggil untuk pulang, baru ingat untuk kembali ke rumah. Ada yang pernah? Ngaku deh... Hihihi...

            Well, sebenarnya sih bukan soal generasi 90-an atau anak kekinian yang ingin aku bahas di sini. Tapi soal generasi yang lahir di tahun 90-an tapi besar dan menikmati usia belasan di tahun 2000-an. Ada pertanyaan yang timbul di benakku, “Jadi, aku yang lahir di tahun 90-an tapi menikmati usia belasan di tahun 2000-an, termasuk dalam generasi apa?”

            Karena ingin menyebut diri sebagai generasi 90-an, rasanya kurang pas. Memang sih, aku termasuk anak yang pernah dan sering bermain di luar rumah. Mengenal dan mengidolakan Kak Ria Enes dan Susan, Tasya, Sherina, suka nonton Power Rangers. Tapi aku tidak tahu soal bahasa atau istilah-istilah gaul yang sering dipakai oleh generasi 90-an. Seperti Bokin, Dokat, Ogut, Plokis, Bokis, dan lain-lain.

Aku lebih tahu istilah zaman sekarang. Baper, Gegana, PHP, Kudet, Friendzone. Tapi, ingin menganggap diri sebagai anak keninian, waduh aku sadar diri kok. Usia sudah menginjak kata puluh, bukan belas lagi. Hehehe... sudah berakal, sudah mengerti mana yang pantas diidolakan, mana yang sekedar diketahui saja.

Ibaratnya aku ini seperti anak tengah, si sulung adalah Generasi 90-an sementara si bungsu adalah Anak Kekinian. Sulung dan Bungsu sering berdebat, karena mereka hanya mengetahui dan mengerti zamannya masing-masing. Si Sulung memang mengalami zamannya Bungsu, tapi kan pola pikirnya sudah terbentuk dan berbeda. Sedangkan si Bungsu, tidak pernah merasakan sama sekali bagaimana rasanya hidup di zamannya Sulung.

Sementara Anak Tengah, pernah merasakan hidup di zaman Sulung dan sedang menjalani zamannya Bungsu. Tapi aku bersyukur, karena aku jadi lebih tahu lebih dan kurangnya dari kedua zaman itu. Menjadi lebih bijak dalam menilai karena menggunakan berbagai sudut pandang.

Jadi? Untuk kita yang lahir di tahun 90-an dan menikmati usia belasan di tahun 2000-an, asyiknya masuk generasi apa nih? Generasi emas? Hmm... menarik sih. Tapi kan semua anak adalah generasi emas. Semua anak adalah generasi penerus bangsa.

Antara Generasi 90-an dan Anak Kekinian, mungkin harus ada istilah baru. Let’s just say “Anak Generasi Ke-tengah-an”? Hihihi...

 

 

P.S. Tulisan ini hanya untuk hiburan semata. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak tertentu. Sekedar mengisi akun ini. Udah lama banget gak menuliskan karya. Takut berdebu. Huhuhu...

  • view 203