Karena Sepiring Bubur Kacang Hijau

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 September 2016
Karena Sepiring Bubur Kacang Hijau

Rasanya pengalaman hari ini membuat suasana hatiku jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Sore, pukul empat, aku berniat untuk menuliskan sesuatu malam ini. Menuliskan tentang perasaanku yang pesimis tentang orang-orang baik.

            Ah ya, mungkin perasaan itu sangat bertolak belakang dengan perasaanku di tahun 2014, dengan perasaan yang aku tuangkan dalam tulisan (semoga) inspirasi di sore hari. Waktu itu aku seorang pribadi yang optimis, yang sangat yakin hingga cenderung naif bahwa masih banyak orang-orang baik. Mungkin karena aku mengagumi dan terinspirasi oleh sosok Anies Baswedan, oleh gerakan Turun Tangan yang digagas oleh beliau. Aku sangat terkagum-kagum dan seketika menyukai dengan kutipan-kutipan yang beliau ucapkan.

            Selain itu, di tahun 2014, beliau sedang mengikuti konvensi di salah satu partai politik untuk dicalonkan sebagai presiden. Aku seakan memiliki harapan untuk nasib bangsa yang lebih baik. Tapi kali ini aku tidak akan membahas mengenai sosok yang sedang mencalonkan diri sebagai gubernur DKI. Bukan... Aku hanya ingin menuliskan apa yang sedang ku rasakan.

            Semakin ke sini, aku seakan kehilangan semangat dan keyakinan itu. Aku sendiri bingung, apa yang terjadi pada diriku? Ke mana aku yang begitu optimis dan selalu berpikiran positif?

            Aku teringat dengan kata-kata tentorku sewaktu di bimbingan belajar. Bahwa energi itu menyebar. Baik positif maupun negatif. Dan aku menyadari, akhir-akhir ini aku sangat-sangat kurang berkumpul dengan mereka yang memiliki energi positif.  Aku sangat-sangat jarang berinteraksi dengan mereka yang optimis. Aku sangat-sangat jarang berada di lingkungan yang positif.

            Akan tetapi, kejadian tadi sore, seperti menegurku. Bahwa masih ada orang-orang yang baik di sekitar kita.

            Sore ini, aku bersama sahabat, mencari-cari kos untuk laki-laki. Teman kami yang berasal dari Jakarta akan bekerja di sini selama dua tahun dan dia meminta tolong kepadaku untuk mencarikan kos-kosan. Setelah dua kos-kosan didatangi, kami merasa kurang sreg. Meskipun bukan kami yang akan kos, tapi kami tetap memikirkan kenyamanan teman laki-laki kami itu.

            Tiba di kos-kosan yang ketiga, kami sempat ragu. Kepada siapa kami harus bertanya? Sebenarnya di sebelah kos-kosan itu ada rumah dan sedang ada pengajian tapi kami takut mengganggu. Daripada ‘kulilik-kulilik kada mangaruan’, sahabatku menyuruhku untuk menelepon nomor handphone yang tertera di kertas yang tertempel di kaca rumah kos-kosan itu.

            Tanpa disangka, ternyata sang pemilik kos juga merupakan pemilik rumah yang mengadakan pengajian. Kamipun dipersilakan masuk oleh tuan rumah dan beliau menyajikan sepiring bubur kacang hijau kepada kami yang notabene bukan anggota pengajian. Sungguh, aku dan sahabatku sangat sungkan dan bingung harus bagaimana. Tapi, ibu yang lupa kutanyakan namanya, mengatakan, “Ayuja makan aja. Ini artinya rejeki buhan ikam.” (Ayo dimakan. Maknanya ini rezeki kalian.)

            Kamipun berbincang-bincang mengenai kos-kosan sambil menikmati sepiring bubur kacang hijau yang hangat. Kemudian, kami melihat-lihat ke dalam kamar kos tersebut. Sekitar pukul 6 sore, kamipun pulang setelah mengucapkan banyak terima kasih.

            Sampai tulisan ini dibuat, aku masih saja tersenyum mengingat apa yang baru saja aku alami. Betapa tak terduga cara Tuhan untuk menyadarkan hamba-hambanya, untuk memberikan rejeki kepada hamba-hambanya. Karena jujur saja, beberapa waktu lalu, aku sempat berkata kepada Mama bahwa aku ingin makan bubur kacang hijau. Namun sampai sekarang Mama belum sempat membuatnya. Dan bubur kacang hijau yang sore tadi aku santap, rasanya sama persis seperti yang biasa dibuat di rumah.

            Unik ya? Ternyata segala hal yang terjadi kepada diri kita bisa mengubah perasaan dan mood kita dalam sekejap. Buktinya aku, yang perasaan dan mood-nya berubah menjadi lebih baik hanya karena menyantap sepiring bubur kacang hijau dari seorang ibu-ibu pemilik kosan yang bahkan tidak aku ketahui namanya.

            Menjadikan aku pribadi yang kembali optimis bahwa masih banyak orang-orang baik di sekitar kita. Yang kita perlukan hanya berbuat sedikit kebaikan dan ikhlas untuk berbuat baik. Mungkin jika aku memilih untuk tidak membantu mencarikan kos-kosan, aku tidak akan bertemu dengan ibu-ibu tersebut dan mendapat rezeki yang tak diduga sebelumnya kan?

            Semoga dengan tulisan ini, anda yang membacanya akan mendapat ‘sepiring bubur kacang hijau’ yang mengubah suasana hati menjadi lebih baik.

            Salam,

            Ria Setiani Hayatunnufus

  • view 292