(Semoga) Inspirasi di Sore Hari

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 September 2016
(Semoga) Inspirasi di Sore Hari

Kemarin… ku lihat awan membentuk wajahmu. Ehehe… malah nyanyi saya. Hahaha… oke. Kemarin, tepatnya kemarin sore, (Sabtu 5 April 2014), dalam perjalanan kaki dari rumah menuju pintu gerbang poltekkes, untuk menunggu taksi argo yang sudah dipesan melalui telepon (pamer ceritanya), aku melihat pemandangan yang… mmm… yang… apa ya? Mmm… bukan. Bukan pemandangan yang menakjubkan. Bukan pula pemandangan yang mencengangkan apalagi menegangkan. Bukan itu. Mungkin saja bagi sebagian orang, pemandangan itu biasa saja (dengan nada lagu Nuansa Bening. Hahaha…)

Bagi diri ini, yang masih belajar, yang masih berusaha untuk terus mengevaluasi setiap aspek kehidupan pribadi, melihat pemandangan tersebut, membuat saya sukses menolehkan kepala dua kali. Untuk melihat lebih seksama. Ujar urang Banjar, ‘Manjanaki’.

Pemandangan yang ‘gak wow banget’, tapi mampu membuat saya terkesima dan mungkin membuat anda semua penasaran. Iya kan iya dong? Benar kan benar dong? Hehehe…

Saya melewati sebuah langgar, atau mushala kecil di kompleks perumahan dosen tempat saya menetap  selama menuntut ilmu di kampus Banjarbaru pada waktu sore hari. Waktu bagi anak-anak di kompleks itu untuk belajar mengaji. Biasanya selesai sholat ashar mereka akan memulai kegiatan tersebut. Berhubung saya lewat disana sebelum adzan ashar, jadi saya bisa melihat beberapa anak laki-laki dan perempuan yang tengah asyik bermain karena guru mengaji mereka belum datang.

Anak-anak perempuan bermain ’domikado’ atau ‘kotak pos’, sementara anak laki-lakinya bermain kejar-kejaran. Berlarian kesana kemari dan jumpalitan serta berguling-guling tidak jelas. Mereka bermain dengan mengenakan pakaian muslim. Perempuan dengan baju terusan rok dan jilbabnya, sementara laki-laki memakai baju koko, beserta celana panjang lengkap dengan peci/kopiahnya.

Tapi, bukan itu yang menjadi obyek pemandangan saya. Yang menurut saya pemandangan mengagumkan itu adalah, adanya sosok anak laki-laki, salah satu dari teman mereka saya rasa, salah satu dari murid-murid mengaji juga, yang tidak ikut bermain kejar-kejaran, guling-gulingan dan tidak juga bermain ‘domikado’. Anak laki-laki itu asyik sendiri membersihkan lantai mushala yang basah akibat cipratan air hujan. Ya, sebelumnya Banjarbaru diguyur hujan yang cukup lebat dari siang hari.

Disaat teman-temannya yang lain bermain, ia, anak laki-laki itu, mengambil alat pel, dan membersihkan lantai mushala. Mengelap serta menyingkirkan genangan-genangan air kecil di lantai mushala itu. Bagi saya, pemandangan itu sangat menakjubkan dan membuat saya kagum. Ketika anak-anak perempuannya tidak peduli dengan kebersihan mushala, apalagi anak-anak laki-lakinya dan mereka memilih bermain untuk membuang waktu menanti para guru mengaji, ia lebih memilih untuk menghabiskannya dengan melakukan hal yang sangat bermanfaat. Simpel saja kegiatannya itu. Tidak membuat lelah dan berkeringat seperti lari-lari kesana kemari, namun dapat memberikan keamanan, kenyamanan serta keselamatan bagi orang-orang yang akan memasuki mushala.

Bayangkan saja. Seandainya tidak ada yang mengeringkan/mengelap lantai mushala itu, mungkin saja akan ada orang-orang yang terpeleset, sehingga menyebabkan cedera. Bisa saja kan korbannya salah satu dari teman-teman si anak laki-laki itu? Atau mungkin orang-orang yang sudah lanjut usia, yang keseimbangannya sudah tidak sebagus orang yang berusia muda. Bahkan, mungkin saja yang akan celaka adalah dirinya sendiri.

Sekarang kita pikirkan yuk…

Mungkin masih banyak dari kita, yang malas untuk bertindak sesuatu. Memilih untuk menunggu orang lain yang bertindak. Mungkin saja kita sudah memiliki inisiatif, tapi rasa malas, rasa tidak peduli, dan rasa tidak memiliki yang membuat kita akhirnya memilih untuk diam, untuk cuek dan masa bodo.

Padahal, dengan bertindak sedikit saja, secuil saja, dapat membawa perubahan yang begitu besar, dapat memberikan manfaat yang begitu luar biasa, bagi diri kita sendiri dan bagi orang-orang di sekitar kita.

Anak laki-laki itu bisa saja menunggu dan membiarkan lantai mushala basah sampai ada orang lain yang akan membersihkannya. Atau mungkin sampai ada ‘korban’. Tapi, ia memilih untuk bergerak, mengambil alat pel dan membersihkan lantai mushala, agar orang-orang yang akan datang tidak akan celaka atau merasa tidak nyaman karena kaki mereka basah dan kotor.

Mudah saja tindakan yang dilakukannya. Hanya mengepel lantai. Pakai alat lagi. Toh, semua orang juga bisa mengepel lantai dengan menggunakan alat. Iya. Semua orang juga bisa. Bahkan anak-anak pun bisa melakukannya. Tetapi, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah semua orang MAU untuk untuk mengepel lantai? Apakah semua orang MAU untuk bergerak dan bertindak?

Ayo tumbuhkan kemauan itu. Tumbuhkan niatan yang baik untuk bergerak dan bertindak menolong sesama. Tidak harus dengan kerja besar untuk seluruh rakyat di negeri ini. Cukup dengan kerja kecil namun memiliki manfaat yang luar biasa bagi orang di sekeliling kita dan bagi diri kita sendiri.

Salam,

Ria Setiani Hayatunnufus