Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 26 September 2016   20:56 WIB
Secret Admirer

Satu hari sebelum bulan Ramadhan, pertama kali aku melihatmu. Semua masih tercetak jelas di dalam ingatanku. Ketika aku menoleh ke arahmu karena tanpa sengaja mendengar kamu sedang berbincang dengan temanmu. Yah, mungkin aku pernah melihatmu pada kunjunganku sebelumnya, namun hari itu, entah mengapa, sebuah senyuman terukir di bibirku.

Kalau boleh jujur, kamu adalah tipe pria kesukaanku. Putih, berpipi tembam, dengan rambut cepak yang rapi. Wajahmu itu kombinasi kakak dokter dan penyanyi terkenal. Oh, suaramu juga nyaman untuk didengar, lembut, tenang.

Dan jantungku  berdetak lebih cepat saat tanpa sengaja kita hampir bertabrakan. Untungnya kamu dan aku memiliki refleks yang sama-sama bagus sehingga bisa berhenti sejenak sebelum kamu melewatiku yang masih terpaku. Ingin rasanya momen itu aku ulang. Hanya saja, kali ini aku ingin mengangkat wajahku, melemparkan senyum kepadamu.

Setiap kali aku pergi ke mall seorang diri, aku selalu mampir ke tempatmu bekerja. Jika tidak sempat, setidaknya aku bisa melihatmu dari tangga berjalan. Terkadang, aku melihatmu sedang berbincang dengan teman-temanmu atau pelanggan lain.

Sejak itu, timbul satu pertanyaan dalam benakku. Siapa gerangan namamu? Hampir setiap malam pertanyaan itu mengangguku. Apakah namamu seperti nama orang Indonesia kebanyakan? Atau namamu seperti nama orang asing?

Akhir Bulan Juli, aku kembali berkunjung ke tempatmu bekerja. Cukup lama aku di sana, namun aku masih tidak tahu bagaimana caranya untuk mengetahui namamu. Beberapa saat sebelum meninggalkan tempat kerjamu, aku terpikirkan satu cara yang membuatku melangkah mendekati mejamu, mengajakmu berbincang sesaat dan aku berhasil melihat nama yang tercetak di pin biru yang kamu kenakan.

Walaupun sudah beberapa kali melihat kamu, tapi aku hanya tau kamu sebatas nama, posisi dan tempatmu bekerja saja. Aku masih tidak tau hal-hal yang jadi faforit kamu, aku tidak tau hobi kamu, aku tidak tau bagaimana kisahmu. Lucu ya? Padahal setiap kali aku berkunjung ke tempat kerjamu, minimal waktu dua jam akan ku habiskan di sana. Entah untuk membeli, membaca atau sekedar melihat-lihat novel dan komik.

            Ya, kamu bekerja di sebuah toko buku. Tempat faforitku. Tempat yang bagiku adalah surga dunia. Tempat yang selalu membuatku lupa waktu. Ditambah ada kamu di sana, membuatku dengan sukarela menambah waktu kunjungan. Meskipun kakiku terasa pegal karena terlalu lama berdiri, aku ikhlas. Asalkan bisa menatap wajahmu lebih lama. Memperhatikanmu yang mengenakan sepatu dengan kombinasi hitam-hijau serta jam tangan di tangan kirimu.

Kamu tau? Waktu aku mengambil potret dirimu secara diam-diam, aku merasa konyol dan malu sendiri. Rasanya aku gila. Senyum-senyum sendiri, takut kalau-kalau ada yang memergoki ketika aku memotretmu dari jauh. Ya, walaupun yang terlihat hanya bagian rambutmu saja, tapi bagiku itu sudah cukup.

            Betapa inginnya aku mengobrol denganmu. Membicarakan tentangmu, mendengarnya langsung darimu. Tapi, aku bisa apa? Menyapamu saja aku tidak berani. Malu dan egoku masih terlalu tinggi untuk melakukannya.

Mungkin seperti ini rasanya menjadi seorang secret admirer. Melihatmu dari kejauhan, menatapmu diam-diam dibalik tumpukan buku, ikut tersenyum ketika kamu tersenyum meski bukan untukku. Memandang wajah manismu yang dilengkapi dengan pipi tembam dan senyum yang menawan. Merasakan debar jantung yang meningkat saat kamu melintas di dekatku.

            Hanya bisa berharap suatu saat aku akan memiliki keberanian untuk menyapamu. Berkata langsung kepadamu, “Perkenalkan! Aku secret admirer-mu!”

Karya : Ria Setiani Hayatunnufus