Tentang Mencintai dalam Diam

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 September 2016
Tentang Mencintai dalam Diam

Sebenarnya karya ini terinspirasi dari sebuah tulisan yang aku baca dua hari lalu. Tentang bagaimana perasaan dan sikap perempuan ketika ia mencintai seseorang diam-diam. Menjadi seorang secret admirer. Well, aku setuju dengan dua poin dari enam poin yang dijabarkan oleh kontributornya, Terkadang kita gak rela orang yang kita suka dengan perempuan lain, tapi kita gak mampu untuk berbuat apa-apa. Karena memang di antara kita dan dia yang kita suka, gak ada apa-apa.

            Mendengar namanya disebutkan atau melihat postingan dirinya di media sosial saja sudah berhasil membuat darah berdesir dan senyuman tersungging di bibir. Ya ya, aku pun mengalami hal itu. Sudah 18 bulan berlalu dan aku masih saja menikmati sensasi mengagumi seseorang.

            Meskipun dia yang aku suka mungkin sudah tahu bahwa aku menyukainya, tapi ya tetap saja. Tidak ada hal-hal spesial yang terjadi diantara kami berdua. Oke, aku mengakui, aku pernah bilang kepada salah seorang teman, bahwa aku menyukai dia yang sedang menempuh pendidikan di Kota Istimewa. Dia yang aku kenal melalui organisasi mahasiswa skala nasional. Teman yang aku beritahu itu, merupakan temannya juga dan pengurus organisasi pula. Imbasnya? Bukan bermaksud lebay, tapi kayanya teman-teman organisasi senasional pada tahu. Terutama mereka yang mengenal aku dan dirinya.

            Malu? Banget. Gak enak sama dia? Sangat. Walaupun bulan Maret kemarin aku nelpon dia, minta maaf karena aku membuat dia diledek sama teman-teman organisasi dan mungkin membuatnya marah, tapi dengan santainya ia tertawa dan berkata gak papa. Mungkin dia menganggap bahwa apa yang aku rasakan padanya bukan sesuatu yang serius. Mungkin dia menganggap bahwa aku hanya terbawa perasaan sesaat.

            Terkadang, dalam sunyi aku memikirkan kembali, ternyata mencintai dalam diam itu tidak selalu berisikan kesedihan dan airmata. Tidak selalu nelangsa karena terjerat rindu yang tak mampu diungkapkan. Sesekali terselip rasa gemas, gregetan karena dia yang tak kunjung peka. Sudah banyak kode-kode yang aku tujukan kepadanya, tapi dianya masih aja cuek.

            Ingin rasanya nelpon atau ngechat dia, dan bilang betapa kangennya aku. Ingin rasanya marah-marah karena dia yang gak pernah menghubungi aku duluan. Ya, tanya kabar gitu. Atau tanya soal kuliah. Atau tanya soal orang rumah. Ingin rasanya aku bertanya, pernah gak sih dia mikirin aku malam-malam seperti aku memikirkan dia? Pernah gak sih dia teringat sama aku ketika melihat atau mendengar suatu hal?

            Mencintai dalam diam itu bikin kesal. Beneran deh! Kadang nih, ada rasa capek, bosen untuk selalu menuliskan kata-kata romantis yang sekiranya mampu mewakili perasaan saat ini. Kata-kata yang berima, halus mendayu-dayu. Phew! Tetep aja dia gak peka.

Sempat juga sih mikir, kok bisa ya aku suka sama dia? I mean, kata orang-orang kalau kita jatuh cinta, dia yang kita suka akan selalu tampak sempurna. Namun nyatanya, aku masih bisa menyebutkan “kurangnya”. Dia yang kurus, jerawatan, cuek (banget), kadang gak jelas, tapi dia suka baca buku, dia penikmat kesenian, lucu, kritis, lihai merangkai kata. Aku gak mau bilang dia ganteng atau keren karena itu relatif.

            Hhh... kalau masih mengedepankan pola pikir “Aku waktu SMA”, hoho... pastinya aku sudah melakukan pendekatan. Aku akan start duluan. Ngontak dia, ngasih perhatian, sok butuh teman curhat. Tapi aku yang sekarang, sepertinya lebih penakut. Atau lebih rasional atau terlalu hati-hati. Karena aku semakin menyadari, kalau soal perasaan itu bukan lagi tentang suka-pedekate-tembak-pacaran. Pandanganku mengenai “asmara” pun mulai berubah. Lebih kompleks. Mungkin karena pengalaman, mungkin juga pengaruh lingkungan. Bisa jadi karena aku mulai menggunakan beragam sudut pandang.

            Yang jelas, aku mungkin gak akan pernah punya keberanian untuk mengungkapkan yang sejujurnya sama dia. Mungkin aku masih menikmati sensasi menjadi seorang secret admirer. Meskipun sekarang aku sudah bisa mengontrolnya. Aku sudah berhenti menengok profil dan unggahan foto-foto di media sosialnya setiap hari. Aku juga sudah menghapus semua potret dirinya yang diam-diam aku simpan. Tapi aku tidak ingin mengatakan bahwa aku mulai membenci dirinya dan mengubur rasa itu dalam-dalam. Tidak.

            Aku hanya ingin menyerahkan semua kepada-Nya. Kepada Dia Sang Pemilik Cinta. Karena cinta sejati yang hakiki hanya milik-Nya.

            Ambil positifnya saja. Mungkin karena hal ini terjadi, aku menjadi semangat untuk menulis lagi. *wink*

  • view 261