Memori

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Memori

           Namanya Arya dan aku sering memanggilnya Mas Arya. Usianya dua tahun di atasku. Meski ia mengaku orang Sunda, namun saat bicara justru aksen Jawa yang lebih terdengar.

            Aku bertemu dengannya pertama kali di Purwokerto, kota kecil yang berada di kaki Gunung Slamet. Kota yang sejuk-cenderung dingin- dan ketika di sana aku lebih sering tertawa. Karena di Purwokerto, rata-rata masyarakatnya bicara dengan aksen ngapak. Sungguh, aku masih geli sendiri saat teringat bagaimana masyarakat Purwokerto bicara ngapak. Namun, aku menjadi lebih mengagumi betapa kaya Indonesia dengan keragamannya. Bahasa, terutama. Tapi, meski berbeda kita tetap satu kan?

            Malam yang cerah, aku baru saja tiba di salah satu sekretariat BEM fakultas di kampus yang ada di Purwokerto. Sekedar meletakkan barang dan bercengkrama dengan teman-teman. Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang teman bicara,

            “Nah ayo kenalan dulu.” Ia menunjuk ke salah seorang laki-laki yang baru saja menghampiriku.

            “Arya,” ucapnya seraya mengulurkan tangan.

            “Oh, ini yang namanya Mas Arya,” ucapku menyambut uluran tangannya dan mengucapkan namaku. Beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Purwokerto, aku pernah mengirimkan sms kepadanya. Karena ia merupakan salah satu panitia kegiatan di sini.

            Setelah perkenalan itu, aku dan Mas Arya tidak pernah berbincang lagi. Ia yang langsung asyik mengobrol dengan panitia lain dan aku yang diajak keluar untuk jalan-jalan. Pun keesokan harinya aku tidak juga bertemu maupun berbicara dengannya. Hanya sesekali kami berpapasan ketika di kampusnya maupun saat di penginapan di Baturaden.

            Komunikasi kami bermula ketika ia menambahkan aku sebagai kontak teman di salah satu aplikasi untuk chatting. Saat itu aku sedang berada di Yogyakarta, menghabiskan malam sebelum esok pulang ke Banjarmasin.

            Semenjak itu, aku dan Mas Arya sering mengirimkan pesan. Aku jadi tahu bahwa saat di Baturaden, Mas Arya ingin mengajakku jalan-jalan, melihat bukit bintang, katanya. Namun ia mengurungkan niatnya karena aku yang asyik berkumpul dan bernyanyi bersama teman-teman yang lain.

            Semakin lama, komunikasi di antara kami berdua semakin intens. Hampir setiap malam, kami bertukar cerita melalui telepon. Mentertawakan kekonyolan yang terjadi di sekitar, menghabiskan berjam-jam lamanya untuk saling melemparkan canda, terkadang hingga dini hari. Bahkan aku tidak lagi sungkan untuk merengek manja dengannya.

            Pernah suatu ketika, selama dua minggu Mas Arya tidak merespon pesan dariku. Tidak mengangkat teleponku. Saat itu, aku tidak tahu apa alasannya. Sepulang dari Kudus, baru aku tahu kenapa. Ia merasa tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Ia ingin mengajakku untuk menjalin hubungan, namun jarak yang memisahkan kami dirasanya tidak memungkinkan. Aku pun menganggap demikian. Kalimantan dan Jawa mungkin dekat jika dilihat dari peta, namun memakan waktu minimal satu jam dengan pesawat terbang. Dan tentunya kita tahu, tiket pesawat tidak semurah tiket kereta api.

            Setelah pengakuan itu, kami kembali bertegur sapa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kami kembali mengobrol melalui telepon. Saling melempar canda dan mengejek, kemudian tertawa geli mengisi heningnya malam. Mungkin orang lain akan mengira ada sesuatu yang spesia di antara kami. Kenyataannya, dia memiliki kekasih dan aku menyimpan rasa pada seseorang. Aku tahu ia menjalin hubungan, sejak pertama kali kami mulai akrab. Dan ia pun tahu aku suka pada seseorang. Namun kami tidak pernah membahasnya. Karena saat kami berbincang, banyak cerita yang lebih menarik untuk disampaikan ketimbang membicarakan hal tersebut.

            Karena itu, terkadang aku merasa telah menjadi perempuan yang jahat. Jelas-jelas aku suka dengan orang lain, kenapa aku harus meladeni ajakannya dalam percakapan yang menghabiskan waktu berjam-jam? Kenapa aku harus mengubunginya ketika merasa bosan atau sedang ingin berbagi cerita. Menceritakan tentang hidupku, berkata-kata manja dan bahkan merengek hingga merajuk.

            Aku siapa? Hanya seorang gadis yang ditemuinya dalam waktu beberapa hari dan ia kenali melalui obrolan chatting dan di telepon. Yang mungkin sedang merindukannya.

*

 

            Dira mengusap wajahnya-mengusap matanya yang terasa panas. Ia teringat beberapa bulan lalu ketika malam semakin larut, ia terkikik geli mendengar lelucon yang diucapkan oleh Arya. Ia bercerita dengan semangat dan heboh mengenai hari yang baru saja dilaluinya. Namun kini, untuk memulai obrolan melalui chatting pun rasanya aneh. Kaku.

            Sebenarnya Dira merindukan kebersamaan yang mereka lalui. Ia merindukan ketika mengobrol di tengah malam. Memang benar kata orang, sebenarnya kita tidak merindukan orang, namun merindukan kenangan bersamanya. Kenangan  yang  sesekali masih menghampiri, membuat rasa rindu semakin menyesak di hatinya.

            Dira menghela napasnya. Mencoba membuang semua perasaan negatif yang dirasakannya. Menata kembali hati dan pikirannya. Masih banyak hal lain yang menjadi fokusnya, menuntut perhatiannya. Dan Dira percaya, semua yang terjadi memang sudah suratan-Nya. Selalu ada alasan dibalik pertemuannya dengan seseorang. Sebab tidak pernah ada kebetulan ketika ia bertemu dengan orang lain, mereka selalu memiliki arti tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

  • view 148