Tentang Media Sosial

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Juni 2016
Tentang Media Sosial

Dimohon ketersediaannya untuk menyisihkan beberapa menit dari waktu anda untuk membaca tulisan ini. Mungkin sedikit agak berat untuk bacaan hari Minggu. Happy weekend :)         

   Pernah gak sih kepikiran, kalau semua yang kita tulis atau post di media sosial akan berbuntut panjang? Pernah gak terlintas dalam benak, kalau apa yang kita bagikan di media sosial akan berdampak besar?

Yaaa... namanya media sosial yah, semua bebas mau menulis atau membagikan apapun. Karena itu bukan dinas sosial. Hahahaha... Tapi, yang namanya energi kan menyebar, baik positif ataupun negatif. Sama halnya dengan isi dari status yang kita tulis atau artikel yang kita bagikan. Kandungan dalam status atau artikel itu, entah disadari atau tidak, menyebar dan mungkin saja akan tertanam di dalam alam bawah sadar.

Masih ingat dengan berita-berita tentang kekerasan seksual yang sempat marak sebulan lalu? Mengutip status dari salah seorang di fesbuk, “Atuh da gimana ya, segala hal mengenai kekerasan seks jadi berita yang populer. Buka wall FB berita-berita yang disajikan : ‘Ternyata Gagang Cangkul Dimasukkan ke Kelamin dalam Keadaan Hidup’ ; ‘Bogor Heboh, Video Mesum Pelajar SMP Menyebar’ ; ‘14 Pemuda Perkosa Janda Muda Bergiliran’ ; ‘Polisi Paksa PSK Berjalan Telanjang di Tengah Kota’ .”

            Dan masih banyak lainnya.  Jujur deh, teman-teman pengguna aktif media sosial pasti pernah menemukan salah satu dari berita-berita tersebut kan? Atau berita lain yang menyangkut kekerasan seks. Walaupun kita melihatnya bukan dari situs resmi, tapi pasti akan tetap muncul karena ada teman kita yang membagikannya di linimasa atau menyukai postingan tersebut.

            Sebenarnya sih, buat aku pribadi, hal itu cukup mengganggu. Berita-berita mengenai kekerasan seks yang disebar dan dibagikan di linimasa. Memang, niat awalnya mungkin baik. Ingin memberitahu para pengguna media sosial untuk lebih aware dengan keadaan sekitar, dengan lingkungannya, dengan keluarga dan terutama dengan dirinya sendiri. Tapi ya, aku merasa tiba-tiba muncul suatu pemikiran yang... yang apa ya? Well, here it is :

            Mungkin gak setiap kali kita membagikan berita mengenai hal yang negatif, justru memicu timbulnya kejadian atau kasus yang lebih negatif? Kekerasan seksual misalnya. Mungkin gak, setiap kita membagikan berita tentang kekerasan seks di media sosial akan menambah kemungkinan munculnya kasus kekerasan seks baru? Apakah dengan kita membagikan, menyukai postingan tentang kekerasan seks atau seks secara umum, justru mendorong orang lain untuk melakukannya setelah membaca postingan tersebut? Sehingga semakin hari kok, semakin banyak pelaku seks yang membuat hati ini miris.

            Siapa yang bisa menduga bahwa postingan di media sosial justru mendorong rasa penasaran mereka yang membaca untuk mencoba? Dan menghapus rasa malu atau takut karena sudah banyak yang melakukannya. Seperti kasus pemerkosaan YY. Masyarakat menilai pelaku sangat kejam dan sadis. Namun, tak berapa lama muncul kasus baru. Kasus pemerkosaan yang meninggalkan gagang cangkul di dalam tubuh seorang wanita. Dan masyarakat menilai itu lebih kejam, lebih sadis dan lebih mengerikan.

            Siapa yang tahu, bahwa di luar sana, para predator seks berlomba-lomba untuk melakukan ‘hal baru’. Hal yang mungkin akan lebih sadis dan di luar ‘kebiasaan’.

            Sama kan seperti kasus korupsi? Si A tertangkap menerima suap sebanyak 100 juta rupiah. Beberapa bulan kemudian, si B menjadi tersangka korupsi uang pembangunan sebesar 1 miliar rupiah. Besoknya, si C diduga menggelapkan uang amal sebanyak 1 triliun rupiah.

            See? Semakin hari, kasus yang ditemukan dan diberitakan semakin fantastis dan mind blowing, dalam makna yang negatif.

Apakah  mungkin media sosial memberi semacam inspirasi, energi baru untuk berbuat lebih? Mereka, para calon pelaku tidak perlu merasa takut atau malu dengan reaksi masyarakat. Karena sudah ada yang pernah melakukannya. Mereka, para pelaku kasus teranyar, hanya mengulang dengan sedikit tambahan kreatifitas. Sebab seseorang pernah berkata padaku, “Cara cepat untuk menjadi sukses, adalah dengan mencontek.”

            Ah, itu mah pelakunya aja yang gak bermoral. Gak beretika dan blablabla...

            Iya, Kak, iya... soal kepribadian dan kecerdasan seseorang, hanya ia dan Tuhan yang tahu. Tapi, mereka mungkin gak akan kepikiran untuk berbuat ‘gila’ jika tidak mendapatkan inspirasi. Darimana datangnya? Yaa dari media sosial. Saat ini, hampir semua orang di dunia pasti memiliki media sosial kan? Minimal fesbuk. Dan seringnya berita-berita atau artikel tentang sesuatu yang kurang baik itu dibagikan dengan viral di fesbuk.

            Loh? Mau membagikan artikel kok dilarang sih? Kan isinya ini penting, biar kita tahu apa yang terjadi di negeri ini.

            Iya, Kak, iya... hanya saja, acara berita di televisi pastilah ikut memberitakan hal-hal yang terjadi di dalam negeri ini kan? Bahkan, kadang-kadang itu sometimes, hehehe... Bahkan, terkadang berita tersebut akan menghiasi layar kaca beberapa kali dalam sehari, dikali tujuh hari dalam seminggu, dikali empat minggu dalam sebulan. Belum lagi di surat kabar. Pastilah menjadi headline atau minimal mendapat kolom tersendiri di bagian depan.  I think, masyarakat sudah pada tahu kok dengan apa yang terjadi di negeri ini.

Kalau gak suka dengan hal-hal yang dibagikan di medsos, ya udah, tutup aja akunnya. Gak usah pake medsos.

Kak, setiap orang punya tujuan masing-masing dalam pembuatan media sosial miliknya. Ada yang untuk relasi, silaturrahmi, mencari pasangan sehidup-semati (baca : jodoh), mencari dan memberi inspirasi. Ingat, bukan hanya kita yang punya media sosial. Bukan hanya kita yang berhak untuk membagikan apapun yang kita mau. Para pengguna lain juga berhak untuk mendapatkan hal-hal positif dari media sosial.

Aku pribadi, kalau ada salah satu akun teman di media sosial yang selalu menulis status marah-marah, memaki dan hal-hal negatif, membagikan artikel-artikel yang aku rasa mengganggu, well, ampun maaf haja nah, langsung aku unfriend, unshare, dan block. Meskipun aku kenal baik dengan orang tersebut. Dan aku juga gak masalah apabila orang lain berbuat demikian dengan akun media sosial milikku. Jika dirasanya, akun media sosial milikku sering membagikan hal yang tidak bermanfaat.

Di sini, aku gak bermaksud untuk menghakimi ataupun menggurui yah. Hanya ingin membagikan opini. Terima kasih untuk kesediaannya membaca tulisanku yang masih jauh dari kesempurnaan.

Kuylah, lebih bijak dalam bersosial media. Agar apa yang kita tuliskan atau bagikan lebih bermanfaat, mampu memberi inspirasi baik untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Semoga akun media sosial milik kita dapat berkontribusi untuk kemajuan dan segala hal positif yang ada di negeri ini.

 

Salam,

ria_setia