Gadis Bekerudung, Pria Berkacamata dan Seorang Kasir

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juni 2016
Gadis Bekerudung, Pria Berkacamata dan Seorang Kasir

            Dia mengangkat cangkir kopinya. Memegang sebentar lalu mendekatkannya ke mulut dan menyesap sedikit minuman yang masih mengepulkan kabut putih. Semua ia lakukan tanpa memindahkan perhatiannya dari layar laptop yang sejak setengah jam lalu dinyalakannya.

            Sesekali ia tersenyum bahkan terkekeh kecil hingga menambah volume pipinya yang sudah tembam. Memaksa kedua sudut matanya mengerut dan menenggelamkan sepasang matanya yang menawan. Membuatku penasaran dengan apa yang ditampilkan laptopnya.

            Di telinganya terpasang earphone. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk, ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai kedai kopi. Tampak asyik sekali. Membuat rasa ingin tahuku membesar. Musik apa yang sedang didengarkan sampai membuatnya tidak menghiraukan pengunjung lain yang sibuk berceloteh berbagai hal.

            Ah, atau hanya diriku yang terlalu peduli dengan keadaan sekitar. Atau hanya aku yang sedari tadi seolah asyik mengetik sesuatu di laptop tapi pikiranku sedang berkelana. Mengelilingi kedai kopi yang siang ini agak sepi.

            Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke kedai kopi faforitku. Menikmati segelas frappeblend, sebab matahari sedang bersinar terik. Mungkin karena sekarang sudah memasuki bulan Juni. Sejak Februari, kedai kopi ini menjadi tempat faforitku untuk menikmati secangkir kopi sambil mencari jurnal online-karena kecepatan wi-fi yang memuaskan- atau membaca sebuah novel. Selain itu suasana yang tenang, menambah kenyamanan kedai kopi ini. Oh ya, barista di sini juga senang memutar lagu-lagu milik Tulus, penyanyi idolaku.

            Dan sekarang, aku duduk di sofa yang terletak di salah satu sudut ruangan, pojok kesukaanku. Memainkan laptop seraya mendengarkan lagu Satu Hari di Bulan Juni milik Tulus yang menggema di sudut ruangan. Sesekali aku tersenyum simpul mendengar percakapan empat wanita -sepertinya para sosialita- yang duduk tak jauh dariku.

            Di sisi lain-dekat jendela besar- duduk tiga orang lelaki yang kutaksir berumur 40an, masing-masing menikmati kopi hitam. Membicarakan soal sepakbola dan memancing. Entahlah, aku pun tidak mengerti di mana benang merah antara sepakbola dan memancing.

            “Selamat datang! Silakan mau pesan apa?” Suara kasir terdengar menyapa seorang pengunjung yang baru saja tiba. Aku menoleh. Seorang pria tinggi berisi, berkacamata, sedang membolak-balikkan buku menu.

            Pria yang tampan.

            Aku memperhatikannya. Mengamati gerak-geriknya yang santai. Suaranya yang berwibawa terdengar samar di telingaku. Setelah menerima sejumlah kembalian, ia berjalan menuju sofa kosong yang terletak lima langkah dari tempatku. Lalu pria itu duduk, mengeluarkan laptop dan mulai mengetikkan sesuatu. Ia memasang earphone yang sudah tersambung di smartphone miliknya. Hei hei! Apa ia tidak suka dengan lagu yang diputar di sini?

            Entah mengapa, kegiatan yang kulakukan sebelumnya menjadi tidak menarik. Aku lebih tertarik untuk menatap pria itu. Beragam suara bermunculan di kepalaku.

            Hmm... ia memang berniat untuk menghabiskan waktu di sini seorang diri. Karena sejak tadi kuperhatikan ia tidak mengecek jam tangannya. Atau mengecek smartphone-nya yang tergeletak di meja. Kemungkinan besar, ia tidak ada janji atau tidak sedang menunggu seseorang.

            Aku mengulum senyum. Sebenarnya untuk apa aku memperhatikannya. Menduga-duga bahwa ia sedang tidak menunggu seseorang. Duh, kebiasaanku muncul. Kebiasaanku semenjak menjadi mahasiswa psikologi.

Mungkin orang lain tidak tahu. Menjadi seorang mahasiswa psikologi tidak hanya berkutat dengan ‘orang gila’. Kami, mempelajari lebih dari itu. Dan percaya atau tidak, semakin tinggi semester yang kamu jalani, semakin kuat kepekaan kamu. Semakin terlatih kemampuan menduga. Semakin akurat ‘telepati’ antar sesama mahasiswa psikologi. Jangan lupa, semakin besar pula rasa ingin tahu kamu. Hahahaha...

            Berjam-jam lamanya ia memandang layar laptop. Selama itu pula, aku terus memperhatikan pria berkacamata itu. Tentu saja dengan berpura-pura asyik mengetik laptop dan menampilkan ekspresi serius. Agar tidak terlalu kentara bahwa aku sedang mengamati seseorang. Hingga waktu menunjukkan pukul lima sore, aku memutuskan untuk pulang. Ketika aku berdiri, dari sudut mata aku bisa melihat ia sedang memasukkan laptopnya ke dalam ransel.

*

 

            Sambil duduk bersandar, dia tampak serius membaca novel yang dipegangnya. Saking seriusnya, cafe mocha yang tadi ia pesan belum juga disentuh. Aku menduga minuman itu sudah tidak lagi panas  sejak beberapa menit yang lalu.

            Ini kali kedua aku bertemu dengannya di kedai kopi ini. Gadis berkerudung yang memiliki alis tebal. Setelah minggu lalu aku mencoba untuk ke sini--untuk mengedit foto pesanan klien dan melihat gadis itu untuk pertama kali, sekarang kami kembali bertemu. Entah ini sebuah kebetulan.

            Kala itu, ketika aku ke kedai kopi ini, aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku. Memandangku cukup lama. Ketika aku mengangkat wajah dari layar laptop dan mengedarkan pandangan, aku baru menyadari keadaan kedai yang cenderung sepi. Hanya ada empat orang wanita dan tiga orang laki-laki berumur yang heboh bercerita. Aku mengacuhkan mereka. Bukan kebiasaanku untuk mencari tahu hal yang bukan urusanku. Toh selama hal itu tidak menggangguku, aku memilih untuk mengacuhkannya.

            Namun, ada seorang gadis yang duduk di sudut tak jauh dari tempat dudukku. Gadis itu tampak serius menatap laptopnya. Sesekali ia mengulum senyum. Minuman yang dipesannya sudah hampir habis, tapi ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari sini. Aku mengedikkan bahu lalu kembali asyik dengan laptopku.

            Dan hari ini, aku yang sebenarnya sedang suntuk di rumah, memutuskan untuk pergi. Kedai kopi ini menjadi tujuan setelah sebelumnya berputar-putar tidak keruan. Aku memesan segelas frappeblend dan duduk di sofa yang sama dengan minggu lalu. Aku mengeluarkan novel detektif yang sedang berusaha untuk aku tamatkan. Ukurannya yang lumayan tebal, memaksaku untuk menghabiskan waktu lebih dari seminggu.

            Kedai kopi sangat sepi. Hanya ada aku dan sepasang muda-mudi yang sepertinya sedang menjalin hubungan duduk bersebelahan. Tampak si perempuan bersandar di bahu si pria. Remaja zaman sekarang! Ucapku dalam hati.

            “Selamat datang! Silakan mau pesan apa?” Suara kasir yang menyapa seorang pengunjung, membuatku menoleh ke belakang. Dia datang! Gadis minggu lalu yang memperhatikanku. Hei, bukannya aku ge-er, tapi setelah aku tiba di rumah dan memikirkannya, hanya gadis ini yang memenuhi syarat untuk menjadi tersangka utama. Sebab, keempat wanita dan tiga orang laki-laki itu asyik mengobrol dengan temannya. Kasir? Well, kasir memang sempat ku jadikan tersangka, namun hal itu ku rasa mustahil. Posisiku yang membelakangi pintu masuk, tentunya membuat kasir kesulitan untuk mengamatiku.

            Kagum dengan analisaku? Hahaha... meski pekerjaanku hanya sebagai fotografer lepas, namun kegemaranku membaca novel detektif membuatku terlatih untuk menganalisa sesuatu. Jadi aku yakin-seratus persen yakin- bahwa gadis ini yang minggu lalu mengamatiku diam-diam.

            Sambil membaca, aku mendengar ia memesan cafe mocha dan meminta latteart-nya berbentuk panda. Aku tersenyum kecil. Namun ketika kasir mengatakan bahwa barista yang biasa membuat latteart sesuai pesanan pembeli belum datang, suara gadis itu yang mulanya semangat menjadi kecewa.

            “Ya udah deh gak papa yang biasa aja,” ucapnya.

            Dengan sudut mata, aku menangkap gerakannya yang berjalan menuju sofa di sudut-posisinya minggu lalu- kemudian ia mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan mulai membaca.

            Aku bergerak, mengatur posisi duduk agak menyerong agar aku bisa memperhatikannya. Tentu saja dengan pura-pura asyik membaca.

            Gadis yang manis.

            Baru kali ini aku memperhatikan seseorang. Mengamati gerak-gerik seseorang yang sebelumnya jarang-jika boleh dikatakan tidak pernah kulakukan sebelumnya. Tapi kali ini berbeda. Mungkin karena rasa penasaran. Aku menatapnya cukup lama. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, pipinya yang chubby. Amboi! Ada lesung pipit di pipi sebelah kanan ketika ia tersenyum.

            Menit demi menit berlalu. Entah sudah berapa lama aku memperhatikan gadis berkerudung itu sambil pura-pura membaca novel yang halamannya tidak pernah aku balik. Aku tersenyum sendiri. Ternyata memperhatikan orang lain secara diam-diam asyik juga.

            Getaran smartphone mengejutkanku. Ada sebuah pesan dari sahabatku. Katanya ia ingin ke rumahku. Aku memutuskan untuk pulang. Menghabiskan minumanku dan beranjak. Saat aku hendak melangkah menuju pintu, sempat ku lihat gadis itu memasukkan novel ke dalam tas selempangnya.

**

 

            Aku melihat-lihat judul lagu yang terpampang di aplikasi pemutar musik. Lalu memilih lagu Gajah. Suara Tulus mulai memenuhi sudut ruangan kedai kopi tempatku bekerja.

            “Lagu Tulus melulu ah!” terdengar suara protes dari kawanku, salah seorang barista di sini. Aku hanya tersenyum.

            Aku berdiri di belakang mesin kasir, memandang sekeliling. Sepi banget hari ini ya. Belum ada seorangpun pengunjung yang datang. Padahal kedai sudah buka sejam yang lalu.

            Aku beranjak, mengambil lap dan cairan pembersih. Membersihkan meja-meja untuk kedua kalinya. Aku tertawa getir. Teringat dengan ucapan kawanku yang mengatakan bahwa aku pengidap obsessive compulsive disorder karena suka membersihkan sesuatu berkali-kali.

            Aku menoleh ke arah pintu masuk. Belum ada tanda-tanda kedatangan pengunjung. Lalu aku duduk di salah satu kursi di tengah ruangan. Mataku melihat sofa di sudut sebelah kanan lantas beralih ke sudut sebelah kiri. Seperti ada yang menekan tombol rewind, memoriku berputar kembali ke beberapa bulan yang lalu.

            Waktu itu bulan Juni, suasana kedai kopi cukup ramai dengan adanya empat orang wanita dan tiga laki-laki yang sepertinya sudah berumur, sedang asyik berbicara. Terkadang suara tawa menggema, mengalahkan suara Tulus yang keluar dari speaker. Seorang gadis berkerudung duduk di sudut, berseberangan dengan seorang pria berkacamata. Keduanya asyik menatap layar laptop. Dan ketika aku menoleh, aku melihat gadis itu sedang memperhatikan si pria berkacamata. Sesekali gadis itu mengulum senyum. Sementara si pria berkacamata tampak asyik dengan laptopnya. Di telinganya terpasang earphone. Posisinya yang agak membelakangiku, menyulitkanku untuk melihat wajahnya.

            Sepertinya si gadis berkerudung suka dengan si pria berkacamata. Aku hanya mengangkat bahu lalu melangkah menuju meja yang baru saja ditinggalkan tiga orang laki-laki.

Jam demi jam terlewati. Pengunjung datang dan pergi. Namun, gadis berkerudung dan pria berkacamata masih di sini. Di tempatnya masing-masing. Masih sama-sama menatap layar laptop, walau ku tahu, si gadis berkerudung, sesekali mengamati pria berkacamata.

Hingga pukul lima sore, si gadis berkerudung memutuskan untuk pergi. Disusul pria berkacamata tak lama kemudian.

Minggu berikutnya, si pria berkacamata datang ke sini. Seorang diri seperti minggu lalu. Memesan minuman dingin dan duduk di sofa yang terletak di sudut. Persis seperti minggu lalu.

Setengah jam kemudian, si gadis berkerudung juga datang. Aku mengerutkan kening. Apa mereka janjian untuk bertemu? Tapi sedari tadi aku perhatikan si pria berkacamata tampak sibuk dengan buku di tangannya.

Si gadis berkerudung kali ini memesan hot cafe mocha dan meminta latteart-nya dibentuk panda. Namun, karena sahabatku, barista di sini belum datang, jadilah aku meminta maaf dan merasa tidak enak. Ia hanya tersenyum maklum dan syukurlah mau mengerti. Setelah menerima kembalian, gadis itu duduk di sofa—berseberangan dengan pria berkacamata. Saat aku mengantarkan pesanan, ku lihat gadis berkerudung itu sedang asyik membaca novel.

Hei! Mereka sama-sama baca novel. Apakah ini kebetulan? Aku bertanya-tanya dalam hati saat berjalan ke mesin kasir.

Dan mataku menangkap basah si pria berkacamata sedang memperhatikan gadis berkerudung dari balik novel yang dipegangnya. Lantas aku beralih menatap si gadis berkerudung. Ia asyik membaca novelnya. Seolah tidak ada hal lain yang menarik untuk dilihat. Seakan-akan ia sungguh tenggelam dalam bacaannya.

Secara bergantian aku menatap ke arah pria berkacamata, lalu beralih ke gadis berkerudung. Apa yang sedang lakukan, persis seperti minggu lalu. Bedanya, kali ini si pria berkacamata yang mengamati sambil berpura-pura membaca buku dan si gadis berkerudung yang tidak peduli dengan keadaan sekitar.

Apa si pria berkacamata juga tertarik dengan si gadis berkerudung? Aku mengerutkan kening lalu tersenyum geli. Aneh. Kalau memang tertarik satu sama lain kenapa gak mulai menyapa aja sih? Atau kalau malu, aku bersedia untuk menyampaikan salam.

Waktu terus bergulir. Aku sedang melayani tiga remaja tanggung ketika si pria berkacamata beranjak pergi. Tak lama, si gadis berkerudung menyusul.

Setahun sudah berlalu dan aku tidak pernah lagi melihat si gadis berkerudung atau pria berkacamata itu datang. Aku bertanya-tanya, bagaimana kabar mereka. Apa masih suka mengamati diam-diam? Apa mereka akhirnya bisa berkenalan? Atau malah mereka tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu?

Aku beranjak untuk mengembalikan lap dan cairan pembersih ke tempatnya. Terdengar pintu dibuka dan suara langkah kaki. Aha! Akhirnya ada pengunjung.

Dengan cepat aku berbalik. “Selamat datang!” Ucapanku terhenti ketika melihat siapa yang datang. Dua orang yang baru saja aku pikirkan. Si pria berkacamata dan si gadis berkerudung. Mereka datang bersamaan. Si gadis berkerudung menggamit lengan kiri si pria berkacamata. Raut wajah mereka terlihat bahagia. Dan aku melihat cincin putih melingkar di jari manis mereka masing-masing.

Aku tersenyum lebar. “Silakan mau pesan apa?”

***

 

  • view 392