Do What You Love and Love What You Do

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Do What You Love and Love What You Do

Tulisan ini dibuat pada tanggal 24 Januari 2016. :)

Sebuah ide tiba-tiba muncul malam ini. Mungkin boleh dikatakan sebagai pemikiran. Hehe... izinkan saya untuk bercerita. Percayalah, itu judul lagunya Afgan feautring Raisa. Hahaha... bercanda. Percayalah, aku pandai dalam bercerita.

??????????? Oke, jadi ceritanya, barusan aku menonton film 3 Idiots. Yeap, film India yang sudah pernah aku tonton beberapa kali. Film yang menjadi favoritku dan hampir selalu aku tonton di waktu semester 2 hingga semester 3 atau 4. Tak perlulah aku ceritakan bagaimana jalan ceritanya. Tak perlu jua aku sebutkan siapa saja nama pemerannya beserta karakter yang mereka mainkan.

??????????? Lucunya, tiba-tiba (demen banget ye nulis tiba-tiba, hehe) aku jadi ingat ketika masih SMA, waktu masih menjadi siswa di bimbel SSC. Mister Herlambang (sengaja menyebut ?Mister? biar keren dan kece), tentor yang juga menjabat sebagai manager cabang Banjarmasin, seringkali memutarkan cuplikan adegan di film 3 Idiots ini. Beliau senang mengutip kata-kata mutiara yang ada di film tersebut. ?Aal Izz Well? dan lainnya. Oh, beliau juga mengajarkan kami untuk membuat anchor. Lebih lanjut mengenai anchor, tanya beliau aja ye. Hihihi...

??????????? Well, sebenarnya ada alasan lain mengapa beliau senang mengutip kata-kata mutiara tersebut, mengajarkan kami untuk berani mengambil resiko, keluar dari zona aman dan yang terpenting adalah melakukan dengan sepenuh hati hal-hal yang memang kita sukai, yang kita senangi dan cintai. Istilah lainnya hobi, atau passion. Kalau bisa, jadikanlah hobi tersebut sebagai pekerjaan kita. Karena ketika itu kami, siswa kelas XII sedang galau. Iya, galau memilih jurusan kuliah nantinya.

Semisal kita senang menggambar, ya kita kuliah di jurusan yang banyak menggambarnya. Arsitek mungkin atau desain. Kalau kita senang menolong orang, bisa saja kita kuliah di keperawatan atau kedokteran. Yang senang mengamati manusia, kepo, ya kuliahnya di psikologi. Hehe...

??????????? Aku masih ingat. Waktu itu aku ingin kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), karena aku ingin belajar lebih dalam tentang teater. Ya, ketika SMA, aku aktif di ekskul teater. Namun, karena tidak diberi izin oleh orangtua, akhirnya keinginan untuk kuliah di sana, harus aku hentikan. Dan aku memilih kuliah di psikologi.

??????????? Awal masuk kuliah, Mister Herlambang pernah bertanya, ?Bagaimana rasanya kuliah di Psikologi? Menikmati??

??????????? Aku tersenyum dan menjawab, ?Ya, saya menikmati.? In fact, aku mencintai psikologi. Aku senang mengamati perilaku manusia, perkembangan manusia, dan segalanya tentang manusia. Aku mulai merasa psikologi memang passion-ku semenjak semester satu dan sampai saat ini hal ini masih bertahan. Menurutku, ada keterkaitan antara psikologi dengan teater.

Di psikologi kita mempelajari perilaku manusia, mengapa orang berperilaku seperti itu, bagaimana lingkungan mempengaruhinya. Nah, hal itu bisa menjadi referensi kita dalam mendalami suatu peran di teater. Sering kali, ketika hendak memerankan suatu karakter, kita akan melakukan observasi atau mencari referensi mengenai karakter itu. Gimana sih perilaku orang yang sedang frustasi? Gimana sih tingkah laku orang yang tinggal di lingkungan padat penduduk? Nah, hal itu dipelajari di psikologi dan kita perankan di teater.

??????????? Yang jelas, aku mencintai psikologi seperti aku mencintai teater.

Di bangku kuliah, aku menemukan passion baru. Organisasi. Entah doktrin dari mana dan siapa, aku percaya bahwa kuliah bukan sekedar duduk di dalam kelas. Tapi harus mengabdikan diri demi pengalaman dan kemampuan lainnya. Karena ketika lulus dan wawancara kerja, bukan IPK yang dipertanyakan, tapi pengalaman dan kemampuan kita. Selain itu, dengan ikut organisasi kita bisa bertemu dengan orang baru, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan memiliki teman di luar daerah, di seluruh Indonesia. Siapa yang tahu jodoh kita ada di antara mereka. Hahaha...

??????????? Ya, sejak semester dua, aku telah aktif di Himpunan Mahasiswa. Beranjak semester enam, aku aktif sebagai pengurus ILMPI. Sebenarnya, aku juga pernah menjadi pengurus di beberapa organisasi lain, namun bisa dikatakan tidak maksimal. Sulit bagiku untuk membagi fokus. Semua itu telah menjadi pembelajaran bagiku. Jangan kemaruk.

??????????? Menginjak semester tujuh, demisioner dari organisasi, kuliah sudah tidak terlalu padat, aku menikmati hobi baru. Well, sebenarnya bukan baru sih. Hobi lama yang dilanjutkan kembali. Menulis.

??????????? Aku memang suka membaca. Bacaanku waktu kecil adalah komik dan majalah Bobo, bacaan semua anak generasi 90-an. Hehe... beranjak SMP, aku mulai membaca majalah remaja, teenlit, juga beberapa novel. Hobi membaca ini terus berlanjut sampai sekarang. Mungkin karena aku senang membaca, aku jadi senang menulis juga.

Sejak SD aku senang menulis. Puisi, cerita yang tidak pernah selesai. Bisa dikatakan aku memiliki prestasi dalam bidang menulis. Juara 1 lomba Bahasa Indonesia se-Kecamatan, Juara 1 Lomba Cipta Puisi FLS2N se-Kota Banjarmasin waktu SMA, dan beberapa tulisanku pernah dimuat di koran. Untuk rubrik Kampusiana yang memperkenalkan Prodi Psikologi Unlam. Oh iya, aku juga terpilih sebagai kontributor dalam event dari penerbit indie dan cerpenku diterbitkan bersama kontributor lainnya.

Beberapa kali, aku mendapat komentar positif ketika mempublikasikan tulisan di media sosial. Ada pula yang menyarankan untuk membuat novel. Entahlah, masih belum terpikirkan sejauh itu. Sebenarnya, banyak sekali tulisan yang tersimpan di laptopku. Namun, karena harus diinstal ulang, semua tulisan, puisi, cerpen, karyaku yang ada sejak tahun 2011, hilang tanpa jejak. Apa yang bisa ku perbuat? Hanya tertawa (padahal dalam hati nangis). Aku malah bersyukur karena data kuliah dan organisasiku masih tersimpan dengan baik. Ah, aku jadi dapat pemikiran, bahwa Tuhan memintaku untuk menulis lebih banyak dan lebih baik lagi dari karyaku sebelumnya.

Lalu? Apa hubungan antara tulisanku ini dengan film 3 Idiots yang barusan ditonton? Hehe... entah, aku pun bingung. Aku hanya ingin menulis. Itu saja. Mungkin ada beberapa hal yang bisa kita petik dari film tersebut.

Kita harus melakukan apa yang kita cintai dengan sepenuh hati. Kita harus berani mengambil resiko demi hal yang menurut kita akan baik dan bermanfaat bagi diri sendiri serta orang lain. Karena, ketika kita melakukan apa yang kita cintai sepenuh hati, hasilnya akan maksimal. Kita akan merasa nyaman dan tidak akan merasakan tekanan. Ah, kata-kata itu yang sering diucapkan Mister Herlambang untuk meyakinkan kami. Jadi kangen. Hihihi...

Penting bagi kita untuk mengetahui dan menyadari apa sesungguhnya hal yang kita senangi. Hal yang kita cintai. Agar semuanya berjalan maksimal. Tidak ada kata terlambat kok untuk mulai mencari tahu dan mendalami passion kita. Passion mengandung 3 makna, yaitu : Sesuatu yang kita suka mengerjakannya (enjoy), sesuatu yang membuat kita merasa berdaya (empower) dan berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik kita, dan sesuatu yang membuat kita merasa bermakna (meaningful) saat mengerjakannya. (Aku kutip dari tulisannya Arry Rahman, Founder Cerdas Mulia Institute)

Bagaimana dengan diriku? Aku cinta psikologi dan siap meraih gelar S.Psi. Dalam hal berorganisasi, sebenarnya yang aku cintai adalah bertemu dengan orang-orang baru, menambah pengalaman dan keterampilan baru, menguji diriku sampai batas akhir dan terus mendorongnya. Menulis? Sedang berusaha untuk meningkatkannya. Bahkan di salah satu resolusi tahun 2016 adalah, menambah waktu untuk membaca, memperbanyak bahan bacaan, karena kata sahabatku, jika kita hendak menuliskan satu paragraf, kita harus menyelesaikan satu buku. Ow, mengikuti seminar kepenulisan juga termasuk dalam resolusi tahun 2016 loh, ?dan tentunya menerbitkan sebuah karya yang disebut dengan skripsi.

Siapa tahu aku bisa jadi seorang psikolog sekaligus penulis novel terkenal, menghasilkan karya yang bermanfaat untuk masyarakat. Semoga.

Ini passion-ku. Bagaimana dengan kamu?

?

Salam,

?

Ria Setiani Hayatunnufus

  • view 116