Jomblo Produktif

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 April 2016
Jomblo Produktif

Nadhira mematikan televisi yang menayangkan berita siang. Dilemparkannya remote ke atas sofa, lalu beranjak mengambil smartphone miliknya. Membuka aplikasi Instagram.

            “Loh? Dhea punya pacar baru lagi?” ucap Nadhira pada dirinya sendiri. Dhea, teman kampusnya, walaupun berbeda program studi, namun semua orang sepertinya mengenal gadis itu. Cantik, putih, ramah, dan sering menguggah foto-foto dirinya bersama laki-laki. Menurut cerita dari teman-temannya, Dhea senang gonta-ganti pacar.

            Pacar? Nadhira terdiam sesaat. Sewaktu SMA, dirinya memang pernah pacaran. Bahkan Nadhira termasuk golongan yang ‘awet’ dalam berpacaran. Hampir dua tahun ia menjalani hubungan dengan pacarnya waktu itu. Mungkin karena usia pacarnya yang lima tahun lebih tua, sehingga bisa memaklumi sifat manja Nadhira yang anak bungsu.

            Awalnya, Nadhira bahagia menjalani hubungan yang disebut sebagai pacaran. Namun, seiring waktu, ia merasa bahwa pacarnya semakin posesif. Membatasi geraknya untuk aktif di berbagai organisasi. Belum lagi perasaan tidak nyaman yang entah kenapa, sering dirasakannya. Pacaran itu dosa. Bukan muhrim tidak boleh berduaan, nanti yang ketiga setan. Pacarannya nanti saja setelah nikah. Kalimat-kalimat itu sering sekali berputar di kepalanya. Sehingga, Nadhira mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya.

            Meskipun waktu baru putus, Nadhira masih perlu melakukan adaptasi. Seperti tidak ada lagi rutinitas telpon tiap malam, jalan-jalan tiap malam minggu, dan ada rasa galau yang kadang-kadang iseng menghampirinya. Namun, perlahan Nadhira mulai menikmati kesendiriannya.

            Pernah suatu ketika, sahabatnya, Keara yang sering dipanggil Key, iseng bertanya kepada Nadhira.

            “Ra, sudah satu tahun lebih ya, kamu menjomblo,” ucap Keara.

            Nadhira menatap Keara lantas mengangguk. “Iya. Alhamdulillah,” sahutnya.

            “Alhamdulillah?” Keara mengerutkan keningnya. “Kok Alhamdulillah, sih?”

            Nadhira tersenyum. “Iya, Alhamdulillah. Karena Allah menjaga aku dari pacaran, dari perbuatan zina, menjadikan aku hamba yang lebih dekat kepada-Nya dan aku jadi lebih bersyukur,” jawab Nadhira.

            “Kok bisa? Memangnya selama setahun menjomblo, kamu gak galau?”

            Nadhira menyimpan tulisan yang sedang diketiknya di laptop sebelum kembali berbicara kepada Keara “Terkadang sih ada galau yang iseng datang. Tapi, aku memilih untuk menyibukkan diri. Dengan ikut organisasi, bertemu dengan orang-orang baru, belajar hal baru, lebih fokus ke kuliah, dan selama aku sendiri, aku jadi lebih banyak waktu untuk membaca dan menulis. Oh iya, lebih banyak uang untuk beli buku juga,” jawabnya.

            Keara tampak serius mendengarkannya.

            “Selain itu, aku jadi lebih sering berdo’a kepada Allah. Do’a untuk diri sendiri, keluarga, studi, karir, juga jodoh di masa depan nantinya.”

            “Jodoh?”

            Nadhira mengangguk. “Aku sadar, Key, cinta di usia 20 itu bukan lagi soal aku dan kamu, tapi soal keluargaku dan keluargamu. Cinta di usia 20 itu bukan lagi soal memberi dan menerima, melainkan soal selalu memberi tanpa mengharapkan apapun. Dan cinta di usia 20 tahun sudah bukan waktunya untuk main-main, untuk pacaran. Tapi siap berkomitmen menuju pelaminan.”

            Keara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terus selama kamu sendiri, kamu pernah gak merasa ingin pacaran lagi?” tanyanya.

            “Pernah. Tapi, ku pikir-pikir, bedanya pacaran sama temanan biasa itu apa sih? Toh, cuma status kita doang kan yang berubah? Dari jomblo jadi punya pacar. Awalnya single terus jadi taken. Tapi kalau putus ya jadi single lagi. Hehehe...” jawab Nadhira. “Hmm... jujur aja ya, Key, pandanganku soal pacaran sekarang sudah berubah. Aku memandang pacaran itu buang waktu, buang energi, buang uang juga. Buang waktu untuk seseorang yang belum tentu jadi pendamping hidup kita selamanya. Buang energi untuk menjaga perasaan, belum lagi kalau dia orang yang pencemburu atau mungkin malah kita yang pencemburu. Akhirnya, kita jadi orang yang posesif, kepikiran pacar terus. Bikin sakit hati, bikin galau, menangis tanpa sebab. Duh, gak produktif. Buang uang untuk beli kado, kadang-kadang gantian bayarin makan, belum lagi pengeluaran wajib tiap malam minggu.

            “Kan lebih baik kita menikmati kesendirian kita. Jadi pribadi yang lebih produktif. Ikut berbagai kegiatan, aktif di organisasi, jadi relawan. Bergabung dalam lingkungan baru, bertemu orang-orang baru. Kamu tau gak, Key? Semenjak ikut organisasi, aku jadi sering pergi ke luar kota, ikut acara nasional, ketemu mahasiswa-mahasiswi dari seluruh Indonesia. Diskusi, sharing bareng mereka. Terkadang juga ketemu sama orang-orang yang kurang beruntung, tapi mereka tetap semangat dan yakin dengan kuasa Allah. Bahwa Allah tidak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Karena itu aku jadi lebih bersyukur, Key. Coba deh kamu bayangkan, seandainya aku masih pacaran, mungkin aku gak akan ikut organisasi dan kehilangan kesempatan untuk bertemu mahasiswa dari luar Kalimantan. Gak bisa memperluas jaringan pertemanan aku. Malahan mungkin saja aku jadi pribadi yang gak berkembang karena terjebak di lingkungan yang itu-itu saja.”

            “Iya sih, Ra. Semenjak kamu aktif di organisasi, kamu berubah. Kamu jadi lebih santai, lebih bisa mengontrol emosi kamu, kamu juga jadi lebih bijak dan asyiknya banget buat diajak diskusi,” puji Keara.

            “Terima kasih,” ucap Nadhira.

            “Kamu juga jadi lebih sering mengingatkan untuk sholat di awal waktu. Membaca Al-Qur’an setiap selesai sholat maghrib, sedekah tiap bulan, puasa senin kamis.”

“Ya... aku mau memperbaiki diri aku, Key. Memantaskan diri untuk jodohku kelak,” jawab Nadhira.

“Dan aku lihat, kamu jadi punya banyak waktu untuk menulis. Buktinya, setiap minggu tulisan kamu ditempel di mading. Belum lagi followers di blog kamu makin banyak, Ra,” kata Keara.

“Iya nih, Key. Alhamdulillah, sekarang aku jadi punya banyak waktu buat nulis. Buat ikut seminar kepenulisan juga,” kata Nadhira.

“Gimana novel kamu? Udah dikirim ke penerbit kan?”

Nadhira mengangguk.

“Semoga kita jadi hamba yang selalu dijauhkan dari perbuatan maksiat ya, Ra. Jadi pribadi yang lebih baik lagi, yang lebih produktif,” kata Keara setelah terdiam sesaat.

            “Dan lebih bermanfaat untuk sesama,” sambung Nadhira.

            “Oh iya, semoga kita mendapat jodoh yang seiman, mapan, tampan dan menawan. Hehehe... yang mampu membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik.”

            “Siap menerima segala kekurangan dan kelebihan kita serta bersedia untuk melengkapi apa adanya diri kita.”

            “Aamiin...” Nadhira dan Keara sama-sama menangkupkan tangan ke wajah masing-masing lantas tertawa.

*

            Nadhira tersenyum sendiri mengingat percakapannya dengan Keara beberapa hari yang lalu. Jadi jomblo bukan berarti kita harus galau, merasa menjadi manusia paling malang sedunia.

            Namun, jadi jomblo itu artinya kita punya banyak waktu untuk Tuhan, diri sendiri, keluarga, studi, dan karir. Banyak waktu untuk melakukan hal-hal bermanfaat yang bisa menjadikan kita lebih berkembang dan pribadi yang lebih banyak bersyukur. Menekuni hobi, melakukan hal-hal baru, dan selalu menyebarkan energi positif untuk lingkungan. Jadi jomblo yang produktif, itu ucapan Keara untuk menyemangati dirinya sendiri.

            PING!

            Nadhira menatap smartphone-nya. Sebuah pesan masuk dari Kak Iis, editor novelnya dari salah satu penerbit.

            “Dear Nadhira, naskah kamu sudah selesai proses editing. Sekarang lagi proses cetak. Tunggu kabar selanjutnya dari kami ya. Selamat untuk karya kamu yang akan dijual di toko buku di seluruh Indonesia. Yeaayyy!!! Selamat, selamat, selamat! Tetap semangat menulis ya!”

            Nadhira tersenyum bahagia membacanya. Alhamdulillah, keinginannya untuk menulis buku dan diterbitkan telah terlaksana. Menjadi jomblo, menjadikannya lebih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri menyambut kesempatan yang ada. Nadhira percaya, keberuntungan itu adalah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan.

***


  • Anis 
    Anis 
    2 tahun yang lalu.
    nama Keara ngingetin pada tokoh di novel JODOH punya Pak Fahd
    jomblo tidak selamanya ngenes mbak, ada juga yang jones: jomblo happiness

    • Lihat 6 Respon