Untitled

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Untitled

     Mungkinkah kita berjodoh meskipun perbedaan yang terbentang diantara kita berdua sungguh besar? Dapatkah perbedaan dipersatukan dalam ikatan suci nan sakral? Jika memang tak berjodoh, lantas mengapa dipertemukan? Apa hanya untuk dipisahkan kembali?

 ~~~

1 Maret.

            “Selamat malam! Selamat datang di Coffee Toffee!” Sapaan dari karyawan kafe terdengar ketika Tian memasukinya.

            “Halo, selamat malam. Dengan Andra, sebagai kasir anda malam ini.” sapa seorang lelaki yang mengenakan baju hitam dan celemek berwarna kuning cerah-sama seperti yang dikenakan karyawan lainnya-dari belakang meja kasir.

            “Selamat malam, Kak Andra.”

“Pesanan atas nama Tian kan?” tanya Andra. Tian mengangguk. Ini kunjungannya yang ketiga kali ke kafe ini. “Mau pesan apa?”

Cappuccino satu ya,” jawab Tian.

            “Yang hot atau ice?” tanya Andra.

            “Yang hot aja,” putus Tian. “Oh iya, bisa gak kalau latteart-nya bentuk panda?”

            “Panda?” Andra berpikir sejenak. Lalu ia bertanya kepada salah seorang barista di sampingnya. “Gie, bisa gak?”

            “Dicoba dulu ya. Kalau jelek, harap maklum,” ucapnya.

            Tian tersenyum. “Iya, Kak. Gak papa kok.”

            “Hot cappuccino-nya satu. Ada lagi?” tanya Andra.

            “Itu dulu aja deh.”

            “Totalnya dua puluh tujuh ribu lima ratus.”

            Tian menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.

            “Oke. Nanti pesanannya diantar ya,” ucap Andra seraya menyerahkan kembalian kepada Tian.

            Tian mengangguk. “Password wi-fi-nya masih yang kemarin kan?”

            “Iya. Masih toraja kalosi. Huruf kecil semua, gak pake spasi.”

            “Oke deh. Makasih ya,” kata Tian. Lalu gadis itu memilih untuk duduk di meja panjang yang di setiap sudutnya terpasang stop kontak. Ia mengeluarkan laptopnya dari dalam ransel dan mulai mengetikkan sesuatu.

            “Silakan, hot cappuccino-nya.”

            Tian mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Senyuman terbit dari bibirnya. “Waaahhh... pandanya lucu. Makasih ya,” ucap Tian, menatap barista yang mengantarkan pesanannya.

            Barista itu hanya tersenyum sebelum berlalu. Sekilas ia memperhatikan gadis di hadapannya. Sepertinya ia penyuka panda. Stiker bergambar panda tertempel di laptopnya. Sebuah pin berbentuk kepala panda tersemat di dada sebelah kiri-untuk merapikan kerudungnya.

            Cukup lama Tian berada di kafe itu. Beberapa pengunjung sudah meninggalkan tempatnya, termasuk tiga orang perempuan yang duduk di dekat meja Tian.

            Barista yang tadi mengantarkan pesanan Tian, bergerak untuk membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan. Ia memperhatikan Tian yang masih sibuk dengan laptopnya.

            “Gimana kopinya?”

            Tian menatapnya. “Enak banget. Aku suka,” jawabnya.

            “Keliatannya serius banget. Tugas kuliah ya?”

            “Tugas akhir nih.”

            “Oh... skripsi?”

            Tian tersenyum sebelum mengangguk.

            “Aku Nugie.”

            Tian menyambut uluran tangan itu. “Tian.”

            Nugie menggumam sejenak. “Kamu masih sibuk?”

            “Udah enggak kok. Udah selesai. Memangnya kenapa? Mau tutup ya?” tanya Tian.

            Cepat-cepat Nugie menggeleng. “Enggak kok. Aku mau ngobrol-ngobrol sama kamu. Boleh?”

            Tian mengulum senyum. “Oh... boleh kok.”

            “Aku ke belakang sebentar ya,” ucap Nugie seraya mengangkat beberapa gelas kosong di tangannya.

            “Oke.”

            Tak berapa lama, Nugie kembali menghampiri meja Tian. Terdengar karyawan lain bersuara “cieee” dan “suit suit”.

            “Maaf ya,” kata Nugie ketika duduk di hadapan Tian.

            Gadis itu mengerutkan keningnya. “Maaf kenapa?”

            “Maaf kalau kamu merasa gak enak gara-gara suara norak anak-anak,” sahut Nugie seraya mengedikkan dagu ke arah karyawan lain yang berdiri di belakang meja kasir.

            Tian tertawa pelan. “Gak papa, Kak. Sekalian menghibur mereka. Bikin orang lain bahagia kan, dapat pahala.”

            Nugie ikut tertawa. “Oh iya, Tian kuliah dimana?”

            “Di kampus lah. Masa di rumah. Hehehe...”

            Nugie ikut tertawa. “Maksudnya ambil jurusan apa?

            “Psikologi,” jawab Tian.

            “Wah! Bisa baca pikiran dong?” tanya Nugie.

            Tian tersenyum. Ia sudah kenyang dengan pertanyaan semacam ini setiap kali ia menyebutkan jurusan kuliahnya. “Memangnya aku cenayang?”

            Nugie mencodongkan badannya ke depan. “Terus di psikologi belajar apa aja?”

            “Belajar tentang perilaku manusia, tentang tumbuh kembang manusia dari sebelum lahir sampai lanjut usia. Belajar tentang gangguan-gangguan psikologis. Tentang fenomena yang ada di masyarakat. Tentang sumber daya manusia. Banyak lah pokoknya. Yang jelas, dimana ada manusia, disitu psikologi berperan.”

            Nugie mengangguk-anggukkan kepalanya. “Berarti lapangan kerjanya luas dong.”

            “Yeap! Tepat sekali.” Tian meminum sedikit kopinya.

            “Eh, psikologi itu yang psikotest itu juga kan? Kapan-kapan ajarin aku dong. Kasih tahu jawabannya apa. Terutama yang gambar-menggambar itu,” ucap Nugie.

            Tian meletakkan cangkir kopi. “Hm... boleh... boleh boleh boleh. Berani bayar berapa?” ucapnya. Lantas ia dan Nugie tertawa.

*

 

Semenjak obrolan di Coffee Toffee sebulan lalu, Tian menjadi dekat dengan Nugie. Mereka berkomunikasi cukup intens. Melalui aplikasi untuk chatting, kadang telponan atau video call dari tempat kesibukan masing-masing. Banyak hal yang sering mereka bicarakan. Terlebih, keduanya sama-sama suka membaca. Mereka berdua pernah pergi bersama ke toko buku. Teman-teman Nugie di Coffee Toffee pun juga mengetahui kedekatan mereka. Setiap kali Tian berkunjung ke sana, karyawan lain selalu menggoda.

“Duh, senengnya yang kedatangan orang kesayangan.”

“Wah, ilang deh capeknya kerja seharian.”

“Nugie, siap-siap bikin panda di cappuccino,” ucap Andra yang hapal dengan minuman favorit Tian.

Sementara Tian dan Nugie, tampak menikmati saja semua godaan dari teman-teman mereka. Tidak ada ekspresi ketidaksukaan atau benci yang mereka tunjukkan.

1 April.

Tian memarkirkan sepeda motornya. Melepaskan helm lalu berjalan mendekati pintu masuk. Aneh, pikir Tian. Kenapa di dalam gelap banget? Apa lagi mati lampu? Tapi lampu jalan terang benderang. Tian membaca tulisan yang tergantung di kaca pintu. OPEN.

Gadis itu mendorong pintu kaca tersebut dan...

“SURPRISE!!!”

Lampu kafe dinyalakan dan terlihat karyawan mengenakan topi ulang tahun. Beberapa balon dan hiasan lainnya dipasang di meja panjang yang menjadi tempat duduk favorit Tian.

Tian terkejut bukan main. Ia tertawa bahagia dan menyeka matanya yang berair. Karena malam itu malam Sabtu, biasanya ada akustikan disana, pemain akustik mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Beberapa karyawan dan pengunjung lainnya yang ada di kafe ikut bernyanyi dan bertepuk tangan ketika Tian meniup lilin di atas kue.

“Makasih banyak ya semuanya,” kata Tian. Lalu ia memotong dan membagi-bagikan kue ke karyawan kafe, pemain akustik dan pengunjung kafe.

Sampai pukul sebelas malam, Tian masih di Coffee Toffee. Asyik mengobrol dengan Ibel, pemain akustik yang sudah dikenalnya. Ketika melihat Nugie mendekat, Ibel berujar,

“Duh, aku nyari Andra dulu ya, Tian. Aku gak mau ganggu orang pacaran.”

Tian merengut. “Pacaran apanya? Ngawur!”

Ibel tertawa lalu beranjak dari duduknya.

“Hei,” sapa Nugie. Tian menoleh.

“Bilangnya hari ini gak kerja,” kata Tian.

Nugie tertawa. “Ya tadi siang emang gak kerja. Sibuk bikin kue sama niupin balon,” jawabnya.

Tian ikut tertawa.

“Suka sama kuenya?”

“Suka banget. Apalagi ada pandanya.” Tian tersenyum senang. “Makasih ya buat kejutannya. Buat doanya tadi pagi. Oh, sama boneka pandanya.” Tian memeluk boneka panda yang diberikan oleh Nugie.

Nugie mengangguk. “Iya, sama-sama, Tian,” ucapnya seraya memegang kepala Tian. Mengusap kerudung berwarna biru yang dikenakan gadis itu.

*

 

Beberapa bulan berlalu...

Tian mulai disibukkan dengan penelitiannya. Metode kualitatif yang digunakannya, mengharuskan Tian untuk melakukan wawancara dengan informan. Ditambah konsultasi dengan dosen pembimbing, membuat Tian makin sering bolak-balik kampus.

Komunikasi dan intensitas pertemuannya dengan Nugie pun mulai berkurang. Sudah lama rasanya ia tidak menghabiskan malam di Coffee Toffee. Nanti malam, Tian akan ke sana. Jujur, ia rindu dengan Nugie, Andra dan karyawan lainnya. Juga suasana kafe yang nyaman. Ditambah hari itu adalah hari Jum’at, pasti akan ada akustik dan tentunya ada Ibel disana.

Smartphone Tian berbunyi ketika gadis itu berada di kampus usai sidang akhir. Nomor tak dikenal, namun tetap dijawabnya panggilan tersebut.

“Halo.”

“Halo. Tian ya?”

“Eh?” Tian seperti mengenal suara di seberang sana. “Kak Andra?”

Terdengar tawa di seberang sana. “Seratus buat kamu.”

“Kak Andra apa kabar? Gimana Coffee Toffee? Masih rame kan?”

“Alhamdulillah, kabarku baik. Coffee Toffee makin rame. Kamu sibuk banget ya sekarang. Udah lama gak nengokin kita.”

“Hehehe...iya ni, Kak. Baru aja selesai sidang akhir.” Nada suara Tian terdengar riang.

“Oh ya? Terus gimana hasilnya?”

“Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus, Kak!”

“Wah... alhamdulillah. Selamat ya... Udah S.Psi dong nii?”

“Iyah. S.Psi dengan revisi,” ucap Tian. “Kak, tiba-tiba kangen.”

“Hm... kangen aku atau yang lain?” goda Andra.

“Kangen Coffee Toffee maksudnya. Wek!”

Andra tertawa lagi. “Main dong kesini. Kita juga udah kangen banget sama Panda.”

“Hehehe... iya, Kak. Malam ini aku mau ke sana kok.”

Terdengar Andra menggumam. “Kalau dari sore bisa gak?”

Tian heran. Namun ia menangkap nada mendesak dari suara Andra. “Oh, bisa kok, Kak. Habis dari kampus aku langsung ke sana. Siapin panda yah.”

Kembali terdengar tawa dari Andra. “Oke deh. Sampai ketemu ya.”

Sore harinya...

“Selamat sore! Selamat datang di Coffee Toffee!” suara dari karyawan kafe menyapa Tian yang baru saja memasukinya.

“Halo, Kak Tian!” sapa seorang karyawan yang sedang membersihkan meja.

“Halo, Dino!” balas Tian. Lalu ia menuju meja kasir. Disana berdiri Andra dengan senyumannya yang khas.

“Wah... lama gak ketemu, kamu jadi kurusan ya sekarang,” puji Andra.

“Makasih. Kak Andra juga banyak berubah. Otot lengannya mulai keliatan. Rajin fitnes ya?”

Andra mengangguk. “Cappuccino?” tanyanya.

Tian mengangguk. “Pake panda.”

“Pake panda.”

Tian dan Andra sama-sama tertawa. Setelah membayar pesanannya, Tian duduk di tempat favoritnya. Ia mengedarkan pandangan. Tidak banyak yang berubah dari kafe ini. Susunan kursinya masih tetap sama, menu yang dipajang juga masih yang dulu. Namun, Tian tidak menemukan sosok Nugie sore itu.

Andra menghampiri Tian dengan membawa secangkir cappuccino lantas meletakkannya di atas meja.

“Makasih,” ucap Tian.

Andra duduk di hadapan Tian. “Gimana kabar kamu, Tian?” tanya Andra basa-basi. Sebenarnya ada hal penting yang hendak diberitahukannya. Itulah mengapa ia memaksa Tian untuk ke Coffee Toffee sore itu.

“Alhamdulillah, kabar baik, Kak,” jawab Tian.

“Udah lega dong ya. Sidangnya lancar.”

“Iya, Kak. Rasanya badanku seringan balon,” sahut Tian. “Oh iya, Kak Nugie mana? Kok gak keliatan?”

Andra tersenyum tipis. “Memangnya kamu gak ada hubungin dia?”

Tian menggeleng. “Sudah dua bulan terakhir aku gak ada kontak-kontakkan sama Kak Nugie. Sempat aku chat di LINE, tapi kayaknya udah gak aktif lagi deh. Aku cek path, instagram-nya juga udah gak ada apdet lagi,” keluhnya.

“Nugie udah gak kerja disini lagi, Tian,” ucap Andra.

Tian yang sedang mengaduk minumannya terdiam. “Udah gak kerja disini lagi? Sejak kapan?”

“Sejak dua bulan yang lalu,” jawab Andra.

“Oh ya? Kok Kak Nugie gak ada ngasih kabar ya? Oh iya, Kak Andra dapat nomer hapeku dari mana?”

“Kan ada informasi soal pemegang kartu member, Tian,” sahut Andra. Lalu ia mendeham. “Ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu.”

Tian mengerutkan keningnya. “Apa?”

Andra mengangsurkan sebuah kertas putih yang terlipat rapi. Tian menatap Andra tak mengerti.

“Buka dan baca.”

Perlahan, Tian membuka lipatan kertas tersebut.

 

Gadis bermata indah dengan lesung pipit yang menghiasi senyummu. Kamu ingat kan waktu kita pertama kali ketemu? 15 Januari. Waktu itu kamu bareng sama temen-temen kamu. Main”Jempol Ulala” yang bikin heboh itu.

Jujur, saat itu aku mulai merhatiin kamu. Dan aku selalu nunggu kapan kamu akan ke Coffee Toffee lagi.

12 Februari kamu datang lagi. Tapi kamu keliatan sedih. Tawa kamu gak selepas ketika lagi sama temen-temen kamu.

15 Maret, kamu pesan cappuccino dengan panda. Aku udah curiga kamu akan pesan itu. Karena aku liat di akun instagram kamu. Kamu sering repost foto-foto kopi dengan panda sebaga latte art. Dan malam itu kita mulai ngobrol dan semakin dekat.

Aku suka menghabiskan malam mendengar suara kamu walau hanya melalui telepon. Aku suka tatapan matamu yang teduh. Aku suka liat lesung pipit yang muncul setiap kali kamu tersenyum. Aku suka mendengar tawamu yang hilangkan separuh penatku.

Seiring kedekatan kita, rasa itu tiba-tiba datang. Aku gak tahu aku harus bagaimana. Karena aku gak pernah bisa baca tanda dari kamu dan aku terlalu takut untuk mengungkapkannya.

Tapi aku menyadari, takkan mungkin kita bersama. Karena kita berbeda. Jarak yang terbentang diantara kita terlalu jauh untuk dilalui. Sering aku mengeluhkan, mengapa Tuhan menciptakan perbedaan? Perbedaan yang tak akan bisa kita persatukan. Bukankah hal itu jelas terlihat? Kerudung yang menutupi auratmu dan rantai berbandul salib yang selalu aku kalungkan.

Kamu tau? Sakit setiap kali ku harus membunuh rasa yang perlahan tumbuh. Sudah ku coba untuk menguburnya, dalam. Namun, masih ada usaha untuk merangkak naik. Untuk minta dijaga, menetap dan bersemayam di dalam kalbu. Aku harus bagaimana? Rasa ini setiap hari semakin besar.

Satu pertanyaan besarku. Jika kita memang tidak berjodoh, mengapa kita harus bertemu?

 

            Tian mengusap matanya yang panas. Lalu meletakkan kertas itu di atas meja.

            Andra mengembuskan napas pelan. “Nugie benar-benar sayang sama kamu. Tapi dia sadar, perbedaan iman bukan hal yang sepele. Awal Juli, dia memutuskan untuk resign dan memilih bekerja di perusahaan milik ayahnya. Alasannya, biar dia bisa menjauh dari kamu. Menjauh dari sini, supaya kenangan itu gak mengusiknya. Malam sebelum dia pergi, aku liat dia nulis sesuatu. Tapi aku gak berani buat nanya. Besok paginya, kertas ini tergeletak di atas meja. Aku gak sadar sampai aku balik lagi ke kost malam harinya. Aku coba buat telpon dia, tapi nomernya malah gak aktif.”

“Jadi Kak Andra gak tau Kak Nugie sekarang ada di mana?” tanya Tian.

            “Aku tahu. Kami semua tahu nanti malam dia ada dimana,” jawab Andra.

            “Nanti malam?”

            “Nanti malam dia ada di gereja. Pemberkatan untuk pernikahannya.” Andra menarik napas sejenak. “Selama ini, kertas ini aku simpan sendiri. Gak ada yang tahu. Dan aku gak ada niatan untuk ngasih ini ke kamu. Kemarin malam, Nugie kesini. Ngasih tahu kalau hari ini dia akan menikah dengan teman masa kecilnya. Dan aku ingat soal kertas ini. Aku tanyakan ke dia, dia cuma tersenyum dan bilang kalau kertas itu udah gak penting lagi. Tapi aku ngerasa, kalau aku harus ngasih tahu kamu.”

            Tian terdiam. “Kak Andra kesana?”

            Andra mengangguk. “Kamu ikut?”

            Tian menggeleng. “Cukup Kak Andra aja yang mewakilkan. Tapi gak perlu kasih tahu Kak Nugie kalau aku sudah baca surat ini. Anggap aja kita gak ketemu sore ini,” kata Tian seraya tersenyum tipis.

            “Oke.”

            Setelah mengobrol dengan Ibel, Dino dan beberapa karyawan lain, Tian memutuskan untuk pulang setengah jam kemudian.

            Tian memandang kursi di samping kasir, tempat biasa Nugie duduk. Senyuman tersungging di bibirnya. Kita berjodoh, Kak, karena Tuhan mempertemukan kita di suatu persimpangan. Berjalan bersama selama beberapa waktu, untuk kemudian memilih jalan kita masing-masing.

 

***