kisah tukang sol sepatu

Rhyna Mariahana
Karya Rhyna Mariahana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
kisah tukang sol sepatu

 Berkulit hitam dengan rambut yang sudah di tumbuhui uban. Serta sisa gigi yang tinggal beberapa lagi. Memperlihatkan usianya yang tidak muda lagi. 

Pak Giman, orang-orang menyebutnya. Dengan sepedha tuanya beliau berkelana mencari rezeki di kota. Sebuah bok kayu yang selalu melekat di belakang sepedhanya, menambah beban kayuhan beliau. 

''Sol, sol, '' suara Pak Giman begitu nyaring memanggil pelangganya. 

Tampak lengang, Pak Giman tidak menyerah di kayuhlah sepedha tuanya. 

Suasana di perumahan Perum Indah, memang tampak lain dari biasanya. Tak seorang pun yang menghentikan sepedha Pak Giman. Cuaca siang ini memang cukup panas. Peluh keringat menetes dan menciptakan gambaran tak beraturan  di bajunya. 

Sepedhanya terus di kayuh, tanpa mengenal lelah. 

Sebuah warung makan tempat pemberhentiannya untuk saat ini. Seorang wanita tua yang sibuk dengan pelanggannya berhenti sesaat setelah mengetahui siapa yang datang. Dengan senyum mengembang ''Pak Giman, sini -sini ngopi dulu. ''

Sedikit canggung dengan pelanggan lainya, akhirnya Pak Giman memutuskan masuk ke warung makan itu. 

''Kopi Ya, Yu '' di lihatnya sekiling meja warung. Tampak berbagai macam gorengan tersaji rapi. Kini pilihanya jatuh pada pisang goreng yang terlihat baru saja di angkat dari penggorengan. 

Suasana warung tampak ramai, ada yang berbisik -bisik. Ada pula yang tengah menikmati sebatang rokok. Pak Giman tidak menyadari kalau sejak tadi sepasang mata tengah memperhatiknya. Dirinya tampak asyik menikmati pisang goreng yang masih panas itu sambil menanti pesanan kopinya datang. 

Di tengah-tengah sela menikmati makanannya, wanita pemilik warung datang dengan secangkir kopi.

''Ini kang, kopinya. '' sambil menyodorkan secangkir kopi kepadanya. 

''Makasih Yu. ''

''Wah gimana Kang hari ini?'' tanya wanita tua itu 

''Sepi Yu, '' jawab Pak Giman dengan muka lesu. 

''Ya sabar wae lah, '' mencoba menguatkan. 

Pak Giman hanya menjawab dengan senyuman kecil, dengan terus melahap pisang gorengnya. 

Sesaat kemudian laki -laki yang sejak tadi menperhatikan Pak Giman mencoba mendektinya. 

''Sampean Pak Giman tukang sol sepatu ya. '' 

Mendengar  ada yang kenal dengan dirinya, Pak Giman merasa bahagia. Pikiranya hanya satu mungkin ini pelanggannya atau bisa jadi mau memakai jasanya.

''Iya betul, ada yang rusak sepatunya? '' Pak Giman mencoba menawarkan jasanya. 

Buru -buru lelaki itu menggelengkan kepalanya. 

''Tidak, tidak Pak! '' sambil tersenyum 

''Loh! Mau apa sampean tahu nama saya? '' Kini Pak Giman yang di buatnya bingung. 

Tiba -tiba lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari tas hitamnya. Dirinya menyodorkan sebuah koran, dengan seksama. '' Ini sampean to Pak? '' sambil menunjuk gambar halaman pertama ''sol sepatu ''.

Dengan buru -buru Pak Giman mengambil koran itu dan memperhatikan dengan teliti. 

''Ya, ya ini aku Pak. '' jawabnya polos. 

Kini suasana warung tampak riuh setelah mengetahui Pak Giman masuk korang, karena menjadi tokoh inspirasi di halaman depan.

Pertanyaan -pertanyaan terlontar dari berbagai orang yang ada di warung. Tak terkecuali pemilik warung tersebut. Mereka penasaran apa yang membuat Pak Giman masuk koran. 

Sebagai orang yang awam Pak Giman hanya tersenyum saat di hujani pertanyaan para orang yang penasaran dengan dirinya. Jujur dirinya saja sudah lupa kapan dan di mana reporter surat kabar meliputnya. 

Anehnya lagi ada pertanya yang mengatakan tentang shooting, camera apalah. 

Pak Giman juga bingung, kenapa dirinya masuk koran. Seingatnya tidak ada orang yang mengambil gambarnya atau merekamanya. Yang terlintas di pikiranya hanya satu, memang ada yang bertanya tentang kehidupannya. Itu pun di lakukan oleh orang biasa dan tidak menunjukkan kalau dia seorang reporter. 

Pak Giman mendadak terkenla setelah profilnya tepilih menjadi tokoh inspirasi.

 

  • view 280