YANG SEDANG BERMAIN

Rahmad Kurniawan
Karya Rahmad Kurniawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juni 2016
YANG SEDANG BERMAIN

Pedagang sayur itu mengeluh kepanasan.

Pengunjung pasar itu berlari kehausan.

Tukang angkat sudah mandi oleh keringatnya sendiri.

Aku duduk. Duduk diatas keranjang penuh dengan jerami dan kardus telur yang sudah rusak. Melihat suasana disekitarku yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku sibuk dengan pekerjaanku sekarang… pekerjaan melihat suasana. 

Kacau. 

Amburadul.

Bau.

Mereka bertahan demi berebut rupiah yang melayang dari pembeli. Berebut pelanggan satu sama lain, menghianati tali pertemanan mereka untuk bertahan hidup. Tidak ada yang tersenyum satu sama lain, kecuali senyum seribu maksud. Senyum untuk mendapatkan harga murah atau hanya senyum basa-basi karena sudah bosan mengobrol dengan lainnya. 

Apa ini? 

Planet apa ini? 

Apakah aku sudah pindah dari Bumi ke Mars? Semakin hari semakin panas, semakin hari matahari terasa lebih menyengat. Memisahkan yang berdekatan, menghilangkan yang berjauhan.

Aku menghela napas

Aku hidup dizaman yang penuh dengan dosa. Itu yang mereka katakan

Bagaimana bisa orang zaman sekarang mengatai dirinya sebagai pendosa. Mengatai zamannya sendiri ‘yang terburuk’, ia menghianati dirinya sendiri.

Ya. Sama seperti aku. 

Aku hidup dimana orang yang lebih licik bisa mengalahkan orang yang lebih cerdik. Mengalahkan sungai dengan laut. Mengalahkan kuburan dengan longsor. 

Semakin hari, semakin buruk. 

Seperkian detik, aku menjadi orang yang lebih kusam dan jelek. 

Mereka yang haus surga menyuruhku untuk segera memeluk agama. 

Mereka yang ingin kaya menyuruhku untuk bekerja, menjadi peliharaan tikus mereka. 

Mereka yang ingin kekuasaan menyuruhku untuk mengikutinya. 

Aku tidak memilih siapapun. Hidupku tidak akan dimiliki oleh siapapun. Aku adalah buangan yang tidak direstui hadir didunia ini. Ibuku sendiri membuangku dijalanan, pemberian yang mengesankan… tempat tidur gerobak sampah. 

Seleraku sudah hancur sejak bayi. Aromaku sudah berbaur dengan aroma sampah. 

Mengenaskan. Memalukan. 

Seseorang melempar uang receh kekaleng ditanganku

Lihatlah, bahkan yang tidak aku minta datang dengan sendirinya. Tapi aku tidak bergairah dengan uang. Sangat tidak bergairah, kecuali jika aku lapar.

Disebrangku ada orang berjualan kaca. Kaca itu memantulkan gambaran tubuh dan wajahku. 

Lihatlah kaki mungil yang sedang bergantung itu

Lihatlah baju sobek-sobek ukuran orang dewasa itu

Lihatlah wajah bocahku yang menua karena pemikiranku

Lihatlah bocah lelaki yang mengenaskan itu! 

Aku hanya ingin bahagia, walaupun sedetik. 

Berikan aku senyuman, sedikit saja. 

Aku hanya ingin teman, walaupun tidak lama. 

Aku ingin seperti anak-anak yang lain. 

Yang sedang bermain. 

 

 

Inspirasi: Bocah Melamun Di Pasar.

— Rahmad Kurniawan, 25 Oktober 2015.