Menyemangati Diri Sendiri itu Penting

Rhiny Z3
Karya Rhiny Z3 Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 11 April 2016
Menyemangati Diri Sendiri itu Penting

Hari itu, saya sedang sendiri. Menatap tumpukan buku yang sudah tertata rapi, menatap kearah cermin yang menempel di dinding, menatap apapun yang ada disekitar saya, hingga saya melihat ada sebuah kotak kardus yang menarik perhatian saya. Setelah saya buka, saya menemukan banyak sekali tulisan-tulisan saya dilembaran-lembaran kertas bekas yang saya staples menjadi satu. Ternyata banyak hal yang sudah saya lewati selama ini. Ketika saya sedang sedih, senang, rindu, marah dan hampa, semua pernah saya luapkan lewat tulisan-tulisan pendek. Bahkan semua mimpi dan khayalan-khayalan sayapun, saya tulis dengan begitu jelas dan detail, tapi tetap saja masih dengan tulisan yang tidak panjang sampai berlembar-lembar. Cukup selembar di setiap perasaan yang sedang ingin saya ungkapkan.

Satu persatu saya baca sambil mengingat-ingat kejadian apa yang melatar belakangi tulisan-tulusan saya. Hingga saya menemukan beberapa lembaran yang isinya kurang lebih saling berkaitan, yaitu tentang kekecewaan. Didalamnya saya menemukan banyak sekali kemarahan, kutukan, tangisan, penyesalan, dendam dan kebencian. Wouw..., ternyata saya pernah merasa sebegitu tersakitinya oleh seseorang, oleh keadaan dan oleh diri sendiri.

Saya pernah merasa tersakiti oleh seseorang, merasa dikhianati, merasa apa yang sudah saya ciptakan untuknya, baik itu waktu, perasaan, pikiran dan toleransi, seakan tidak bertimbal balik, berat sebelah, tidak seimbang,  bahkan tidak mendapat apa-apa alias kosong. Dia tidak pernah menganggap saya ada dan bernafas dalam hidupnya. Dia tidak pernah melihat saya selalu ada dan siap sedia dalam perjuangannya. Dia juga tidak pernah mengakui bahwa saya senantiasa ada dan berhati-hati dalam menjaga impian-impiannya.

Saya juga pernah tersakiti oleh keadaan, merasa dunia ini tidak adil kepada saya. Merasa hidup ini tidak berbelas kasihan kepada saya. Merasa selalu dikelilingi oleh orang-orang yang siap menghentakkan kaki mereka dikepala saya. Merasa berada dalam waktu dan tempat yang senantiasa salah, buruk dan tidak tepat. Merasa bukan menjadi siapa-siapa, tidak berarti apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan sayapun pernah tersakiti oleh diri saya sendiri. Merasa betapa bodohnya saya dalam menjalani kehidupan, bukan karena tidak memiliki segenap kemampuan untuk bisa maju dan berkembang, tapi saya merasa tak berdaya dan terlihat kecil, hingga tidak pernah terlihat, terabaikan dan tidak pernah mendapat pengakuan untuk diakui bahwa saya juga bisa menjadi berarti besar dan banyak. Merasa bahwa setiap kesempatan hanya selalu terlewat tepat didepan mata. Bukan karena saya tak mampu mengenggamnya, tapi saya selalu dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit, yaitu antara mencintai diri sendiri atau mencintai keluarga. Antara menjaga hati sendiri atau menjaga hati orang lain yang sedang rapuh. Antara mempertahankan persahabatan atau mempertahankan percintaan.

Lama saya membaca semua tulisan-tulisan saya yang penuh dengan coretan disana sini. Meski tampak tidak rapi dan bersih, dengan tulisan yang terburu-buru, tapi saya mencoba meruntutkannya lagi dan merenungkan kembali semua yang sudah pernah saya alami dibelakang sana, hingga membuat saya menulis tulisan  dibawah ini :

"Jangan pernah marah, membenci bahkan menyalahkan siapa dan bagaimana dirimu yang tak mampu untuk menjadi sempurna. Sadarilah...., kamu memang tudak sempurna. Banyak melakukan kesalahan dan kebodohan. Tapi bukan berarti kamu terus menerus merasa bersalah, tanpa pernah berusaha untuk memperbaiki kesalahanmu dan menemukan kebenarannya seperti apa. Bukan berarti juga kamu terus menerus menjadi bodoh, tanpa pernah mau belajar untuk bisa menjadi lebih pintar dalam menyingkapi kehidupanmu selanjutnya.

Terimalah dirimu yang sejatinya sempurba didalam ketidaksempurnaan. Munculkan rasa cintamu pada dirimu sendiri tepat disaat kamu merasa jatuh dan tersungkur, karena dengan rasa cinta,  kamu bisa cepat bangkit, berdiri dan berlari mengejar ketertinggalan. Karena dengan kembali mencintai dirimu sendiri, kamu akan bisa menikmati hidupmu dengan rasa lega dan merdeka. Karena dengan cinta itulah kamu akan kembali menjadi dirimu sendiri. Sehingga kamu tidak akan pernah lagi menuntut dirimu untuk 100% benar, tapi kamu bisa mulai belajar untuk bersikap bijak dalam menghadapi masalah.

Jadi semua bentuk kemarahan dan kebencian pada dirimu sendiri itu bisa kamu alihkan ke hal-hal yang lebih menyemangati dirimu untuk lebih baik lagi, menjadi sosok manusia yang sederhana dalam berucap namun luar biasa dalam bertindak. Bukannya malah membuatmu semakin pasrah saja dengan stigma orang lain terhadap dirimu yang terlanjur ternilai salah dimata mereka. Jangan pernah membiarkan semua itu melekat kuat pada dirimu seperti sebuah merk. Jangan pernah !"

(RZ3, 11/04/2016, 20:52 wib)

  • view 131