Budidaya Cacing Tanah Lumbricus rubellus Ternyata Sangat Berprospek

Raden  Haryo Bimo Setiarto
Karya Raden Haryo Bimo Setiarto Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 31 Januari 2016
Budidaya Cacing Tanah Lumbricus rubellus Ternyata Sangat Berprospek

Budidaya Cacing Tanah Lumbricus rubellus Ternyata Sangat Berprospek

Oleh: R. Haryo Bimo Setiarto

Cacing tanah (Lumbricus rubellus) memiliki banyak khasiat. Dalam dunia moderen, senyawa aktif yang terkandung dalam tubuh cacing tanah digunakan sebagai bahan obat. Diantaranya untuk mengobati demam, tifus, rematik, batu ginjal, dan cacar air. Selain itu, ditemukan pula senyawa aktif dalam cacing tanah yang bermanfaat untuk menyembuhkan, mencegah dan mengobati penyumbatan pembuluh darah jantung (ischemic) yang berisiko mengundang penyakit jantung koroner (PJK), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan stroke. Di RRC, Korea, Vietnam, dan banyak tempat lain di Asia Tenggara, cacing tanah terutama dari jenis Lumbricus rubellus, telah digunakan sebagai obat sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan, tak sedikit produk kosmetik yang memanfaatkan bahan aktif tersebut sebagai substrat pelembut kulit, pelembab wajah, dan antiinfeksi. Sebagai produk herbal, telah banyak merek tonikum yang menggunakan ekstrak cacing tanah sebagai campuran bahan aktif.

?

Lumbricus rubellus memiliki kandungan nutrisi, diantaranya mengandung kadar protein sangat tinggi yaitu, sekitar 76 %, protein asam amino berkadar tinggi, 17 % karbohidrat, 45 % lemak dan abu 1.5 %. Hasil penelitian terhadap cacing tanah menyatakan bahwa cacing tanah memiliki senyawa aktif yang mampu melumpuhkan bakteri patogen, khususnya Salmonella typhosa penyebab tifus dan Eschericia coli berlebih penyebab diare. Praktek pengobatan konvensional dan pengobatan tradisional China, telah membuktikan efektivitas cacing tanah untuk mengobati pasien-pasiennya yang mengidap stroke, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah (arterosklerosis), kejang ayan (epilepsi), dan berbagai penyakit infeksi. Resep-resepnya telah banyak dijadikan obat paten untuk pengobatan alergi, radang usus, dan stroke. Uji coba klinis serbuk enzim cacing tanah ini dilakukan terhadap 453 pasien penderita gangguan pembuluh darah (ischemic cerebrovascular disease) dengan 73% kesembuhan total.

Penyembuhan tifus dapat terjadi karena peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus. Jika sel tubuh terluka oleh rangsangan pirogen seperti bakteri, virus, atau parasit, membran sel yang tersusun oleh fosfolipid akan rusak. Salah satu komponen asam lemak fosfolipid, yaitu asam arakidonat, akan terputus dari ikatan molekul fosfolipid. Asam arakidonat akan membentuk prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase. Prostaglandin inilah yang merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Gejala demam dapat diatasi dengan obat antipiretik. Cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai antipiretik. Pengujian ekstrak cacing tanah untuk melihat aktivitasnya sebagai antipiretik dilakukan menggunakan hewan percobaan tikus putih yang didemamkan dengan penyuntikan vaksin campak. Suhu normal tikus putih mirip dengan manusia, yaitu berkisar antara 35.9 hingga 37.5 0 C. Tikus putih yang sudah demam diobati dengan ekstrak cacing tanah dan parasetamol sebagai kontrol. Setelah didemamkan suhu tubuh tikus putih diukur dengan diamati pergerakan suhunya. Kelompok tikus putih yang tidak diberi pengobatan meningkat suhunya hingga perbedaannya rata-rata 1.8 0 C dari suhu normalnya. Sementara itu, yang diberi ekstrak cacing tanah hanya meningkat sedikit suhunya hingga perbedaannya 0.8 0 C. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan oleh ekstrak cacing tanah. Bahkan, ketika telah dipisahkan senyawa aktifnya secara kasar, kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan hingga 0.4 0 C saja. Komponen kimia cacing tanah juga tidak menimbulkan efek toksik bagi manusia sehingga aman dikonsumsi.

Selain diekstrak untuk keperluan pembuatan obat herbal, cacing tanah juga dapat diolah menjadi pakan unggas dan pakan ikan (pellet). Mengingat banyaknya peternak unggas dan pembudidaya ikan di Indonesia, pengolahan cacing menjadi bahan pakan ini memiliki prospek cerah. Di samping kaya protein (50 ? 72%), cacing tanah juga mengandung beberapa asam amino yang sangat penting bagi unggas seperti arginin (10.7%), tryptophan (4.4%) dan tyrosin (2.25%). Ketiga asam amino ini jarang ditemui pada bahan pakan lainnya. Oleh karena itu, cacing tanah memiliki potensi baik untuk mengganti tepung ikan dalam ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari biji-bijian sampai 70%. Meski demikian, penggunaan cacing tanah dalam ransum unggas disarankan tidak lebih dari 20% total ransum. Pemanfaatan cacing tanah untuk ransum unggas relatif mudah. Bisa diberikan dalam bentuk segar atau dijadikan tepung cacing untuk dicampurkan bersama bahan-bahan penyusun ransum unggas lainnya seperti jagung, dedak, konsentrat, dan sebagainya.

Cacing tanah juga dapat dijadikan sebagai campuran untuk membuat pellet ikan. Adapun bahan-bahan yang perlu dipersiapkan antara lain telur ayam yang telah direbus (diambil kuningnya saja), tepung kanji, terigu, dedak, dan tepung cacing. Semua bahan ditimbang, sesuai dengan analisis bahan. Sedangkan peralatan yang digunakan adalah alat penggiling tepung, alat penggiling daging dan baskom. Sebelumnya, kita mesti mengolah dulu cacing segar menjadi tepung. Caranya, cacing segar dipisahkan dari medianya, kemudian dicuci dan dibilas dengan air bersih serta ditimbang. Cacing ditebar diatas seng, kemudian dijemur di bawah terik matahari selama sehari. Jika sudah kering, cacing dapat dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung. Tepung cacing ditimbang dan siap digunakan. Jika ingin membuat pellet dengan kadar protein 35%, maka formula ransumnya terdiri atas tepung cacing (47%), telur ayam (20%), dedak (18%), terigu (14%), dan kanji (1%). Campurkan semua bahan, kemudian diaduk hingga merata. Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi liat. Tapi ingat, jangan terlalu banyak memberi air, karena dapat mengurangi daya simpannya. Adonan yang sudah liat bisa dicetak dengan mesin penggiling daging, sehingga menghasilkan pellet basah yang panjangnya seperti mie. Pellet yang masih basah dipotong (misalnya sepanjang 0,5 cm) sehingga membentuk butiran-butiran. Karena masih mengandung air, pellet dijemur dulu dibawah terik matahari, sampai kering sehingga dapat disimpan dalam waktu lama. Sekarang pellet sudah jadi dan siap digunakan. Jika akan dipasarkan, pellet dapat dikemas terlebih dahulu ke dalam kantong plastik dengan bobot tertentu.

Di samping itu limbah hasil budidaya cacing tanah berupa kascing juga memiliki manfaat yang tidak kalah besarnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap pupuk organik yang diperoleh dari kotoran cacing tanah (disebut dengan kascing) diperoleh kandungan unsur hara seperti C, N, P, K, S, Ca, Mg, Fe, Mn, Al, Cu, Zn yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Kascing merupakan partikel-partikel tanah yang berwarna kehitam-hitaman dengan ukuran lebih kecil daripada partikel tanah biasa sehingga lebih cocok untuk pertumbuhan tanaman. Kascing mengandung zat organik yang akan menyesuaikan perubahan kimia secara alami. Selain itu, kascing juga mengandung berbagai unsur hara penting seperti auksin, sitokinin, giberelin, dan zat perangsang tumbuh untuk tanaman. Dan jika dilihat dari kandungan unsurnya, kascing jauh lebih baik daripada pupuk anorganik karena hampir seluruh unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia didalamnya. Komposisi komponen kimiawi pada kascing: Nitrogen (N) 1.1-4.0%, Fosfor (P) 0.3-3.5%, Kalium (K) 0.2-2.1%, Belerang (S) 0.24-0.63%, Magnesium (Mg) 0,3-0,6%, Besi (Fe) 0,4-1,6%.

??

Cacing tanah juga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan sampah melalui proses pengomposan sehingga dapat memberikan manfaat ganda. Cacing tanah yang menggunakan sampah sebagai sumber nutrisinya dapat berkembangbiak dan dipasarkan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Pengomposan adalah suatu metode perombakan sampah bahan organik (sampah dapur dan kebun) dalam suatu wadah atau tumpukan besar, akibat adanya kegiatan alami bakteri dan jamur. Sementara itu invertebrata kecil seperti cacing tanah dan lipan kaki seribu akan membantu menyempurnakan proses ini. Pengomposan akan mengubah sampah dapur dan kebun menjadi suatu bahan semacam tanah yang berwarna gelap dalam beberapa minggu atau bulan. Sifat kimia dan kandungan unsur hara kascing yang dihasilkan setara dengan kompos. Dengan cara-cara tersebut maka dapat pula diperoleh nilai ekonomi ganda dan pengelolaan sampah dengan menggunakan cacing tersebut, yang pertama dari hasil pupuk organik dari kotoran cacing dan yang kedua adalah hasil budidaya cacing yang dimanfaatkan untuk obat dan kosmetik.

  • view 337