Pemanfaatan Limbah Bungkil Kelapa Sawit Hasil Fermentasi Fungi

Raden  Haryo Bimo Setiarto
Karya Raden Haryo Bimo Setiarto Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 31 Januari 2016
Pemanfaatan Limbah Bungkil Kelapa Sawit Hasil Fermentasi Fungi

Pemanfaatan Limbah Bungkil Kelapa Sawit Hasil Fermentasi Fungi Untuk Produksi Pakan Ikan

oleh: R. Haryo Bimo Setiarto

??????????? Dewasa ini permintaan terhadap produksi perikanan budidaya guna memenuhi gizi masyarakat semakin meningkat. Konsumsi ikan penduduk Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kenaikan sekitar 4.6% pada tanuh 2003. Disamping itu, adanya wabah flu burung pada unggas pada tahun 2006 menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani yang cukup aman dikonsumsi. Kenaikan konsumsi ikan oleh masyarakat tersebut berpengaruh sangat besar terhadap kenaikan produksi ikan, mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dengan meningkatnya produksi ikan terutama ikan budidaya maka secara otomatis akan terjadi kenaikan permintaan pakan. Untuk menghasilkan pakan yang bermutu maka ketersediaan bahan baku harus tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas.

Limbah dan hasil industri pertanian seperti bungkil kelapa sawit (BKS) yang merupakan hasil ikutan atau limbah dari pembuatan minyak kelapa sawit. BKS dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pakan dengan berbagai perlakuan agar dapat dimanfaatkan oleh ikan. Komposisi kimianya sangat bergantung pada keadaan buah dan biji yang digunakan dalam proses pengolahan minyak kelapa sawit. BKS ini merupakan salah satu yang biasa digunakan dalam ransum untuk ternak, seperti sapi, kuda dan babi. BKS ini mudah menjadi tengik, terlebih apabila masih mengandung banyak lemak. Secara kimiawi BKS ini memiliki kandungan protein berkisar 17%, kandungan lisin dan methionin relatif rendah dibandingkan dengan sumber protein nabati lainnya, serat kasar tinggi dan kemungkinan sulit dicerna oleh ikan.

?

Trichoderma sp adalah jamur yang dapat melakukan proses perombakan pada bahan yang berserat tinggi. Jamur ini mempunyai sifat selulolitik yaitu merombak selulosa menjadi sellubiosa yang akhirnya menjadi glukosa. Serat kasar BKS dapat diuraikan oleh jamur Trichoderma sp, hal ini akan merubah susunan ikatan zat-zat makanan BKS, sehingga kemungkinan akan mudah dicerna oleh ikan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa BKS yang difermentasi oleh Trichoderma koningii, menghasilkan peningkatan kandungan protein kasar.

Untuk meningkatkan kualitas BKS hal-hal yang perlu dilakukan antara lain adalah proses fermentasi. Dari kegiatan ini diharapkan kandungan seratnya dapat dirombak ke dalam bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat dicerna oleh ikan, kandungan proteinnya dapat meningkat. Dalam proses fermentasi ini akan menggunakan sumber mikroba dan enzim fermentasi dari isi perut hewan ruminansia, yaitu dari isi perut domba atau sapi. Isi perut tersebut disaring, diambil cairannya kemudian dicampur dengan bungkil sawit. Jumlah cairan bibit fermentasi sekitar 10-30%. Campuran bahan tersebut kemudian ditambahkan air agar proses pengadukannya merata dan selanjutnya dimasukkan dalam tong plastik. Untuk mempertahankan suhu media, lingkungan disekitarnya dilengkapi dengan sekam padi. Selama proses fermentasi dilakukan pengecekan terhadap suhu dan pH media yang dilakukan pada awal, pekanan dan akhir proses fermentasi. Lama proses fermentasi ini berkisar 3-4 minggu.

Magot merupakan salah proses biokonversi, dari bahan organik nabati dirubah menjadi organik hewani dengan kandungan protein cukup tinggi. Magot yang dibudidaya berasal dari larva insekta black solder, Hermetia illucens. Insekta ini banyak ditemukan dari daerah tropis hingga subtropis. Ukuran dewasa hidup ditanaman rerumputan dan sari bunga sebagai sumber makanannya.BKS fermentasi disimpan dalam wadah jolang, fibre glas atau bak semen, ditebar secara merata. Dalam tempo seminggu biasanya sudah ditemukan larva magot. Larva tersebut bisa dipelihara dalam wadah sebelumnya atau dikumpulkan untuk dipelihara dalam wadah lain, dengan setiap hari diberi makanan berupa BKS fermentasi. Magot usia 10-14 hari sudah bisa dipanen. Caranya dengan cara memisahkan magot dari substrat, kemudian dicuci. Magot ini bisa dilangsung diberikan ke ikan sebagai pakan, disimpan dalam freezer atau dibuatkan dalam bentuk tepung.

  • view 439