Yusra Mardini: Gadis Suriah yang Mencuri Panggung Olimpiade

Rezky Fathi
Karya Rezky Fathi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Yusra Mardini: Gadis Suriah yang Mencuri Panggung Olimpiade

Apakah hidupmu terasa berat?

Setahun yang lalu, Yusra Mardini, yang kala itu berumur 17 tahun, terjebak bersama 20 pengungsi asal Suriah di atas sebuah perahu kecil yang rusak. Mereka terombang-ambing di perairan Aegea, yang membentang antara Turki dan Yunani. Situasi saat itu antara hidup dan mati. Banyak yang tidak bisa bertahan hidup.

Apa yang Yusra dan saudarinya lakukan sungguh mengejutkan.

Dua wanita ini memilih melompat ke dalam air. Mereka mendorong perahu tersebut hingga selamat sampai ke daratan. Semua yang berada di atas perahu, mayoritas tidak bisa berenang, akhirnya bisa selamat.

Kisah keberanian Yusra tidak terhenti sampai di situ. Ia kembali mencatatkan kisah yang inspiratif. Ia bertanding sebagai Atlet Olimpiade mewakili Skuat Pengungsi Olimpiade, yang baru pertama kali ini ikut serta sepanjang perhelatan Olimpiade. Ia berjuang tidak mewakili negara, bendera manapun. Juga tidak ada lagu kebangsaan.

Jika dirimu telah kehilangan semuanya, manakah langkah yang akan kamu ambil? Menyerah atau seperti halnya Yusra, kamu akan tetap berusaha dan memperjuangkan apa yang kamu punyai?

Pada 2012, rumah keluarga Yusra hancur dalam pembunuhan masal Daraya. Saat itu, pasukan Assad membunuh ribuan warganya sendiri di kediaman mereka. Tiga tahun berikutnya, Yusra dan keluarganya mencoba kembali hidup normal tetapi sekolah tiap minggu terpaksa diliburkan karena kondisi yang tidak aman.

Yusra dan saudarinya memutuskan melarikan diri. Keduanya diselundupkan hingga mencapai pesisir Turki lalu dengan menumpang sebuah perahu, mereka pergi ke Yunani. Mesin perahu yang ditumpangi Yusra dan penuh sesak oleh pengungsi lainnya mati hanya 20 menit setelah bertolak.

Hanya empat orang di dalam perahu tersebut yang bisa berenang tetapi dua pria yang turut melompat ke dalam air bersama Yusra dan saudarinya, cepat menyerah.“Waktu itu aku berpikir, Hah? Aku kan perenang dan bukankah pada akhirnya aku akan mati di air?” Kata-kata itulah yang melecut keberanian Yusra.

Mereka berenang, mendorong perahu hingga 3,5 jam. Bahkan, Yusra masih bisa menghibur anak kecil di dalam perahu yang terlihat ketakutan. “Aku menghiburnya dengan memainkan wajahku agar terlihat lucu.”

Keduanya berhasil membawa perahu tersebut sampai ke Lesbos. Lalu melewati Serbia menuju Hungaria, Austria hingga akhirnya berakhir di Jerman. Berhari-hari ia mengantri demi memperoleh surat bebas suaka dalam cuaca dingin.

Yusra berbagi cerita ia bisa lolos bertanding di Olimpiade Rio 2016 apalagi di nomor bergengsi; gaya bebas 100 meter dan gaya kupu-kupu 100 meter.

“Hal yang paling mendorongku adalah aku ingin melakukan lebih dan lebih lagi. Menangis di sudut (ruangan) sama sekali bukanlah diriku.”

Ia terus mengasah hobi berenangnya tersebut. Ia bergabung dengan klub renang lokal di Berlin. Di situlah bakatnya diketahui oleh Tim Nasional dan Komite Olimpiade Internasional. Ia lalu memutuskan mencoba bertanding di Olimpiade walau tidak mewakili negara mana pun. Kini, setahun setelah perjuangannya menyelamatkan diri melintasi Laut Aegea, ia justru bisa tampil di Olimpiade Rio 2016.

“Aku ingin menunjukkan ke setiap orang bahwa hari tenang akan muncul setelah penderitaan, setelah badai. Aku ingin menginspirasi siapa pun agar melakukan hal bermanfaat dalam kehidupan mereka.”

Betapa pun segalanya terasa makin sulit, ingatlah saat sulit itulah yang justru membuatmu lebih kuat. Jadi saat kamu mempunyai pilihan apakah tenggelam atau berenang, pilihlah yang kedua. Pierre de Coubertin, penggagas Olimpiade modern, pernah mengatakan hal terpenting dalam hidup bukanlah kemenangan melainkan perjuangan.

“Jangan pernah menyerah,” pesan Yusra tentang Olimpiade tahun ini.

 

 

Sumber gambar klik.