Aku hanya Mendengarkan Kambing Gunung

Reza Reinaldo
Karya Reza Reinaldo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juli 2017
Aku hanya Mendengarkan Kambing Gunung

Aku bisa berbicara dengan kambing gunung. Ini semua berawal ketika aku resmi mendapat julukan Kevin-Berak. Aku menangis. Tentu saja. Tapi aku tidak menangis di depan teman-teman yang memberikan julukan itu. Bisa-bisa julukanku malah jadi Kevin-Berak-Tukang-Nangis.

            Kalau mau mundur lebih awal lagi, ini semua karena celana putihku yang wajib dipakai setiap hari Kamis terkena noda kuning di sekitar pantat. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka kalau ini hanyalah kesalahan teknis saat menggosok tapi tidak ada yang mau dengar. Dan karena saat itu posisiku terpojok—dua belas lawan satu—yang padahal cukup satu lawan satu pun juga akan kusebut terpojok, aku kalah. Kedua belas orang itu tiba-tiba menjadi pakar dalam hal Berak di Celana dan memvonisku melakukan tindakan tersebut. Ini diperparah ketika julukan Kevin-Berak menyebar sangat cepat seperti virus.

            Bahkan mungkin jika ada murid yang mengumumkan bakal memanjat Burj Khalifa dengan satu tangan memegang payung dan tangan lainnya untuk menghitung bilangan prima, berita itu tidak akan menyebar secepat Kevin-Berak.

            Aku panik setengah mati sampai-sampai jika ada orang yang menyodokkan jarinya ke tenggorokanku dan aku memuntahkan selusin telur paskah bercat wajah Pennywise, aku tidak akan terkejut.

            Masalahnya, Jenny, cewek yang manis dalam artian metafora, ikut sepakat. Sebenarnya aku tidak ingin mendramatisir tapi rasanya tidak masalah saat Jenny yang kusuka menyebutku Kevin-Berak. Dia selalu tertawa jika menyebut nama itu. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Perasaan mengasihani diri sendiri menguasaiku sepulang sekolah. Aku mengurungkan niat untuk pulang dan memilih kabur ke gunung yang senantiasa menjaga gedung sekolah dari belakang. Jalur akses menuju ke sana tidak dijaga ketat sehingga dijadikan pilihan utama oleh anak-anak SMA untuk berciuman.

            Ini sebenarnya cukup aneh. Memikirkan mereka mempertaruhkan nyawa hanya untuk berciuman di gunung. Maksudku, bagaimanapun juga ini, kan, gunung. Tempat yang dipenuhi binatang buas semacam beruang Grizzly, pecandu narkoba yang sedang saling menyuntik, atau sekelompok suku yang masih menganggap kalau membakar manusia hidup-hidup untuk dewa itu keren. Jadi, menurutku tempat ini lebih cocok untuk lokasi bunuh diri atau hal-hal yang berkaitan dengan kematian yang merepotkan karena butuh waktu bagi orang-orang untuk menemukan jasad di gunung ini.

            Meski aku tidak pintar dalam matematika, rasanya aku bisa menghitung berapa persen perasaan ingin bunuh diri yang kubawa ke gunung ini. Dua puluh persen, mungkin. Aku tidak ingin bunuh diri banget, sih, tapi kalau memang ada makhluk yang ingin membunuhku, aku tidak akan melawannya keras-keras.

            Jadi, di sinilah aku, duduk di atas rumput yang beraroma busuk akibat cuaca yang tidak normal dan perawatan yang hampir tidak ada. Memikirkan popularitasku sebagai Kevin-Berak apakah bisa dibanggakan. Apakah ini yang dimaksud revolusi karakter atau terobosan karakter atau dua-duanya. Apakah aku bisa pulang ke rumah dan berkata kepada ibuku ‘Mom, sekarang aku terkenal di sekolah’ dan ibuku akan menyahut ‘Oh ya? Kompetisi apa yang kau menangkan? Fisika atau matematika?’ dan aku akan menjawab ‘Oh, tidak, mom. Aku terkenal karena dianggap sebagai satu-satunya murid yang pernah berak di celana sepanjang sejarah sekolah itu’ dan apakah setelah aku berkata seperti itu dia akan memelukku dan menggelar pesta atas kepopularitasanku dan mengusung tema Berak Di Celana, dan siapa pun yang datang harus mengenakan celana yang bernoda kuning di sekitar pantat mereka. Setelah lamunan itu rasanya harus memiliki akhir, aku menangis.

            “Apa gunanya menangis?” aku beranggapan sesuatu yang disebut suara batin mulai menghantui pikiranku. Aku hanya menggeleng.

            “Apa gunanya menangis?” suara itu terulang, aku kembali menggeleng.

            “Apa gunanya menangis, goblok?” wow! Suara batin ini mulai kelewatan.

            “Kau yang goblok,” kataku kepada suara batin itu.

            “Aku tidak pernah menangis. Hanya orang goblok yang datang ke gunung untuk menangis. Biasanya aku mendengar mereka merintih. Anak-anak SMA.”

            Tepat setelah batinku bicara seperti itu aku mulai meragukan batinku sendiri. Bagaimana bisa batinku sekasar itu dan lebih tahu soal rintihan daripada aku. Tanpa sikap mendramatisir—menengok perlahan dengan mata melotot atau semacamnya—aku mendapati seekor kambing berdiri di belakangku sambil mengunyah rumput.

            “Jelas bukan kau,” kataku kepada kambing itu, “siapapun yang berbicara denganku tadi, tunjukkanlah dirimu kalau kau peduli pada tangisanku ini.” Entah kenapa aku merasa seperti karakter-karakter perempuan dalam cerita buatan Walt Disney setelah berkata seperti tadi. Dan kambing yang awalnya berdiri di belakangku kini menampakan sosoknya di depanku.

             Kambing gunung buruk rupa warna cokelat dengan tanduk melengkung yang lebih mirip disebut cacat fisik ketimbang berseni, janggut yang biasa kutemukan di wajah kakek-kakek penyihir pedofil, dan mulut yang mengunyah rumput busuk sehingga aroma yang ditimbulkan lebih tepat jika kambing ini baru menelan sampah.

            “Ngomong apa sih, goblok?” suara itu keluar dari gerakan mulunya. Aku beranggapan dia hanya masih mengunyah sisa-sisa rumput menjijikkannya itu sampai dia kembali menggerakan mulut dan suara yang keluar adalah;

            “Aku butuh rumput yang berada di bawah pantatmu nih.”

            Dan di sinilah aku mulai merasa 1. Memikirkan mana yang lebih besar antara, 2. Kekagumanku pada diri sendiri karena bisa bicara dengan kambing gunung atau, 3. Ketakutanku membayangkan tanduk itu menyeruduk tubuhku yang kurus lantaran sempat menghinanya goblok. Tapi, hal pertama yang jelas kulakukan adalah berdiri dan maju selangkah sesuai arahannya agar dia bisa memakan rumput di bawah bokongku. Kambing gunung itu memutariku dan kini dia tepat berada di belakangku lagi, mencabik rumput.

            “Wow! Kau berak di celana?” Bahkan kambing gunung tidak lebih pintar dari manusia.

            “Peduli amat! Kau saja berak di mana-mana!” balasku.

            “Aku ini, kan, kambing, dude,” katanya.

            “Kau bisa bicara dengan manusia?”

            “Tidak. Kau yang bisa bicara dengan kambing.”

            “Tidak, aku tidak bisa bicara dengan kambing.”

            “Ya ampun, bisakah kita sudahi adegan ini? Kita tidak membuat jalan cerita ini maju,” ujarnya, “lagipula, kenapa tukang berak di celana sepertimu nangis sendirian di sini? Wah, rumputnya pahit, pasti tahinya menempel.”

            Dengan keluguan anak SMP yang membawa perasaan bunuh diri sebesar dua puluh persen ke atas gunung dan mendapati dirinya bisa bicara dengan kambing, aku menceritakan segalanya.

            “Mereka memfitnahmu, Kevin,” katanya, tiba-tiba nadanya bijak. Aku mengangguk. “Dengarkan aku. Kau benci sejarah?” aku mengangguk lagi, “Bagus, aku juga benci sejarah, manusia gemar memanipulasi satu kisah menjadi beberapa kisah sehingga tidak ada seorang pun lagi yang tahu mana kisah yang paling benar. Ngomong-ngomong, besok tinggalkan buku sejarahmu di rumah, buat guru sejarah itu tidak melihatmu memegang satu pun benda yang isinya memiliki hubungan dengan perang dunia.”

“Kenapa?” tanyaku, dan dia menjawab dengan keyakinan yang hanya dimiliki oleh spesiesnya, “Dengarkan saja Kambing Gunung ini.”

 

Jadi, aku menurutinya, meninggalkan buku sejarah di atas meja belajar yang tidak pernah dipakai untuk belajar. Aku juga menyempatkan diri untuk browsing di internet untuk bertanya apakah orang-orang yang sudah mau mati diberi kemampuan bisa bicara dengan hewan dan hasilnya nol.

            Pelajaran periode kelima membuatku harus dihukum keluar dari kelas lantaran tidak membawa buku Sejarah. Harusnya aku sudah mempertimbangkan ini dari awal. Atau mungkin juga tidak, sebab Jenny juga tidak bawa buku sejarah. Kami berdua berakhir di depan kelas.

            Butuh waktu lama untuk bisa bicara dengan Jenny. Bahkan aku sempat berpikir untuk mematahkan lenganku sendiri agar ada topik yang diobrolkan. Tapi itu terlalu menyakitkan, jadi aku rasa membahas julukan bisa lebih seru.

            “Aku tidak benar-benar berak di celana. Celanaku hanya kotor,” kataku. Respons Jenny agak lambat. Dia seperti memastikan lebih dulu apakah aku memakai bahasa Yunani atau bukan. Dan dia berkata;

            “Oh, aku juga tahu. Jangan diambil hati. Ini hanya julukan, Kevin. Kau akan diingat sampai mati berkat julukanmu itu.”

            “Aku akan menganggap itu sebagai kalimat penyemangat.”

            “Aku serius, Kevin.” Jenny yang sering menyebut namaku setelah menyelesaikan kalimatnya menurutku amat menggoda. Obrolan kami lancar begitu saja dan entah bagaimana kami membicarakan Kharjah yang tertera di buku Travelling to Infinity ketika kami membicarakan keberadaan Tuhan dan keterlibatannya pada anak-anak SMP yang dihukum keluar dari kelas.

 

Tentu saja makhluk pertama yang akan kuberitahu tentang obrolanku dengan Jenny adalah si kambing gunung. Aku kembali menemuinya di gunung dan menanyakan bagaimana cara dia melakukan ini tapi dia malah menaikkan dagunya dengan sombong dan berkata;

Dengarkan saja.

            Kemudian kami saling duduk bersandingan, mengingat pergaulanku dengan manusia bisa dibilang gagal bukan berarti aku harus bergaul dengan kambing. Tapi kenyataan selalu mengejutkan dan panas selalu menyebalkan dan cinta selalu menyusahkan sebab di kepalaku saat ini hanya ada Jenny, Jenny, dan Jenny.

            “Sepertinya aku suka dengan Jenny. Maksudku, ini jenis suka yang ingin memiliki Jenny seutuhnya dan tidak memperbolehkan siapa pun menyentuhnya. Apa kau ada ide?”

            “Kau mulai terdengar seperti bajingan manja. Tapi, dorongan untuk membantu orang lain selalu mengasyikkan. Nah, dengarkan aku. Kau tidak perlu masuk sekolah mulai besok. Berdiam diri saja di kolong meja kamarmu sampai sekarat.”

Dan itulah yang aku lakukan.

 

Aku menyegel pintu kamar dengan tempat tidur untuk menghindari usaha-usaha orang tuaku membobolnya, mencekokiku makanan yang penuh gizi dan karbohidrat, dan membuatku kehilangan kesempatan untuk sekarat seperti yang dibicarakan Sang Kambing Gunung—aku mulai menambahkan kata Sang setelah menyadari kemampuannya.

Tapi, gambaran sekarat itu agak membingungkan. Aku hampir mati kelaparan. Aku hampir mati kehausan. Aku hampir mati ketika organ-organ pencernaanku kehilangan pekerjaan. Aku hampir mati ketika berpikir kalau tubuh manusia dirancang untuk memakan dirinya sendiri di saat-saat terdesak seperti sekarang ini.

            Selanjutnya aku pingsan dan orang tuaku berhasil masuk setelah mereka mempertimbangkan berapa biaya reparasi untuk pintu kamarku jika mereka memutuskan menggunakan gergaji mesin untuk membobol kamar anak lelakinya yang sedang patah hati (Mereka pikir itu motifnya). Ketika terbangun aku sudah berada di atas tempat tidur dan melihat Jenny duduk di sisiku.

            “Sudah tiga hari kau tidak masuk sekolah. Guru mengutusku untuk menjenguk. Selain itu aku bawa buku Travelling To Infinity. Ada penggalan Kharjah yang sangat cocok untukmu.”

            “Bacakan,” kataku.

            “Karena sakitnya, akankah dia pulih?”

            “Itu terdengar manis dan sedikit gelap.”

            “Itulah tujuannya, Kevin. Kharjah bukan dirancang untuk anak umur lima tahun yang percaya kalau kuda bertanduk itu nyata.”

            “Aku mulai merasa tua.”

            “Gunakan kata ‘dewasa’ dan kau akan merasa baikan.”

            “Aku mulai merasa dewasa dan lapar.”

            “Orang tuamu sudah meninggalkan satu paket makanan Jepang dingin.”

            “Orang tua yang buruk.”

Dan Jenny tertawa. Aku merasa harus ikut tertawa meski kata-kataku barusan tidak dimaksudkan untuk melucu melainkan secara terang-terangan menghina orang tuaku. Tapi ini menyenangkan. Melihat diriku mampu membuat gadis yang kusuka tertawa adalah sebuah pencapaian. Kadang aku berpikir mungkin inilah asal dari segala perang yang ada di dunia ini, para lelaki rela menjadi orang buruk selama gadis yang mereka cintai tertawa.

            Serangkaian obrolanku dengan Jenny mengenai sekolah dan PR dan julukan dan betapa-buruknya-makanan-dingin dan apakah Stephen Hawking bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada dan apakah kau tahu kalau ada kambing yang bisa ngomong di belakang sekolah. Dan semua itu, menciptakan sebuah kepuasan dan kebanggaan yang intensitasnya sama ketika kau berhasil menjajah satu negara besar di Eropa.

 

Aku bersyukur atas tindakanku mencegah keputusan impulsif yang mendorongku untuk menyatakan cinta kepada Jenny hari itu. Orang sekarat tidak boleh berbicara tentang cinta terlalu banyak. Dan semenjak hari itu, kunjunganku ke gunung agak berkurang sebab ada Jenny yang menyahutiku, ada Jenny yang menyebutku Kevin-Berak, ada Jenny yang membicarakan Kharjah denganku.

            Tapi, kesenangan-kesenangan itu hanya bertahan dua minggu. Bukan karena Jenny mati. Bukan karena Jenny pindah sekolah. Ini semua karena Jenny menerima bunga dari cowok SMA yang berarti menerimanya sebagai pacar. Sistem apa sih yang diterapkan anak-anak SMA bejat itu? Apakah bunga adalah objek yang bisa digunakan sebagai jendela hati atau semacamnya? Dan akibat insiden itu, aku kehilangan Jenny seutuhnya.

            Aku kembali ke gunung. Bahkan aku berlari. Hal yang jarang kulakukan kecuali saat gempa bumi atau dikejar Godzilla. Kambing gunung tidak terlihat di tempat biasa dan aku menunggunya. Dan akhirnya kambing itu datang dengan pertanyaan yang sama saat pertemuan pertama kami;

            “Apa gunanya menangis?”

            “Jenny sudah punya pacar,” jawabku.

            “Oh, ya, aku sering melihat Jenny bersama anak SMA di sekitar sini. Mereka bercumbu. Dan berisik.”

            “Padahal aku sudah lumayan dekat dengan Jenny.”

            “Dekat apanya? Kau cuma Kevin-Berak.”

            “Terima kasih sudah mengingatkan.”

Ada jeda yang cukup lama sehingga aku sempat berpikir untuk membunuh kambing ini.

            “Memang rasanya asyik ketika kau mencium seseorang tanpa ada yang dipertaruhkan.” Kambing gunung membuka kembali obrolan. “Semua orang pernah dalam posisi ini—tapi, lebih dari itu, kau mungkin bisa memiliki Jenny—lalu kenapa?—dan kenyataannya kau tidak bisa memiliki Jenny—lalu kenapa?—dan kau dipanggil Kevin-Berak—lalu kenapa?—mungkin anak SMA itu bisa menciumi Jenny bulan ini, dan masih bisa melakukan itu dua tahun lagi, dan empat tahun lagi, dan lima tahun lagi, dan apakah semua itu mungkin? Mungkin. Karena Jenny dan anak SMA itu saling memungkinkan itu terjadi, tapi di sisi lain, mereka juga memungkinkan untuk berpisah atau bahkan saling membunuh.”

            “Teruskan,” kataku.

            “Apalagi?”

            “Entahlah. Aku hanya ingin mendengarkanmu.”

            “Kau menungguku untuk menyuruhmu membunuh pacar Jenny? Tidak perlu. Aku bisa saja membunuh siapa pun yang datang ke gunung dengan tanduk persembahan Satir ini, tapi akhirnya kita hanya akan seperti sekelompok pembunuh bayaran tanpa dibayar. Dan aku akan menjadi kambing gunung yang jahat dan akses menuju kesini akan ditutup oleh polisi dan kau akan kebingungan mencari lokasi bunuh diri. Dan kupikir kau tidak perlu mencumbu Jenny untuk menandai bahwa kau memiliki Jenny, kau hanya perlu memungkinkan itu terjadi. Keberadaan anak SMA itu hanya kemungkinan lain yang lebih besar. Dia mungkin lebih beruntung dan juga berbicara dengan kambing gunung yang lebih pintar dariku. Tapi siapa yang peduli? Di sampingku ada seorang Kevin-Berak, bung, dan siapa pun yang melawannya sudah pasti menang dan karena itu jangan jadikan Kevin sebagai lawan karena dia terlalu mudah untuk dikalahkan. Dan itu akan menjadi keuntunganmu. Saat orang tidak menganggapmu sebagai lawan berisiko, kau bisa mengendap-endap di belakang mereka sambil memegang panah berlumur darah tikus.”

            “Barangkali aku harus ke sini terus untuk mendengarkanmu.”

            “Itu bukan ide yang terlalu bagus. Tapi, yeah, selama aku tidak pindah ke Himalaya kupikir tidak masalah.” Kambing gunung itu mendongak dan memandang langit dengan cara yang anggun.

            “Mengerti,” kataku, “apa kau meninggalkan pacarmu di Himalaya?” Kami sudah tidak membahas Jenny dan pacar keparatnya.

            “Tidak. Pacarku dimasukkan ke dalam boks kayu dan dibawa pergi oleh spesies kalian.”

            “Yah, mewakili spesiesku, kami minta maaf.”

            “Lupakan. Pacarku itu selingkuh. Sebenarnya aku bersyukur dia dibawa pergi.”

            “Hei, kupikir kita senasib,” kataku

            “Begitukah?”

            “Barangkali.”

            “Senasib,” katanya.

            “Senasib,” kataku. Dan kami pun bersalaman.

            “Teman,” kataku.

            “Teman,” katanya. Kami bersalaman lagi dan kambing gunung, untuk pertama kalinya, mengembik.

Dan sejak hari itu dia tidak pernah bicara lagi.

  • view 69