Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 14 Desember 2017   15:59 WIB
Perpustakaan  Modern di Tengah Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perpustakaan dalam arti tradisional adalah termpat menyimpan koleksi buku dan majalah. Koleksi ini bisa dimiliki oleh perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah komunitas atau institusi. Koleksi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat umum yang pada umumnya tidak mampu membeli buku dalam jumlah tertentu atas biaya sendiri.

Perpustakaan dalam bahasa inggris disebut ”Library” berasal dari bahasa romawi yaitu”Librarium” yang terdiri dari kata Liber artinya buku sedangkan armarium  artinya Lemari. Jadi dilihat dari kata asalnya, berarti lemari yang di dalamnya terdapat kumpulan buku- buku.

Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia.

Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penyimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD. Selain itu, perpustakaan juga menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.

Perpustakaan terus dikembangkan bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak sedikit upaya para pustakawan untuk mengembangkan perpustakaan di jaman modern ini. Namun pada prinsipinya perpustakaan modern berarti memberikan pelayanan yang semakin baik kepada pengunjungnya.

Ilmu atau informasi yang dibutuhkan pengunjung juga berkembang atau berubah. Sehingga pustakawan juga harus mengembangkan diri untuk antisipatif dalam soal ini agar dapat terus menarik minat pengunjung untuk tetap mengunjungi perpustakaan.

Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut ataupun tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).

Perpustakaan mempunyai peran penting dalam dunia pendidikan karena dengan adanya perpustakaan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan dapat mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Jika perpustakaan masih kurang lengkap dalam memberikan ilmu maupun informasi maka akan menghambat pertumbuhan ilmu maupun informasi kepada masyarakat. Perkembangan jaman yang terus meningkat juga menyebabkan pengunjung mulai beralih ke media informasi yang lebih canggih dan cepat.

Berdasarkan ketentuan peraturan tahun 1980, maka tugas pokok Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan, serta pelestarian terbitan Indonesia sebagai khazanah kebudayaan serta menjamin pemeliharaan terbitan Indonesia. Untuk melaksanakan tugas tersebut, cakupan fugsi perpustakaan nasional adalah sebagai berikut :

  • Mengumpulkan, mengatur, dan menyediakan hasil karya tulisan yang di terbitkan di Indonesia.
  • Menjadi perpustakan deposit dari terbitan indonesia, baik terbitan pemerintah maupun swasta.
  • Mengumpulkan, mengatur, dan menyediakan terbitan PBB dan negara lain, khususnya dari kawasan ASEAN.
  • Menentukan standar dari sistem, organisasi, pelayanan, dan mutu koleksi perpustakaan di Indonesia.
  • Menyelenggarakan kursus tingkat nasional bagi pegawai perpustakaan.
  • Memprakarsai kerjasama dengan lembaga di luar negri, misalnya dalam pertukaran publikasi, peminjaman antar perpustakaan, penyusun bibliografi, dan pembuatan microfilm.
  • Menyusun dan menerbitkan bibliografi nasional.
  • Dan menyusun catalog induk.

Perpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar. Perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan sistematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di sekolah tempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, terkait dengan kemajuan bidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajar-mengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan.[1]

Perpustakaan merupakan jantungnya dunia pendidikan karena berbagai macam informasi bisa kita dapatkan di perpustakaan. Perpustakaan membantu masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan melalui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka:

  • Dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesimbungan
  • Dapat tanggap dalam kemajuan pada berbagai lapangan ilmu pengetahuan, kehidupan sosial dan politik
  • Dapat memelihara kemerdekaan berfikir yang konstruktif untuk menjadi anggota keluarga dan masyarakat yang lebih baik
  • Dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, membina rohani dan dapat menggunakan kemempuannya untuk dapat menghargai hasil seni dan budaya manusia
  • Dapat meningkatkan tarap kehidupan sehari-hari dan lapangan pekerjaannya
  • Dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan nasional dan dalam membina saling pengertian antar bangsa
  • Dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan sosial.

 

Konsep Perpustakaan Modern

Perpustakaan modern sekarang terkait dengan digital library, online library, virtual library, library without wall, e-library. Perpustakaan modern adalah perpustakaan yang telah mengalami pergeseran dari perpustakaan pengelola koleksi (collection management) menjadi pengelola data (data management), menuju pengelola informasi (information management), dan kedepan menjadi pengelola pengetahuan (knowledge management). Perpustakaan Modern, tidak saja menyediakan ruang dan buku tapi juga tanpa batas waktu dan ruang dengan koleksi buku dan non buku atau digital, bentuk koleksi digital bisa berupa slide, micro film, rekaman audio, koleksi digital (e-Journal dan ebook).

Contoh perpustakaan modern adalah:

Perpustakaan Digital

Perpustakaan digital adalah perpustakaan dimana seluruh koleksinya sudah berbentuk digital. Digital Library Federation di Amerika Serikat memberikan definisi perpustakaan digital sebagai organisasi-organisasi yang menyediakan sumber-sumber, termasuk staff dengan keahlian khusus, untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan, dan menjamin keberadaan koleksi karya-karya digital sepanjang waktu sehingga koleksi tersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu atau masyarakat terpilih, secara ekonomis dan mudah.

Berdasarkan International Conference of Digital Library 2004, konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi. Perpustakaan digital ini banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan Universitas di Amerika Serikat.

Perpustakaan Hibrida

Perpustakaan hibrida adalah perpustakaan dimana koleksinya terdiri dari koleksi cetak dan juga koleksi elektronik. Sementara teknologi yang digunakan sebagai pendukung dalam aktivitas perpustakaan seperti temu kembali informasi. Proyek perpustakaan hibrida ini terutama banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan universitas di Inggris. Perbedaan yang mendasar antara perpustakaan digital dan perpustakaan hibrida adalah tentunya jenis koleksinya, dimana perpustakaan digital seluruh

koleksinya berbentuk digital sementara koleksi untuk perpustakaan hibrida ada 2 jenis yaitu cetak dan elektronik. Selain itu, perpustakaan digital tidak memerlukan sebuah bangunan (gedung) untuk koleksinya, karena user hanya tidak mengakses saja lewat internet, sementara perpustakaan hibrida masih memerlukan sebuah gedung untuk menempatkan koleksinya. Tentunya perpustakaan hibrida ini membutuhkan pustakawan atau ahli informasi untuk membantu para penggunanya sementara perpustakaan digital tidak membutuhkan pustakawan karena memang sifatnya yang seperti itu.

 

Menuju Perpustakaan Modern

Perpustakaan pada umumnya memiliki misi untuk menyediakan layanan informasi terbaik kepada para penggunanya. Namun kini perannya semakin tergeser seiring dengan berkembangnya teknologi untuk pemenuhan kebutuhan informasi.

Di era modern ini masyarakat cenderung lebih banyak menggunakan internet ketimbang datang ke perpustakaan untuk mendapatkan suatu informasi. Maka dari itu para pustakawan harus lebih aktif mengikuti perkembangan dunia modern untuk menciptakan layanan yang ideal dan diminati oleh masyarakat luas.

Untuk dapat berkembang ke perpustakaan modern, maka diperlukan beberapa tahap sebagai berikut:

  1. Packaging Data dan Informasi

Main service perpustakaan adalah koleksi, tapi sekarang koleksi memiliki pengertian yang luas, tidak saja teks book, tapi bentuk digital dan lainnya. Sehingga perlu ada penyesuaian dan peningkatan kemampuan untuk melakukan itu. Data dikemas menjadi media menarik, data bisa disajikan dengan simple dan mudah diakses dimanapun dan kapanpun. Data diperlukan untuk mensupport pekerjaan dan berkontribusi dalam pengambilan keputusan manajemen. Untuk itu peran perpustakaan tidak saja penyedia tapi memproses dan menyajikan dengan mudah.

Tehnologi adalah alat yang memudahkan (menyertai) penyajian informasi dan data, informasi adalah sesuatu yang belum mengalami proses, data adalah informasi yang diproses menjadi sumber referensi yang mudah dipahami dan bermanfaat. Contoh google adalah penyaji informasi yang sifatnya adalah instan, tidak bertanggung jawab atas kebenaran dan contens informasi, wikipidia lebih terarah karena setiap penyaji informasi harus login terlebih dahulu. Perpustakaan bisa berfungsi penyaji informasi dan data yang lebih akurat, bertanggung jawab dan focus pada kebutuhan pengguna yang dilayani (target group).

Website adalah salah satu media yang bisa digunakan untuk pencarian data dan informasi, dengan web site memudahkan pengguna menelusuri apa yang dibutuhkan, dan merupakan penyedia layanan yang dikemas menarik dan selengkap mungkin sesuai yang diharapkan semua pihak.

  1. Social Networking

Sebagaimana kita ketahui, di era digital sekarang ini, sudah tumbuh sebuah media baru, di mana konsumen dan media sudah tidak bisa dibedakan lagi. Melalui social media, semua bisa menjadi media dan sekaligus konsumennya. Media sosial bisa digunakan untuk menyebarkan aneka informasi atau menyebarkan segala bentuk kegiatan yang mungkin dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. Karena kemudahan penggunakan social networking, maka seluruh aktivitas sebaiknya disebarkan, sehingga bisa diserap oleh semua social networking-nya.

Platform yang digunakan dalam social networking misalnya Twitter, facebook, My Space, Youtube, Linkedln, Bebo, Flickr, Habo, Hi5, Twoo, Netlog, BBM.  Tidak semua platform harus digunakan. Jumlah pengguna platfor bisa duijadikan pertimbangan atau platform mana yang paling cocok dengan informasi yang akan kita sebarkan.

Sisi positif penggunaan social networking adalah efisiensi waktu dan biaya untuk menyebarkan aneka informasi yang diperkirakan dibutuhkan oleh masyarakat. Media sosial networking bisa dimanfaatkan perpustakaan untuk penyebaran informasi keberadaan buku baru, agenda kegiatan, kegiatan sosial, mengadakan pooling, evaluasi, assessment pengguna, pendidikan pengguna dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan secara interaktif dengan pengguna.

Social networking memudahkan pengguna, memudahkan petugas layanan, dan terjadi efisiensi biaya. Social networking mempertemukan ide dan interaksi social yang baik. Segala kekurangan atau dampak negatif social networking bisa dihindari dengan memaksimalkan fungsi positif dan menghindari penggunaan yang berdampak negatif.

  1. Data Publishing

Ketika social networking sudah diikuti oleh banyak pengguna, maka data publishing bisa dilakukan di social networking. Ini bisa dilakukan tertutup khusus anggota saja, dan yang bukan anggota tidak bisa akses sebelum mendapatkan persetujuan dari administrator. Data yang penting untuk dipublish adalah koleksi buku baru, request buku, daftar pengunjung, jumlah peminjam, yang paling banyak melakukan peminjaman, anggota aktif.

 

AKHIRUL KALAM

Saat ini gejala electronic book (e-book) atau buku elektronik mulai booming dan menjadi sesuatu yang perlu direspon. Mengapa? Karena secara tidak langsung e-book akan mempengaruhi aktivitas perpustakaan. Khususnya dalam hal koleksi monograf.

Akankah e-book akan mengubah fungsi perpustakaan. Bagaimana nasib perpustakaan jika e-book mengglobal. Pantaskah dengan perkembangan teknologi, perpustakaan terus berdiam diri dengan layanan konvensional. Dan apakah perpustakaan dapat menjamin pelanggan tetap terpuaskan dengan layanan yang selalu monoton dan kurang terjamah teknologi. Semua tantangan ini patut dijadikan perhatian untuk melangkah kepada perpustakaan modern yang mempunyai daya saing berkualitas.

E-book tidak terlepas dari pengaruh teknologi. Dan teknologi dapat mengubah sesuatu menjadi serbamungkin. Bisa jadi perkembangan e-book akan semakin jauh ke arah tersedianya fasilitas audiovisual, 3-dimensi bahkan film yang akan sangat berguna dalam membantu pemahaman isi buku. Kenyamanan membaca menjadi impian pelanggan perpustakaan sebagai seorang konsumen.

Oleh karena itu perpustakaan – dengan pustakawan di dalamnya – dituntut mampu mengatasi permasalahan ini dengan tetap menyajikan informasi bagi semua lapisan pelanggan secara mudah dan murah (baca : gratis). Dan salah satu jalan yaitu pemanfaatan teknologi dengan cara kreatif sehingga menghasilkan produk (informasi) yang bermanfaat. Akhirnya sasaran di masa depan dapat tercapai yaitu perpustakaan yang berwawasan teknologi yang memihak kapada semua lapisan pelanggannya.

Pada intinya ialah perpustakaan harus berkembang mengikuti arah perkembangan teknologi tetapi juga tetap mengedepankan orientasi pengguna perpustakaan tersebut. Jangan sampai ketika perpustakaan berkembang terlalu jauh justru tidak bisa mengakomodir kebutuhan pengunjungnya. Itu hanya akan jadi kesia-siaan belaka sebagaimana tidak tercapainya tujuan dan fungsi perpustakaan tersebut pada awalnya.

Perpustakaan, baik yang  konvensional, modern, hybrid dan atau sebagainya memang sudah seharusnya tidak selalu mengikuti pakem yang kolot. Perpustakaan harus berbenah menuju ke area yang lebih dan semakin terbuka dengan dinamika masyarakat yang notabene sebagai penggunanya.

Perpustakaan akan lebih nyaman ketika menjadi area terbuka dimana semua pengunjung bisa berinteraksi sekaligus bertukar informasi secara cerdas dan dalam batasan-batasan yang tidak mengekang hasrat pengguna maupun pustakawan. Perpustakaan, pustakawan dan pengunjung haruslah menjadi mitra yang bisa saling berbagi dalam kancah dunia informasi, bukan sebagai mitra vertikal yang berdasarkan kepentingan.

Penulis: Retno Hermawati

 

DAFTAR PUSTAKA

Seeye, Katharine Q. 2014. Breaking Out of the Library Mold, in Boston and Beyond. Diakses dari http://www.nytimes.com/2014/03/08/us/breaking-out-of-the-library-mold-in-boston-and-beyond.html

http://duniaperpustakaan.com/2010/02/19/strategi-penerapan-teknologi-informasi-digital-library-di-perpustakaan-dan-pusat-informasi/

Yusuf, Pawit M. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Kencana Prenada Media, Jakarta.200

Alamsyah, Arief. 2008. The Way to Happiness. Malang: Az-Ziyadah Media

______, 2006. Indonesia Urutan Ke-29 Tingkat Minat Baca Terendah di Asia. http://www.tempointeraktif.co.id.

Rimbarawa,Kosam dan Supriyanto.2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan.Jakarta: IPI, Pengurus Daerah DKI Jakarta.

Achmad, Et all. (2012). Layanan Cinta: Perwujudan Layanan Prima Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.

https://artikelpustakawan.wordpress.com/2014/10/07/dinamika-perpustakaan-modern-mendobrak-pakem-perpustakaan-tradisional/

Karya : Nana Retno