Layanan Perpustakaan Modern di Era Digital

Retno Hermawati
Karya Retno Hermawati Kategori Budaya
dipublikasikan 14 Desember 2017
Layanan Perpustakaan Modern di Era Digital

Misi perpustakaan yang utama dalam mencerdaskan bangsa adalah dengan menyediakan layanan informasi terbaik bagi penggunanya. Seiring berkembangnya teknologi, peran perpustakaan semakin tergeser untuk pemenuhan kebutuhan informasi.

Tak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat luas sekarang telah beralih atau lebih banyak menggunakan internet untuk mendapatkan informasi daripada datang ke perpustakaan.

Tugas mempertahankan perpustakaan menjadi lebih berat karena harus bersaing dengan sistem penyediaan informasi yang berkembang pesat bersama dengan teknologi saat ini. Para pustakawan harus lebih aktif untuk menciptakan layanan perpustakaan yang modern dan ideal serta diminati oleh masyarakat luas.

Sebuah perpustakaan diakatakan modern jika ia dapat memberikan layanan jasa informasi yang menarik untuk kebutuhan penggunanya.

Di era digital, berbagai macam bentuk informasi sudah disajikan dalam format digital yang dapat dengan mudah diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat melalui bantuan teknologi informasi internet. Teknologi ini semakin berkembang dengan pesat.

Karena kemudahannya, tidak sedikit masyarakat khususnya mahasiswa yang memilih untuk mengunduh dan memiliki buku digital (e-book) untuk dibaca di rumah daripada membeli buku-buku yang tersedia di toko atau meminjam buku-buku di perpustakaan. Hal ini memaksa perpustakaan untuk menawarkan sesuatu yang baru dan unik agar tidak ditinggalkan oleh masyarakat.

Peran perpustakaan, khususnya, di era digital seperti saat ini harus dikembangkan tidak hanya menjadi tempat untuk kegiatan membaca dan meminjam buku saja tapi juga menjadi tempat untuk beragam aktivitas lainnya yang didukung dengan lingkungan perpustakaan yang menarik dan nyaman serta berbasis teknologi.

Perpustakaan modern tidak hanya menyediakan ruangan yang memiliki desain elegan dengan beragam jenis buku, mereka juga harus menyediakan ruang tanpa batas waktu dengan koleksi buku serta koleksi digital lainnya.

Perpustakaan harus memberi layanan prima yaitu layanan yang cepat, tepat, mudah dan berorientasi kepada pemustaka agar mereka puas.

Layanan E-library merupakan contoh dari penerapan perpustakaan modern. Perpustakaan ini menggunakan teknologi informasi dalam seluruh kegiatannya, namun perpustakaan ini juga menyimpan informasi tercetak dan informasi elektronik.

Dengan memanfaatkan sistem informasi maka sistem peminjaman dan pelayanan informasi kepada pemustaka akan berubah. Disini disediakan katalog yang dapat diakses oleh umum secara langsung, yaitu OPAC (Online Public Access Catalogue). Biasanya E-library memiliki sebuah website untuk menampilkan segala jenis koleksi perpustakaan yang mereka miliki.

Sehingga para pemustaka dapat menikmati layanan perpustakaan ini tanpa batasan ruang dan waktu. Pemustaka bisa saja menikmati layanan perpustakaan ketika malam hari, bahkan ketika sedang berada di tengah kemacetan jalan mereka tetap bisa menikmati layanan perpustakaan ini.

Sitem perpustakaan digital ini memiliki kelebihan bahwa segala informasi yang tersedia dapat diakses oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Perpustakaan ini menggunakan pelayanan melalui e-mail atau surat elektronik.

Selain itu perpustakaan modern juga harus memiliki desain dan layanan yang berbeda. Misalnya sebuah perpustakaan bisa saja menyediakan layanan self-service check-in.

Layanan ini memungkinkan pemustaka untuk memeriksakan bahan pustaka yang akan mereka pinjam atau kembalikan tanpa bantuan pustakawan. Bahkan sebuah perpustakaan dapat menggunakan sistem RFID untuk pengamanan.

Jadi sistem ini bekerja seperti mesin scanner, mesin ini dapat mendeteksi buku mana yang diambil tanpa dipinjam terlebih dahulu. Mesin ini dapat mendeteksi sebuah praktek pencurian terhadap bahan pustaka yang ada di perpustakaan.

 

Perpustakaan Modern Umum Boston

Sebagai contoh Perpustakaan Umum Boston, yang didirikan pada tahun 1848 dan merupakan perpustakaan umum tertua di negara tersebut, bergerak cepat ke arah itu. Dengan renovasi besar yang telah berlangsung, lembaga ini melanggar dari pakem perpustakaan pada umumnya untuk menunjukkan perubahan yaitu sisi yang lebih ramah sisi ke pengunjung. Rancangan interior meliputi ruang ritel baru, bagian souped-up untuk remaja, dan bangku bar tinggi di mana pengunjung dapat membawa laptop mereka dan melihat keluar ke bagian atas Boylston Street.

“Anda akan dapat duduk di sini dan bekerja sambil melihat dunia berlalu,” kata Amy Ryan, presiden perpustakaan, pada tur baru-baru. “We’re turning ourselves outward,” lanjutnya.

Rencana tersebut mungkin mengejutkan bagi siapa pun yang berpikir bahwa di era digital, perpustakaan yang mereka pikir ibarat suaka sunyi dari masa lalu, telah melangkah lebih jauh.

Penggunaan perpustakaan telah meningkat di seluruh negeri untuk berbagai alasan, para pustakawan mengatakan, termasuk resesi, ketersediaan teknologi baru dan karena perpustakaan telah me-reimagining sendiri. Di antaranya yang lebih inovatif adalah Perpustakaan Umum Chicago, yang menawarkan maker lab gratis, dengan akses ke printer 3-D, pemotong laser dan mesin penggilingan. The Lopez Island Library di Washington State menawarkan instrumentasi musik dalam mode checkout-nya. Di New York, Perpustakaan Pertanian di Cicero, bagian dari Perpustakaan Umum Northern Onondaga, meminjamkan sebidang tanah yang pelanggan dapat belajar praktik penanaman organik di sana.

Seiring dengan inovasi baru tersebut, perpustakaan menyajikan tampilan secara lebih terbuka dan dramatis terhadap dunia luar, menggunakan banyak kaca, menyediakan tempat duduk yang nyaman dan memungkinkan untuk membawa makanan dan minuman.

 “Ini adalah apa yang terjadi di banyak perpustakaan, kreasi yang makin terbuka dan lingkungan fisik yang nyaman,” kata Joe Murphy, seorang pustakawan dan konsultan perpustakaan di Reno, Nev. “Gagasan tersbut tidak hanya untuk meningkatkan kehadiran tetapi untuk memaksimalkan kreativitas masyarakat.”

Perpustakaan Boston yang baru ini menyediakan Teen Center (pusat remaja) yang kemudian diberi nama dengan Ruang Homago di mana para remaja bisa ‘hang out‘, main-main dan ‘geek out‘. Ruang ini juga dilengkapi dengan lounge, ruang bermain, lab digital, restoran, software dan hardware untuk merekam musik dan ruang komik. Desain ruang yang demikian biasa disebut dengan eco urban chic.

Pada era 70-an, pengunjung perpustakaan akan datang ke pustakawan, mengajukan pertanyaan dan sang pustakawan akan mencoba menemukan jawaban. Namun, sekarang ini sebaliknya, pengunjung yang datang ke perpustakaan datang dengan jutaan informasi yang dia dapatkan di internet dan mereka meminta pustakawan untuk membantu menyaring informasi yang paling relevan untuk mereka. Paling tidak, perpustakaan masih menyediakan buku ketika satu perpustakaan di San Antonio misalnya, telah melakukan lebih jauh dari itu. The BiblioTech bisa jadi hanyalah sebuah jajaran komputer, e-reader, dan ipad bar.

Tujuannya adalah sama dengan perpustakaan tradisional yaitu untuk membantu pelanggan mengakses informasi. Tapi apakah masyarakat akan mengambil untuk itu adalah pertanyaan lain. The Santa Rosa Library, perpustakaan cabang di Tucson beralih menjadi perpustakaan digital pada tahun 2002, tetapi beberapa tahun kemudian, mereka membawa kembali buku. Sebabnya tak lain karena banyak konten tidak tersedia secara digital, dan pengunjung ingin koleksi tercetak. Ketika e-book tengah mencari popularitas, koleksi tercetak telah dan masih menjadi raja. Pada 2012, menurut Pew Research Center, 28 persen orang dewasa secara nasional membaca e-book, sementara 69 persen membaca buku cetak dan hanya 4 persen yang membaca e-book saja.

 

Perpustakaan Modern Telkom University

Mengusung konsep Green Futuristic, perpustakaan Telkom University menjadi role model bagaimana membangun perpustakaan yang modern di Indonesia. Di bangun di atas lahan seluas 3.200 meter persegi dan sanggup menampung kapasitas hingga 1.000 orang, Open Library ini memfasilitasi dirinya dengan ruang katalog, mini teater, ruang diskusi minimalis, ruang multimedia, ruang akses koleksi digital, area baca lesehan, refreshment area—mirip kafe—disediakan bagi pemustaka yang ingin rehat, dan tempat ibadah. Ke semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum dan gratis.

Dukungan teknologi informasi digital menjadi ruh perpustakaan telkom dijalankan. Adanya digitalisasi bisa mewujudkan networking dengan berbagai lembaga perpustakaan, baik di dalam maupun di luar negeri. Itu disampaikan oleh Rektor University Telkom Mochamad Ashari saat peresmian perpustakaan barunya yang juga dihadiri Kepala Perpustakaan Nasional di Bandung awal tahun 2017 ini.

Ada tiga parameter dalam menunjang eksistensi perpustakaan, yakni tempat, konten atau isi, dan jenis layanan, tambah Ashari. Sistem informasi perpustakaan Telkom University sudah terintegrasi sehingga memudahkan pengoperasian untuk mengolah dan mengelola berbagai koleksi ilmu pengetahuan didalamnya.

Open Library milik kampus Telkom ini ditujukan untuk  benar-benar memanjakan pemustaka. Di sini kaum muda bisa menyimak buku bacaan dengan santai. Mereka bisa lesehan berlantai rumput sintetis. Kursi juga tersedia bagi yang menginginkannya. Di bagian area yang lain, tersedia ruangan khusus yang bisa digunakan untuk berdiskusi. Ada juga ruang mini teater untuk menikmati sajian koleksi video. Uniknya, bantalan duduk anak tangga di perpustakaan ini rupanya bisa digeser mengikuti selera. Cocok bagi pengunjung perpustakaan yang ingin berselfie-ria.

Perpustakaan modern milik Telkom University ini diharapkan dapat memberikan kontribusi maksimal yang tidak hanya di lingkup civitas akademika Telkom saja tapi juga bagi masyarakat. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, di manapun, perpustakaan adalah sebagai salah satu sarana untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan Telkom University menjadi contoh bagaimana membangun perpustakaan yang modern dengan berbagai keunggulan fasilitas mutakhir yang dimilikinya.

Meski demikian, buku cetak tetap tidak tergantikan sampai kapanpun. Namun, dengan kecanggihan teknologi saat ini, semua bahan bacaan bisa dilihat lewat berbagai aplikasi di hand phone, seperti Perpusnas yang telah mengadopsi layanan bacaan (e-book) i-Pusnas melalui fitur HP dengan terlebih dahulu mendown-loadnya lewat aplikasi play store.

Masyarakat tanpa diberikan bahan bacaan yang berkualitas diibaratkan domba yang siap digembala. Kecerdasan masyarakat akan stagnan. Jauh dari kemerdekaan berpikir. Dampaknya, kreativitas manusia lambat laun akan mati, karena jauh dari keterampilan dan pengetahuan yang diperolehnya.

 

Perpustakaan Modern Universitas Indonesia

Perpustakaan UI, dikenal dengan nama The Crystal of Knowledge, banyak diminati oleh para pengunjung di tengah-tengah maraknya media digital. Pencapaian tersebut dikarenakan fasilitas yang ditawarkan oleh perpustakaan ini unik dan relevan dengan kondisi saat ini.

Perpustakaan ini memiliki 8 lantai ini yang menyediakan tempat untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti membaca, kuliah umum, seminar, pelatihan, lokakarya, rapat, sidang, pameran, bedah buku, bedah film dan aktivitas lainnya. Perpustakaan UI ini memang memfasilitasi beragam aktivitas akademik dan non-akademik

Perpustakaan ini juga menyediakan ruangan khusus untuk mengakses internet, ruang baca, ruangan diskusi, ruang belajar khusus (kubikus) bagi mahasiswa doktoral, ruang apung yang bisa juga digunakan untuk diskusi, ruang cinema untuk bedah film, ruang tamu, 3 ruang sidang, ruang auditorium, dua ruang laboratorium komputer, dan fasilitas penunjang seperti toko buku, kafe, bank, tempat fitnes, hingga tempat kuliner yang siap memanjakan perut pengunjung yang sedang keroncongan. Lengkapnya fasilitas yang disediakan membuat perpustakaan ini tidak pernah sepi oleh pengunjung dan menjadi pusat pertemuan tidak hanya bagi civitas akademika UI tapi juga masyarakat luas dari berbagai latar belakang.

Ada tiga hal yang membuat perpustakaan UI banyak diminati oleh para pengunjung. Pertama, ruang-ruang di perpustakaan UI mendukung beragam aktivitas akademik dan non-akademik. Kedua, lingkungan perpustakaan sangat menarik dan nyaman. Ketiga, perpustakaan UI dilengkapi sistem teknologi informasi yang mutakhir.

Bentuk bangunan perpustakaan UI sengaja didesain membentuk potongan kristal, yang merupakan sesuatu yang lama, teruji dan berkilau, mensimbolkan bahwa koleksi-koleksi yang tersedia di perpustakaan ini sangat lengkap dan mampu memberikan pencerahan-pencerahan bagi mereka yang menggunakan dan membentuk peradaban manusia. Tidak hanya itu, dinding kaca perpustakaan yang dibuat menghadap ke arah danau kenanga akan memanjakan mata, mendorong minat belajar, dan membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.

Meskipun koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan UI ini sangat banyak, tapi para pengunjung tidak mengalami kesulitan dalam mencari buku yang mereka inginkan karena disediakan teknologi informasi mutakhir yang dirancang untuk mempermudah dalam mencari, meminjam dan mengembalikan buku seperti OPAC (Online Public Access Catalog) yang digunakan untuk mencari informasi berupa kode huruf dan nomor buku yang sedang dicari, MKIOSK untuk melakukan peminjaman dan pengembalian secara mandiri, BOOKDROP untuk mengembalikan buku secara mandiri, dan BOOKS DISPENSER untuk meminjam buku bagi sivitas akademika UI yang sudah menjadi anggota perpustakaan UI. Tidak hanya itu seluruh ruangan perpustakaan UI ini tedapat koneksi Wi-Fi yang semakin mempermudah sivitas akademika UI dalam mengakses internet

Pengembangan peran perpustakaan yang telah dilakukan oleh perpustakaan UI dalam menghadapi era digital menjadikannya perpustakaan modern dan pusat peradaban yang menjadi ikon Universitas Indonesia dan negara Indonesia di mata dunia.

 

AKHIRUL KALAM

Pada intinya ialah perpustakaan harus berkembang mengikuti arah perkembangan teknologi tetapi juga tetap mengedepankan orientasi pengguna perpustakaan tersebut. Jangan sampai ketika perpustakaan berkembang terlalu jauh justru tidak bisa mengakomodir kebutuhan pengunjungnya. Itu hanya akan jadi kesia-siaan belaka sebagaimana tidak tercapainya tujuan dan fungsi perpustakaan tersebut pada awalnya.

Perpustakaan, entah itu yang menganggap dirinya sebagai konvensional, modern, hybrid dan atau sebagainya memang sudah seharusnya tidak selalu mengikuti pakem yang kolot. Perpustakaan harus berbenah menuju ke area yang lebih dan semakin terbuka dengan dinamika masyarakat yang notabene sebagai penggunanya. Sebagai pengguna ataupun pustakawan, dalam kacamata saya pribadi, akan merasa lebih nyaman ketika perpustakaan menjadi area terbuka dimana kita bisa berinteraksi sekaligus bertukar informasi secara cerdas dan dalam batasan-batasan yang tidak mengekang hasrat pengguna maupun pustakawan. Perpustakaa, pustakawan dan pengunjung haruslah menjadi mitra yang bisa saling berbagi dalam kancah dunia informasi, bukan sebagai mitra vertikal yang berdasarkan kepentingan.

Penulis: Retno Hermawati

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pnri.go.id/2017/02/grand-launching-perpustakaan-telkom-university-perpustakaan-modern-berkonsep-green-futuristic/

https://artikelpustakawan.wordpress.com/2014/10/07/dinamika-perpustakaan-modern-mendobrak-pakem-perpustakaan-tradisional/

http://gerryliyana.weebly.com/perpustakaan-ui-perpustakaan-modern-di-era-digital.html

Achmad, Menuju Kepuasan Pemustaka (Towards Library Users Satisfaction),  fisip.unair.ac.id/image/pdf/achmad.pdf, diakses tanggal 7 Januari 2012, Jam 12.10 WIB.

Fandy Tjiptono,  2008. Strategi Bisnis. Yogyakarta : Andi.

Rimbarawa,Kosam dan Supriyanto.2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan.Jakarta: IPI, Pengurus Daerah DKI Jakarta.

Achmad, Et all. (2012). Layanan Cinta: Perwujudan Layanan Prima Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.

  • view 34