Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Buku 14 Desember 2017   15:45 WIB
Membangun Koleksi Buku di Perpustakaan

Koleksi Buku di Perpustakaan

Kita sudah sangat familier dengan ungkapan lama 'Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina (Tiongkok)'. Namun, kenapa Tiongkok yang disebut, bukannya negara lain? Sejarah mencatat Tiongkok sebagai salah satu negara dengan peradaban yang sangat maju pada masa dahulu. Bahkan, saat masih sangat jarang ada yang mampu merangkum berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu, Tiongkok justru mampu membuat ensiklopedia terbesar yang pernah ada.

Ensiklopedia dari Tiongkok tersebut ditulis pada masa pemerintahan Kaisar Chu Ti (1410 M) dengan judul Yung-lo Tatien (Buku Rujukan Besar) yang ditulis 2.000 staf dengan tulisan tangan dan terdiri atas 22.937 bab, dengan total 917.480 halaman dan terbagi dalam 11.095 jilid (Hernowo, 2004). Karya itu mengalahkan ensiklopedia buatan Caius Plinius Secundus (23-79 M) dari Yunani yang hanya terdiri dari 38 jilid.

Sadar bahwa ilmu jika tak diabadikan dalam tulisan akan menguap begitu sajalah, yang mengilhami Tiongkok untuk membuat banyak buku mahakarya. Begitu juga dengan ensiklopedia Plini yang sangat kontekstual hingga masih terus dijadikan rujukan seni lukis dan patung di Romawi.

Maka tidak salah pepatah tersebut menjadikan Tiongkok sebagai rujukan tempat menuntut ilmu. Kecintaan pemerintahnya pada ilmu menyebabkan masyarakatnya juga secara paripurna mencintai ilmu. Tempat yang memang layak untuk para pecinta ilmu menimba berbagai pengetahuan.

 

Filosopi Membaca

Sudah berapa banyak buku yang kita baca selama ini? seberapa penting membaca buku? Rendahnya minat membaca buku tentu memberi dampak buruk bagi generasi mudah bangsa ini dan juga kualitas pendidikan di Indonesia.

Untuk itu setidaknya dapat meluangkan waktu untuk membaca. Dengan membaca, pembaca dapat mengisi kepalanya dengan  berbagai macam informasi baru yang selama ini belum diketahui.

Seperti yang diungkapkan seorang negarawan  Romawi kuno Marcus Tullius Cicero “ life without book is like body without soul (kehidupan tanpa buku bagai tubuh tanpa jiwa)”, peranan buku bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Keberadaan buku di muka bumi inilah yang membantu manusia menemukan segala sesuatu informasi dari apa yang belum pernah dilakukannya, belum pernah dikunjunginya, belum pernah dilihatnya, atau juga apa belum pernah dirasakannya.

Lisan atau ucapan bisa saja hilang begitu saja, namun tulisan/buku tetap ada sepanjang masa. Itulah kenyataan yang terjadi pada kehebatan sebuah buku. Buku memegang peranan untuk mewariskan atau mentrasfer suatu pengetahuan kepada generasi selanjutnya atau kepada kelompok lain.

Negeri ini memang memiliki perpustakaan. Boleh dibilang setiap kota memiliki lebih dari satu perpustakaan. Namun jumlah pengunjung yang datang ke perpustakaan amat menyedihkan. Apa penyebabnya? Tentu tak dapat dipungkiri berkaitan dengan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Mungkin koleksi yang dimilikinya banyak, namun apakah kontekstual dengan wilayah sekitarnya atau untuk pengunjungnya?

Indonesia yang memiliki minat baca tersebut masih mengeluhkan soal harga-harga buku yang  mahal. Namun dampak dari buku adalah menciptakan dan menjadikan manusia menadi kaum intelektual yang bernas isi otak mereka.

Pemerintah sebagai garda depan misi pembudayaan minat baca, didukung oleh sekolah-sekolah, pendidik, komunitas, organisasi. Sementara regulasi pemerintah pun sudah semestinya menggandeng industri penerbitan buku, dan distributor sebagai sayap samping yang ikut melahirkan sebuah negara yang ramah buku.

Ada satu hal yang kita tidak boleh luput, yaitu pembudayaan minat baca di skala keluarga atau basis rumahan. Jika hari kemarin, yang bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, negara kita masih senyap, kelak, dengan sinergitas, optimisme, dan konsistensi  semua komponen, tak mustahil kita pun bisa ikut riuh dalam perayaan tersebut.

Jadi, daripada sinis dengan fakta-fakta lesunya minat baca, lebih baik mulai ambil bagian dalam revolusi budaya baca. Oleh karena itu, marilah bersama-sama saling menghimbau dan membudayakan kegiatan membaca dan menulis.

Satu tulisan yang bermanfaat menjadi ilmu bagi ribuan orang yang membacanya. Dan dari kegiatan membaca, ribuan ilmu bisa digenerasikan. Tak ada salahnya menyisihkan sedikit  penghasilan untuk membeli satu buku setiap bulannya. Semakin banyak yang kita baca dan kita tulis, semakin banyak pula ilmu yang menjejal otak kita. Semakin cerdas bangsanya, semakin maju pula peradabannya. Selamat merayakan hari buku Nasional.

 

Pengertian Koleksi Perpustakaan

Koleksi sendiri merupakan istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bahan pustaka apa saja yang harus diadakan di sebuah perpustakaan. Menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983) koleksi perpustakaan merupakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan.

 Menurut Literature (1998 : 2) koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi”. Sedangkan menurut Ade Kohar (2003 : 6), “Koleksi perpustakaan adalah yang mencakup berbagai format bahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi”.

Dari pernyataan pengertian koleksi perpustakaan di atas dapat disimpulkan bahwa koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang ada sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika dan dapat digunakan oleh para pengguna perpustakaan tersebut. Kemudian diklasifikasikan jenis-jenis koleksi perpustakaan.

 

Jenis-jenis Koleksi Perpustakaan

Di dunia pendidikan, Keberadaan buku sebagai bahan bacaan adalah hal yang wajib. Namun, sangat disayangkan jika dalam lingkungan tersebut hanya terdapat sedikit bahan bacaan khususnya buku.

Koleksi-koleksi perpustakaan sudah menjadi koleksi yang terlampau lama dan perlu diperbaharui. Karena Ilmu pengetahuan terus berubah dan terus berkembang, sedangkan buku sepuluh tahun yang lalu mungkin sudah tidak bisa dipakai lagi karena Ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku pengelola untuk menyediakan dan terus menambah serta  memperbarui koleksi yang ada.

Salah satu kesulitan dalam pengadaan buku di perpustakaan, yaitu mencari buku-buku yang sesuai dengan ilmu dan kategori yang begitu spesifik. Karena tidak banyak penerbit buku yang menerbitkan buku pendidikan dengan variasi Ilmu yang begitu luas.

Setiap tipe perpustakaan melayani kelompok pemakai dengan ciri-ciri tertentu, sehingga diperlukan perencanaan yang matang, jasa-jasa apa saja yang sesuai dengan kebutuhan pemakai perpustakaan tersebut. Perencanaan tersebut akan berhasil jika didasarkan atas pengetahuan yang cukup mendalam mengenai masyarakat yang harus dilayani. Istilah yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis kebutuhan pemakai (needs analysis).

Analisis kebutuhan pemakai ini bermanfaat sekali tetapi memekan waktu dan biaya yang besar. Untuk itu perlu perencanaan yang matang dengan mendapatkan siapa yang melakukan analisis, informasi apa saja yang diperlukan, metode apa yang digunakan dalam pengumpulan data, dan untuk apa data digunakan. Di bawah ini adalah 3 bahasan utama dalam menentukan koleksi perpustakaan.

 

  1. Seleksi Bahan Pustaka

Seleksi bahan pustaka adalah proses mengidentifikasi bahan pustaka yang akan ditambahkan pada koleksi yang telah ada di perpustakaan. Seleksi bahan pustaka merupakan kegiatan penting yang perlu dilakukan karena berhubungan dengan mutu perpustakaan yang bersangkutan. Suatu perpustakaan tidak akan ada artinya bila koleksi yang tersedia tidak tersedia sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

Semua bahan pustaka hendaknya dipilih secara cermat, disesuaikan dengan standar kebutuhan pemakai perpustakaan dalam suatu skala prioritas yang telah ditetapkan dan mencakup persyaratan antara lain:

  • Isi buku
  • Bahasa yang digunakan
  • Ciri fisik buku
  • Otoritas pengarang/ penerbit

Setiap perpustakaan mempunyai struktur organisasi tersendiri. Ketentuan-ketentuan bagaimana melakukan seleksi dan siapa yang berhak melakukan seleksi tergantung dari tipe perpustakaan yang bersangkutan, dan struktur organisasi didalamnya.

Pada dasarnya yang membedakan proses seleksi bahan pustaka disetiap perpustakaan adalah adalah adanya tugas dan tujuan yang berbeda dari setiap perpustakaanyang bersangkutan serta masyarakat yang dilayaninnya.

Dalam pemilihan atau seleksi bahan pustaka perpustakaan harus berpedoman pada prinsip-prinsip seleksi. Prinsip seleksi merupakan salah satu acuan yang digunakan perpustakaan untuk mengisi koleksi perpustakaannya. Beberapa prinsip dasar dalam pemilihan koleksi perpustakaan adalah sebagai berikut:

  • Semua bahan pustaka harus dipilih secara cermat, disesuaikan dengan keperluan pemakai dan menurut skala prioritas yang telah ditetapkan.
  • Pengadaan bahan pustaka didasarkan atas peraturan tertulis yang merupakan kebijakan pengembangan koleksi yang disahkan oleh penenggung jawab lembaga dimana perpustakaan bernaung.
  • Untuk mendukung proses pemilihan bahan pustaka secara baik dan optimal perlu ditetapkan alat Bantu seleksi, antara lain: Daftar judul buku yang disahkan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah; katalog atau brosur penerbit; timbangan atau resensi buku; daftar terbitan berkala; dan usulan dari para pengguna.

 

  1. Penyiangan Bahan Pustaka

Penyiangan bahan pustaka atau weeding yaitu upaya mengeluarkan koleksi dari susunan rak karena tidak diminati terlalu banyak eksemplarnya, telah ada edisi terbaru maupun koleksi itu tidak relevan. Koleksi yang dikeluarkan ini dapat diberikan ke perpustakaan lain , atau dihancurkan untuk dibuat kertas lagi.

Koleksi perpustakaan secara berkala perlu disiangi agar bahan pustaka yang sudah tidak sesuai lagi dapat diganti dengan bahan pustaka yang baru . pemilihan bahan pustaka yang dikeluarkan dari koleksi sebaiknya dilakukan oleh petugas perpustakaan dan guru, kemudian untuk dipisahkan atau dipindahkan, dihibahkan atau dimusnahkan. Keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan kemuktakhiran, kesesuaian, dan kondisi fisik dokumen.

Adapun alasan dilakukannya bahan pustaka yang perlu dikeluarkan dari koleksi adalah sebagai berikut:

  • Bahan pustaka yang isinya sudah tidak sesuai lagi
  • Edisi dan cetakan lama
  • Bahan pustaka yang rusak dan tidak dapat diperbaiki
  • Bahan pustaka yang isinya tidak lengkap
  • Bahan pustaka yang jumlah copynya terlalu banyak

Dengan melakukan proses penyiangan bahan pustaka ini perpustakaan bertujuan untuk memelihara ke-up-date-an, keaktifan dan manfaat koleksi tersebut yang merupakan refleksi dari sasaran dan tujuan perpustakaan. Dan solusi dari bahan pustaka yang disiangi yaitu dengan cara menjualnya, pertukaran antar perpustakaan, atau memberikan hadiah kepada yang membutuhkannya.

Adapun prosedurnya menurut sebagai berikut:

  • menentukan persyaratan koleksi yang akan disiangi misalnya atas dasar usia terbit, subjek, cakupan atau kandungan informasi
  • Menentukan jenis koleksi yang ingin disiangi seperti buku, majalah, brosur, kaset rekaman, laporan tahunan.
  • Mengeluarkan kartu buku, mencabut katalog dari semua jajaran katalog, dan menghapus data dari pangkalan data/ opac.
  • Koleksi perpustakaan yang disiangi diberi cap yang berbunyi: “dikeluarkan dari koleksi perpustakaan”.
  • Membuat berita acara tentang penyiangan koleksi untuk keperluan administrasi dengan dilampiri daftar bahan pustaka hasil penyiangan.
  • Menyimpan koleksi hasil penyiangan tersebut digedung atau bisa ditawarkan ke perpustakaan lain yang membutuhkan.
  1. Evaluasi Bahan Pustaka

Evaluasi merupakan penggunaan teknik penelitian untuk mengukur kebutuhan pemakai serta tujuan-tujuan yang dapat mencapai suatu program dalam proses mengoleksi, menganalisa, dan mengartikan informasi atau sebagai bentuk instruksi.

Evaluasi merupakan bentuk riset, didalamnya menyatakan hipotesis dan obyeknya, memberi definisi obyek yang akan dikaji, mengumpulkan data, menganalisa data dan menarik kesimpulan. Adapun tujuan dari evaluasi diantaranya adalah untuk menentukan kualitas koleksi dan juga mengetahui apakah tujuan perpustakaan yang telah ditentukan telah tercapai.

Ada beberapa cara untuk menilai koleksi perpustakaan yaitu:

  • Membandingkan koleksi perpustakaan dengan senarai standar yang diterbitkan.
  • Membandingkan koleksi perpustakaan dengan koleksi perpustakaan sejenis yang besar.
  • Melakukan kegiatan berapa banyak koleksi yang digunakan.
  • Memeriksa koleksi dengan bantuan pakar pada subjek yang bersangkutan.
  • Mengumpulkan pendapat pemakai.

 

AKHIRUL KALAM

Dewasa ini, buku terbit menjamur, mungkin ratusan buku terbit setiap harinya. Pengunjung tidak akan tertarik untuk datang dan membaca karena tidak adanya daya tarik dan manfaat yang bisa mereka ambil dari perpustakaan tersebut.

Di sisi lain, kebanyakan pustakawan juga berpikir bahwa tugas utama mereka hanyalah mengontrol arus buku (peminjaman dan pengembalian) dan mendata buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan tempatnya bekerja.

Padahal, sejatinya, tugas utama pengelola perpustakaan ialah memberdayakan diri sendiri dengan berbagai buku yang bergizi untuk kemudian memfasilitasi para pengunjung dengan hal-hal serupa.

Maka, jika pustakawan belum mampu memberdayakan dirinya, mustahil perpustakaan tersebut akan mampu memberdayakan orang lain. Jika pustakawan hanya berkutat pada kesibukan administrasi, dan melupakan peran utamanya sebagai pembangkit roh perpustakaan, tak akan ada program-program penggerak literasi bagi para pengunjung dan masyarakat sekitarnya.

Pustakawan yang baik harusnya memiliki wawasan yang luas tentang buku, up to date terhadap buku-buku best seller dan bersifat kontekstual. Ia harus mampu melihat kebutuhan para pengunjung sehingga mampu pula menyediakan buku yang benar-benar bermanfaat bagi mereka.

Selanjutnya, pustakawan juga harus mampu menjadikan dirinya sebagai role model dalam kegiatan yang berbau literasi. Ia mampu menjadi pembaca dan penulis yang baik. Artinya, ketika ia mampu menemukan buku-buku berkualitas, ia juga harus mampu (setidaknya) membuat sinopsis untuk kemudian dipajang di perpustakaan sehingga orang-orang dapat melihat betapa hebatnya peran buku dan dapat mencontohnya.

Dengan demikian, pengadaan buku oleh pemerintah juga semestinya ditinjau ulang. Program yang selalu diusahakan merata hingga buku yang dipasok ke seluruh perpustakaan di Indonesia juga tanpa seleksi, justru menyebabkan perpustakaan tidak mampu menyediakan buku yang kontekstual.

Kebutuhan buku untuk anak-anak di kota dan di desa jauh sangat berbeda. Jika di kota, buku berbau teknologi terapan komputer akan sangat digandrungi, tetapi menjadi hal yang tabu untuk anak-anak di pelosok desa.

Justru buku yang mengisahkan pelbagai petualangan akan lebih membumi untuk mereka yang tinggal berdampingan dengan alam. Masyarakat pesisir tidak butuh buku berbau agraria, begitu pula sebaliknya, masyarakat pegunungan juga tidak butuh buku bernuansa maritim.

Badan Perpustakaan Nasional sudah semestinya mendata dengan baik seluruh perpustakaan di Indonesia untuk kemudian menyalurkan buku-buku yang membumi dan mampu memberdayakan orang-orang di sekitar perpustakaan tersebut berdiri.

Para pengelola perpustakaan juga harus merupakan orang-orang yang memiliki gairah sebagai pustakawan sejati.

Penulis: Retno Hermawati

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Purtini, W. (n.d.). Digital library. Retrieved March 8, 2012, from www.lib.itb.ac.id

Schwartz, C. (2000). Digital libraries: An overview. The Journal of Academic Librarianship 26(6), 385-393.

Universitas Kristen Petra, Perpustakaan. (n.d). Spektra Virtual Library. Retrieved January 3, 2011, from http://svl.petra.ac.id

IFLA ALP Woorkshop on Information Literacy and IT, Auckland,New Zealand. (2006). The basic information literacy skills.

Prayitno, Erman Amti. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta. Jakarta. 2009

Achmad, Et all. (2012). Layanan Cinta: Perwujudan Layanan Prima Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.

Fandy Tjiptono,  2008. Strategi Bisnis. Yogyakarta : Andi.

Karya : Nana Retno