Peran Pustakawan dalam Pencerdasan Bangsa

Retno Hermawati
Karya Retno Hermawati Kategori Budaya
dipublikasikan 07 Desember 2017
Peran Pustakawan dalam Pencerdasan Bangsa

Pustakawan  adalah salah satu profesi yang dapat mempengaruhi masa depan bangsa. Pustakawan bertugas membimbing dan mengajarkan  pemustaka dalam hal mencari bahan bacaan yang sedang dibutuhkan, termasuk membimbing pemustaka agar bisa lebih baik dalam memilih buku. Bahkan juga bukan hanya untuk mendapatkan buku yang dibutuhkan, tetapi untuk memperoleh subyek lain yang ada korelasi buku  dengan buku yang dibutuhkan.

Menurut Undang-undang Perputakaan Nasional RI nomer 43 tahun 2007 sebagai pelaksanaan Undang-undang 1945, perpustakaan adalah wahana belajar sepanjang hayat dengan mengembangkan potensi masyarakat untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri.  Perpustakaan juga ditujukan untuk membentuk warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional.

Pemerintah dalam hal ini berkewajiban membina dan mengembangkan kompetensi, profesionalitas pustakawan, dan tenaga teknis perpustakaan. Sehingga profesionalisme pustakawan antara lain harus memiliki kompetensi paedagogik, kopentensi sosial, kopetensi pribadi.

Tugas pustakawan sangat fundamental untuk mewujudkan masyarakat yang gemar membaca, sehingga bisa ikut dalam program perbaikan kondisi bangsa Indonesia di masa datang. Harapan itu tertumpang kepada para pustakawan yang cerdas dan gigih dalam menggali berbagai ilmu yang ada di koleksi perpustakaan.

Data statistik UNESCO Institute tahun 2008, mencatat, bahwa di Indonesia warga dewasa yang mampu membaca teks dan angka yang sederhana adalah 91.4% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan, warga yang buta huruf adalah 8.6%. Prosentase tersebut terpecah dengan komposisi laki-laki yang masih buta huruf adalah 4,3 juta penduduk. Sedangkan warga belajar perempuan adalah 10,1 juta penduduk. Jika demikian, Indonesia memiliki prosentase literasi orang dewasa yang cukup tinggi dengan peringkat ke delapan, meninggalkan 12 negara Asia Pasifik lainnya.

Sebuah angka statistik yang memprihatinkan.

 

Membaca Dan Menulis Di Indonesia

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan dan informasi, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.

Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. ( Anderson 1972 : 209-210 ).

Menulis adalah aktivitas menggunakan lambang-lambang (simbol) yang menggambarkan (mewakili) benda-benda atau ide. Proses menulis ini kemudian disebut bahasa yang dipahami oleh sekelompok orang tertentu.

Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Tulisan sangat penting bagi pendidikan  karena memudahkan  para pelajar mendapatkan transfer ilmu pengetahuan dan mendorong proses berfikir. Tentu juga untuk mendorong untuk berpikir kritis.

Data dari Association For the Educational Achievement (IAEA),  mencatat bahwa pada 1992 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Sementara itu, dari 30 negara, Indonesia masuk pada peringkat dua terbawah.

Pada era globalisasi seperti sekarang ini telah terjadi kemajuan yang sangat pesat pada bidang teknologi informasi. Kemajuan itu menuntut dukungan budaya baca tulis, yaitu perwujudan perilaku yang mencakup kemampuan, kebiasaan, kegemaran, dan kebutuhan baca tulis. Namun hingga saat ini budaya baca tulis belum sepenuhnya berkembang di masyarakat Indonesia. Karena itu jika bangsa Indonesia ingin berhasil dalam pembangunan dimasa depan, pengembangan budaya baca tulis mutlak diperlukan.

Kapan kemampuan membaca dan menulis mulai bisa diajarkan? Jawaban pertanyaan itu sebenarnya masih berupa polemik. Sebagian ahli mengatakan membaca dan menulis baru dapat diajarkan setelah anak masuk SD sebagaimana kebijakan kurikulum Taman Kanak-kanak (TK) sekarang ini. Namun ada banyak ahli yang mengatakan bahwa membaca dan menulis harus “diajarkan” sejak dini. Kata “diajarkan” diberi tanda kutip, karena proses belajar atau aktivitas belajar memiliki berbagai bentuk. Proses belajar di masa kanak-kanak (TK) tentu memiliki bentuk “bermain”.

Beberapa ahli anak dan pendidikan telah mengadakan penelitian tentang pengaruh membaca dini pada anak-anak. Dia menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif pada anak-anak yang diajar membaca dini. Steinberg (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.2)  juga mengemukakan bahwa anak-anak yang mendapatkan pelajaran membaca dini umumnya lebih maju di sekolah. Hal tersebut masih diperkuat oleh pendapat Moleong (dalam Nurbiana Dhieni, 2005 : 5.3) yang mengatakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak TK adalah kemampuan membaca dan menulis.

Jadi pengembangan kemampuan membaca dan menulis di masa TK dapat dilaksanakan selama  masih dalam batas-batas aturan praskolastik dan sesuai dengan karakteristi kanak, yakni belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar.

 

Literasi

Literasi bukanlah kata yang baru bagi kita. Sejak zaman dahulu literasi sudah menjadi bagian dari kehidupan dan perkembangan manusia, bahkan sejak jaman pra sejarah hingga zaman moderen.

Pada zaman manusia purba sudah ada yang aktivitas membaca dan menulis, tetapi aktivitas itu tidak sama dari zaman pra sejarah ke zaman sejarah. Pada zaman pra sejarah mereka hanya “membaca” tanda-tanda alam untuk berburu dan mempertahankan diri. Kemudian mereka mengembangkan kemampuan untuk menulis simbol-simbol atau gambar buruannya pada dinding gua. Satu simbol mewakili satu benda atau satu ide. Selanjutnya berkembang pula pemikiran untuk membuat kode-kode dengan angka dan huruf yang bukan simbol. Kode atau huruf (juga angka) ini dapat disusun untuk menggambarkan (mewakili) satu benda atau ide.

Munculnya huruf sangat mempengaruhi perkembangan peradaban manusia. Sebagaimana ditemukannya roda, ditemukannya huruf telah membuat lompatan kemajuan peradaban manusia. Transfer ilmu pengetahuan dari satu tempat ke tempat lain menjadi sangat cepat, berkat adanya huruf-huruf ini yang disusun menjadi kata, lalu kata-kata disusun menjadi kalimat, kemudian kalimat-kalimat disusun menjadi sebuah informasi atau ilmu pengetahuan.

Literasi juga sering disebut keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Budaya literasi dimaksudkan untuk mewujudkan tradisi berfikir yang didahului oleh proses membaca dan menulis yang pada akhirnya menumbuhkan proses menciptakan berbagai karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika ditujukan kepada suatu kelompok masyarakat yang belum memiliki tradisi itu.

Secara Umum ada tiga kategori besar masyarakat Indonesia, yakni praliterasi, literasi dan posliterasi.

  1. Masyarakat praliterasi yang hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses media seperti buku, TV, internet dan lain-lain. Kalaupun mereka dapat mengakses tetapi tidak bisa mencernanya dengan mudah.
  2. Masyarakat literasi yang memiliki akses terhadap buku, tidak berarti tradisi baca-tulis dapat tumbuh dengan suburu di kalangan ini.
  3. Masyarakat posliterasi yang memiliki akses buku dan teknologi informasi dan audio visual.

Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulung punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan sejak usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia tulis-menulis.

 

Peran Pustakawan Dalam Mencerdaskan Bangsa

Pustakawan adalah orang yang bergerak di bidang perpustakaan atau ahli  perpustakaan. Menurut kode etik Ikatan Pustakawan Indonesia dikatakan bahwa yang disebut pustakawan adalah “Seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki melalui pendidikan”.

Definisi yang lebih spesifik, pustakawan adalah orang yang memiliki pendidikan perpustakaan atau ahli perpustakaan atau tenaga profesional dibidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan. Jadi pustakawan adalah seseorang yang profesional atau ahli dalam bidang perpustakaan.

Secara ideal seorang pustakawan harus memiliki kapasitas yang setidaknya sebagai berikut:

  1. Seorang pustakawan juga berfungsi sebagai pendidik untuk mengembangkan kepribadian, membimbing, membina , dan memberikan pengarahan.
  2. Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai.
  3. Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus mempunyai nilai tambah, karena informasi terus berkembang.
  4. Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.
  5. Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekerjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi. (Profesionalisme Pustakawan di Era Global, 2001).
  6. Seorang pustakawan juga berfungsi untuk mengawal pelaksanaan tugas dan fungsi berdasarkan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.
  7. Seorang pustakawan berfungsi untuk membuat daftar presensi, membuat daftar penilaian, dan melaksanakan teknis administrasi perpustakaan .
  8. Seorang pustakawan berfungsi untuk memantau, menilai, dan memberikan bimbingan teknis.
  9. Seorang pustakawan berfungsi untuk mengawal pelaksanaan tugas pokok dan fungsi tanpa harus mengikuti secara kaku ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.
  10. Seorang pustakawan berfungsi untuk melakukan kegiatan kreatif dan menentukan strategi, metode, cara, atau konsep yang baru dalam pembinaan
  11. Seorang pustakawan berfungsi untuk memberikan dorongan kepada peserta pustakawan lainnya untuk dapat belajar lebih giat dan memberikan bimbingan kepada pemustaka sesuai dengan kemampuan dan perbedaan individual para pustakawan lainnya.
  12. Seorang pustakawan berfungsi untuk memberikan dorongan kepada pustakawan lainnya dengan cara menciptakan suasana lingkungan diskusi yang membawa perubahan dalam perkembangan kemajuan ilmu pustakawan .
  13. Seorang pustakawan berfungsi untuk memberikan bantuan teknis, arahan, dan petunjuk kepada pustakawan lainnya.

 

Dengan demikian peran pustakawan tidaklah ringan seperti pendapat pada umumnya yang mengatakan bahwa seorang pustakawan merupakan pegawai tak bermutu yang kerjanya menunggui tumpukan buku-buku.

Pustakawan dituntut untuk memberikan pelayanan yang memuaskan pemakai. Bagaimana kualitas pelayanan yang dapat memuaskan? Salah satunya adalah peran aktif pustakawan yang kreatif dalam mengelola informasi. Pelayanan pemakai yang diberikan oleh suatu perpustakaan pada umumnya meliputi pelayanan administrasi, pengadaan koleksi, dan pendayagunaan koleksi.

 

Kualitas Layanan

Pelayanan (jasa) adalah setiap tindakan atau aktivitas yang pada dasarnya tidak berujud fisik yang ditawarkan dari suatu pihak kepada pihak yang lain, sehingga mendatangkan kepuasan atau kemanfaatan. Pengertian pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan kepada masyarakat umum atau pelayanan pemakai perpustakaan. Pelayanan itu harus bersifat universal, artinya berlaku terhadap siapa saja yang menginginkannya.

Oleh karenanya, pelayanan yang memuaskan adalah penting untuk menonjolkan peran perpustakaan agar dapat lebih eksis. Pelayanan yang didambakan oleh pengguna perpustakaan setidaknya sebagai berikut:

  1. Adanya kemudahan dalam pengurusan kepentingan dengan pelayanan yang cepat dalam arti tanpa hambatan yang kadang dibuat-buat.
  2. Memperoleh pelayanan secara wajar tanpa gerutu atau sindiran yang mengarah kepada permintaan sesuatu, baik dengan alasan untuk dinas maupun kesejahteraan.
  3. Mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan terhadap kepentingan yang sama, tertib dan tidak pandang bulu.
  4. Pelayanan yang jujur dan terus terang.

 

Faktor Penting Dalam Menciptakan Kualitas Pelayanan.

Pelayanan perpustakaan sudah selayaknya berorientasi pada pemakai, sehingga kepuasan pemakai selalu diutamakan dalam rangka meningkatkan hubungan antara pelanggan dan pengelola. Setiap pelayanan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari dalam maupun dari luar sistem penyelenggaraan. Faktor yang mempengaruhi tesebut di antaranya:

  1. Faktor kesadaran para pejabat serta petugas yang berkecimpung dalam pelayanan.
  2. Aturan kerja yang melandasi kerja pelayanan.
  3. Pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup minimal.
  4. Faktor ketrampilan petugas.
  5. Faktor sarana dalam pelaksanaan tugas pelayanan.
  6. Faktor organisasi yang merupakan alat serta sistem yang memungkinkan berjalannya mekanisme kegiatan pelayanan (Moenir, 1995:88).

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa mendengarkan “suara pelanggan” merupakan suatu hal yang perlu dilakukan perpustakaan, baik perpustakaan besar maupun kecil.

 

Akhirul Kalam

Pengalaman kemajuan Jepang saat ini tidak bisa dilepaskan dari sosok guru. Ketika Jepang hancur luluh berantakan pada tahun 1945 akibat serangan bom atom dari sekutu, Kaisar Jepang saat itu mengintruksikan untuk mencari para guru yang masih hidup. Perintah Kaisar ini dilaksanakan dengan baik. Para guru yang masih hidup diberdayakan. Merekalah yang kemudian mendidik masyarakat, membangkitkan semangat kemajuan dan kompetisi, dan membangun Jepang dengan kerja keras tanpa kenal lelah. Kini, negara yang terpuruk hancur berantakan tersebut telah menjadi negara maju yang sangat diperhitungkan, bahkan untuk tingkat kecerdasan rata-rata penduduknya pun patut diacungi jempol. Kuncinya ada di tangan guru.

Pustakawan  yang baik, berhasil, dan efektif terlihat dalam kepribadiannya.  Kepribadian yang seharusnya dimiliki oleh seorang pustakawan  adalah memiliki kemantapan dan integritas pribadi, peka terhadap perubahan dan pembaruan, berfikir alternatif, adil, jujur, objektif, berdisiplin dalam melaksanakan tugas, ulet dan tekun, berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya, simpatik, menarik, luwes, bijaksana, sederhana dalam bertindak, bersifat terbuka, berwibawa, dan kreatif.

Kreatifitas pustakawan  sangat berpengaruh banyak dalam hal keberhasilan dalam memberikan layanan yang baik. Pada zaman teknologi sekarang, banyak hal ataupun media yang dapat dimanfatkan untuk meningkatkan kecerdasan para pustakawan  untuk mengembangkan kreatifitas mereka.

Pustakawan adalah hal yang sangat penting dalam perkembangan suatu proses kehidupan seseorang. Imam Al Ghazali pernah berkata “seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dia itu ibarat matahari yang menyinari orang lain, dan menyinari dirinya sendiri. Ibarat minyak kasturi yang wanginya dapat dinikmati oleh orang lain, dan ia sendiripun harum. Siapa yang bekerja di bidang pustakawan, sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan terhormat dan sangat penting“.

Tut wuri handayani, di belakang memberi dukungan. Pustakawan senior harus mampu memberikan dukungan motivasi ketika di belakang. Seorang pustakawan pada masa ini dituntut mampu menjadi motivator bagi anak bangsa  karena tanpa adanya motivasi seringkali para pustakawan  malas untuk mengembangkan kariernya bahkan kurang memahami kreatifitas .

Pustakawan  harus mampu menjadi penyampai ilmu dan penyejuk qolbu (hati). Artinya seorang pustakawan harus mampu menyampaikan ilmu baik secara langsung (ceramah) atau secara tidak langsung melalui metode pembelajaran tertentu. Dan seorang pustakawan senior juga harus mampu menjadi sosok pribadi yang menyejukan hati bagi pustakawan yonior   dan membawa mereka menuju pada pengembangan karier.

 Penulis: Retno Hermawati

 

DAFTAR PUSTAKA

Silvia Hanani. Membangun Minat Baca. Sumber: http://www.puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_poster_session_pdf/SilfiaHanani_MembangunMinatBaca.pdf Diakses tanggal 21 Agustus 2010

Yusuf, Pawit M. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Kencana Prenada Media, Jakarta.200

Neneng Komariah. Peranan Perpustakaan Sekolah Dalam Proses Belajar Mengajar. Sumber: http:// http://www.sos.mo.gov/library/Ista_03-08.pdf   Diakses tanggal 21 Agustus 2010

Prayitno, Erman Amti. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta. Jakarta. 2009

Rohanda. Fungsi dan Peranan Perpustakaan Sekolah. Sumber: http://www.ipi.or.id/Rohanda.doc. Diakses tanggal 25 Agustus 2010

Yosy Suparyo. Biblioterapi.Sumber: http://www. pelosokdesa.wordpress.com. diakses tanggal 25 Agustus 2010

Arif Surachman. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Sumber: http://www. arifs.staff.ugm.ac.id/mypaper/manpersek.pdf  Diakses tanggal 21 Agustus 2010

Yunus S.P. Perpustakaan Bukan Tempat Penyimpanan Buku?. http://www.lurik.its.ac.id/…/PERPUSTAKAAN%20%20SEKOLAH%20BUKAN%20TEMPAT%2… –pdf. Diakses tanggal 25 Agustus 2010

Tarigan, Henry Guntur. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. 2008. Angkasa.      Bandung

Martin, A. (2006). Literacies for tge digital age. Dalam A.Martin&D.Madigan(eds). Digital literacies forlearning. London:Facet.

Martin, A. (2006). Literacies for tge digital age. Dalam A.Martin&D.Madigan(eds). Digital

       literacies forlearning. London:Facet.

TIM. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Gramedi Pustaka Utama. Jakarta. 2008.

Rahim, Farida. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta. Bumi   Aksara. 2011.

TIM. Membaca I.Jakarta. Universitas Terbuka.1999.

Hernowo, 2003.Quantum Readina.Bandung : Mizan Learning Center.

Syaum-Share.blogspot.com/ 2012/ 08/tips.agar hobby membaca.html

Kurnia Septa. 20 November 2011. Peran Guru dalam Mencerdaskan Bangsa. Diambil pada    tanggal 28 Desember 2011. dari http://www.sekolahdasar.net/2011/11/peran-guru-dalam-mencerdaskan-bangsa.html

IFLA ALP Woorkshop on Information Literacy and IT, Auckland,New Zealand. (2006). The basic information literacy skills.

  • view 90