Untukmu, Calon Lelakiku...

Respitaningrum M.Rahman
Karya Respitaningrum M.Rahman Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Untukmu, Calon Lelakiku...

Assalamu'alaykum warrah matullah..
 
Teruntuk laki-laki yang nun jauh di sana. Apa kabar dirimu? Masihkah kamu duduk diam sambil menikmati kopi pagimu? Atau sudah bergegas tuk menjemput diriku di sini?
 
Kita berdua tidaklah saling mengenal dan bertatap muka, tapi kaulah yang mengisi do'a-do'aku akhir-akhir ini. Entah mengapa, aku merasa rindu padamu. Meski aku tidak tahu apa yang aku rindukan tentang dirimu. Bukankah kita belum pernah bertemu? Atau, sebenarnya kita pernah bertemu dan saling mengenal? Aku pun tidak tahu. Yang jelas, aku merindukan dirimu. Seseorang yang kusebut dalam do'a dan ikhtiarku.
 
Hei, calon lelakiku. Apakah dirimu berdiri di tengah-tengah masjid? Ataukah dirimu datang memadati konser musik? Aku harap kamu senang dalam ikhtiarmu di masjid. Memakai baju koko dan memakai peci putih seperti yang biasa dikenakan oleh ayahku. Aku selalu memimpikan dirimu akan seperti ayah, yang menyayangi dan mengajariku banyak hal. Namun tidak hanya itu, kamu juga harus melindungiku dari neraka dunia dan akhirat. Seperti yang selama ini ayahku lakukan. Aku pun berusaha untuk melakukan itu.
 
Tapi aku bukanlah bidadari ataupun ummul mukmin, yang dengan mudahnya memasuki syurga-Nya. Diri ini berlumur dosa. Asal kamu tahu itu. Itu sebabnya, aku di sini mendoakan dirimu, agar teguh dalam jalanmu menuju-Nya. Agar nanti ketika kita bertemu dan dipersatukan dalam ikatan yang halal, kamu mampu membimbingku dan melindungiku. Kita akan sama-sama membangun syurga yang indah bersama keluarga kecil kita nanti.
 
Hei, calon lelakiku. Apakah kamu juga merindukanku? Luruh dalam tangis ketika mengingat ada seseorang yang menunggumu di sini. Sementara kamu belum mampu tuk bertandang dan memintaku untuk pergi bersamamu. Pergi meninggalkan keluargaku dan mengabdi padamu dan keluargamu.
 
Hei, calon lelakiku. Apakah kamu menanti pagi? Seperti halnya aku yang menantikan mentari terbit, dan berdiri di depan pintu menunggu kehadiran dirimu dari kejauhan jalan. Berjalan dengan senyum menawan dan janji yang bukan hanya sekedar janji. Janjimu nanti yang kan menggetarkan langit dan segala isinya. Janjimu dengan Sang MahaSegalanya.
 
Hei kamu yang sedang berdiri di depan cermin, merapikan kancing baju dan mengenakan peci di atas kepalamu. Perlihatkan mata kakimu ketika berjalan dan tiba di masjid-masjid, karena dengan itu, kamu menjadi beda dari mereka yang tidak berjalan di belakang Rosul. Jangan malu, tetap sunggingkan senyum menawanmu dan peliharalah kebaikan. Karena aku di sini pun sedang sama-sama berjuang sepertimu. Menjadi perempuan yang menutup auratku sebagai pembeda dari para perempuan kafir yang merelakan tubuhnya dipandangi mata-mata jalang di luar sana. Bukankah kamu menyukai hal yang seperti ini? Tenang, aku bisa menjadi seperti mereka nanti. Asal kamu sabar menanti.
 
Hei, calon ayah anak-anak kita. Apakah kamu memimpikan bisa berjalan bergandengan denganku sambil menggendong buah hati kita? Melihatku dengan perut membuncit, yang membuatku tidak bisa melihat kakiku sendiri. Lalu nanti kamu kan mengelus perutku ketika bayi kita bergerak dan membuatku meringis ngilu karenanya. Kamu tahu, hanya dengan membayangkannya saja membuatku bahagia. Lalu nanti ketika anak kita lahir, kamu dengan suaramu yang menawan akan mengadzani anak kita. Mengecupnya dalam gendonganmu dan menitikan mata haru. Menatap calon penerus nabi yang lahir dari rahim istrimu, bidadarimu. Lalu ketika ia besar, kamu mengajarinya mengaji dan shalat, memakaikannya peci ataupun mukena. Tidakkah itu sangat membahagiakan?
 
Hei, calon imamku. Betul ketika kita menikah kamulah imamku. Tapi, aku tidak ingin shalatku diimami olehmu. Pergilah ke masjid atau langgar ketika adzan berkumandang. Jangan memberatkan diri ketika tahu aku ada di rumah. Kewajibanku menunggumu di rumah, kembali dari shalat jama'ahmu lalu menyalami tanganmu yang besar. Mengecupnya sebagai tanda baktiku kepadamu. Padahal dulu aku melakukannya pada ayahku. Tidakkah kamu bangga ketika bisa melakukan itu?
 
Ketika nanti aku lalai dalam tugasku sebagai istrimu, tolong tegur dan maafkan aku. Pun begitu ketika aku lalai dalam tugas dan kewajibanku sebagai hamba Allah. Mungkin aku lalai dalam shalatku, lalai membaca Al Qur'an, lalai berpuasa, lalai berzakat, lalai bersedekah. Tolong tegur aku, karena kesalahanku juga kan membuatmu berdosa. Aku tidak ingin membuatmu menanggung dosaku, begitu juga ketika aku menjadi anak dari ayahku.
 
Teruntuk lelaki yang Allah pilih menjadi imam dan takdirku. Bersegeralah kamu memantapkan niat untuk menjemputku, sebab aku tidak sabar menanti hari-hari di mana kita kan bekerja sama dalam membangun syurga dan meraih pahala bersama-sama. Tapi jangan lupa, aku menunggu di sini dalam tenang, jadi kamu tidak perlu terburu-buru sehingga menjadikan kamu melupakan sesuatu yang penting nanti.
 
Dari yang menunggumu, calon bidadarimu...

  • view 201