Tentang Pernikahan

Respitaningrum M.Rahman
Karya Respitaningrum M.Rahman Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Oktober 2016
Tentang Pernikahan

Akhir-akhir ini, aku sering sekali membaca ajakan untuk segera menikah muda di berbagai media sosial. Tidak tanggung-tanggung, mereka memasukkan dalil-dalil sebagai 'kompor' untuk membakar 'obor' semangat di jiwa kaum muda.

 
Akhir-akhir ini pula aku sering memikirkan tentang pernikahan. Menikah muda. Walau di Indonesia, perempuan yang sudah memasuki usia di atas 20 tahun bukan lagi muda, melainkan dewasa. Tapi menurutku, usiaku masih muda, jika dilihat dari perilakuku selama ini. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang datang silih berganti tiap kali undangan sampai di tanganku. 'Kapan menyusul?'. Sudah tidak asing lagi di telinga. Tapi, tetap saja menjadi beban di pikiranku sendiri. Sehingga pertanyaan 'kapan' itu juga ku alamatkan pada diri sendiri.
 
Jika melihat dan membaca setiap tulisan yang ada di media sosial, tentu saja jiwa ini bergejolak, ingin segera memantapkan diri untuk menyusul dan memperoleh kebahagiaan yang sama. Tapi yang dibahas di sana hanya ada kebahagiaan yang terlihat, apa tidak ada hambatan atau keraguan ketika memilih jalan menikah muda itu? Lagi-lagi kepalaku berdegung seolah mengeluarkan asap putih. Kenapa mereka hanya menilai sesuatu dari satu sisi, dan enggan membahas dari sisi lain yang belum diketahui masyarakat banyak?
 
Aku akan mengambil contoh. Semisalkan ada seorang pemuda berusia matang, mendatangi rumah pemudi yang sudah ia mantapkan akan ia khitbah untuk kemudian ia persunting sebagai istri. Lagi pemuda itu dikenal sebagai pemuda yang santun dan shaleh, siapalah yang hendak menolak kalau anak mereka dipersunting pemuda itu? Pasti berpikir-pikir lagi untuk mencari pemuda pengganti yang lebih baik darinya. Lalu pemuda lain menirukan apa yang ia lakukan, tapi dengan perilaku dan sifat yang berbeda. Ia datang ke rumah orang tua si perempuan, lalu meminta anaknya untuk dijadikan isterinya. Orang tua si perempuan tentulah berpikir-pikir lagi, pastilah ada pemuda yang jauh lebih baik dari si pemuda ini. Sebab tak semua lamaran harus diterima.
 
Kemudian, ketika mencapai kata sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka. Bukan tentu langsung menikahkan tanpa memikirkan ini dan itu di kehidupan yang akan datang. Jangan menjadi orang tua yang berpikiran picik, dengan selalu berpikiran bahwa setiap keputusan yang sudah diambil tidak bisa diubah. Lalu mengatakan, 'biarkan saja dia maunya apa, lagipula nanti dia yang akan menjalani'. Sudah tentu itu bukan sikap baik orang tua bagi anaknya. Harusnya, bimbing mereka dan beri pengarahan tentang kehidupan rumah tangga yang sebenarnya, bukan hanya dari kacamata publik tentang indahnya berumah tangga. Walau berumah tangga memang indah, apabila didasari kepercayaan dan kasih sayang. Cinta tentulah akan tumbuh karena terbiasa.
 
Sebagai anak, aku pun berpikiran demikian. Apalagi melihat dewasa ini banyak sekali kasus kawin-cerai yang bukan hanya dari kalangan public figure saja. Remaja yang menuju dewasa menikah karena dasar cinta, mereka mengesampingkan faktor-faktor lain yang lebih penting daripada cinta untuk kehidupan mereka. Lalu di tengah jalan, mereka kecewa terhadap pasangan masing-masing karena tidak sesuai apa yang mereka harapkan. Lalu jalan berpisah pun mereka pilih. Hal seperti ini yang menjadi acuanku untuk menuliskan ini.
 
Tidak selamanya cinta akan kokoh seperti pokok pohon. Karena pohon yang rajin dipupuk pun akan mati ketika merawatnya tanpa kasih sayang. Di sini, di dalam pernikahan, tentu kasih sayang teramat penting, juga dengan kepercayaan. Bukan hanya cinta, karena cinta akan tumbuh subur jika kasih sayang itu tiada putus setiap hari.
 
Dalam pernikahan, tentu harapan setiap orang akan memperoleh kebahagiaan. Tapi pernikahan juga bukan hanya tentang bahagia, tapi tentang duka. Duka yang harus dibagi pada pasangan sendiri. Apa mereka sanggup berbagi duka? Karena yang kuperhatikan, banyak pasangan yang justru hanya mau berbagi kebahagiaan, sementara duka mereka telan sendiri. Dan ketika ada duka lebih besar yang datang, mereka kelabakan. Kesulitan mengatasi dan berujung dengan saling salah menyalahkan.
 
Pertengkaran bukan hal yang tidak biasa. Itu lumrah dan hal dasar. Malah bisa dikatakan rumah tangga tanpa percekcokan ibarat sayur tanpa garam. Tapi bukan berarti ketika pertengkaran itu ada, mereka saling menyalahkan. Saling mendiamkan, lalu pikiran tentang pasangan yang tidak mengerti akan diri mulai bermunculan. Si dia tidak care, si dia tidak seindah bayangan, si dia tidak seperti apa yang pernah ia janjikan. Pasti pikiran seperti itu ada dan akan terus berkembang ketika tidak kunjung mencari solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Coba pikiran kembali, apa kita sudah lebih baik dari dia, sehingga kita menjudge dia seperti itu? Seharusnya kita berpikir tentang hal lain. Tentang usaha maksimalnya untuk menjadi apa yang kita inginkan. Tentang usahanya berusaha membahagiakan kita. Tentang usahanya tersenyum, meski ada beban yang ia tanggung dalam hati.
 
Pernikahan tak ubahnya seperti kapal. Ketika badai datang, mampu apa tidak kita sebagai awak kapal itu untuk menjaga kapal tetap bisa bertahan. Tetap mengarungi samudera yang luas tanpa harus membentur batuan karang.
 
Ada juga pembahasan tentang 'pillow talk', atau perbincangan sebelum tidur. Hal ini dimaksudkan untuk para pasangan dapat berbicara secara lebih intim dan terbuka. Bicarakan masalah apapun dan saling memaafkan sebelum tidur. Bukankah itu hal yang mudah? Namun terasa sulit apabila ego kembali ditinggikan. Hingga akhirnya terlelap sambil membawa emosi dan saling memunggungi.
 
Menikah, bagiku bukan hanya mempersatukan cinta di antara dua insan, lalu bahagia bersama. Menikah bagiku adalah, mampu bersama-sama menapaki hidup dengan kerikil-kerikil yang nanti akan melukai, tapi dengan berdua, semuanya akan mudah. Luka itu akan cepat kering saat kita saling berusaha menyembuhkan dan kuat. Menikah bagiku bukan untung dan rugi. Karena nanti ketika menikah, tidak ada perhitungan yang mampu menyatukan angka-angka yang ada. Maupun menyambungkan aksara yang tercipta. Menikah adalah tentang janji. Bukan janji pada diri sendiri. Bukan janji pada mertua. Bukan janji pada istri atau suami. Tapi janji pada Illahi.
 
Allah-lah saksi dan hakim yang akan mengadili perilaku hambaNya yang bersatu dalam ikatan pernikahan. Allah-lah tujuan pernikahan itu diadakan.
 
Bagiku, menikah muda bukan masalah. Ketika diri telah sama-sama siap, telah sama-sama mengenal dan yakin bahwa dia adalah orang yang mampu kita ajak ke syurgaNya bersama-sama. Tentang kesiapan bathin, lahir, dan juga materi.

 

Nah! Kamu sudah siap sampai mana?

  • view 381