Minyak Kemiri di Rabu yang Pergi

Reski Sululing
Karya Reski Sululing Kategori Puisi
dipublikasikan 19 Februari 2016
Minyak Kemiri di Rabu yang Pergi

katanya kemarin, kapal akan berlabuh di dermaga pukul duabelas

tanpa ragu, dia berjanji akan membawakan segenggam sinole yang hangat selagi sedap

sengaja ia memanjang-manjangkan ceritanya siang itu

biar katanya, aku bersedia menemaninya sampai oli gemuk rantainya datang dari kota

?mengapa tak ada juga hujan di tahun-tahun kemarau panjang, Na??

aku meringis, melupai bahwa besok lusa akan ada air putih yang datang dari gunung

salada dan minyak kemiri, ia simpan rapat di keranjang sepeda anginku

?

pada kepulangan, mengapa selalu bersumpah akan kedatangan?

betapa lelah mata kita merangkai rapal-rapal doa yang melangit menuju sang hyang

pada ceruk mata yang menanggung lelah yang amat banyak, katanya

kita butuh menunda bala? yang ingin berkunjung

?

sebab dadanya yang ringkih tak sanggup menahan batuk yang menahun

ia memilih pulang

kembali menanak begitu banyak cemas yang tak pernah ingin sudah; baik besok atau besoknya lagi

?untuk apa kita hidup jika hanya banyak memupuk resah??

aku diam menatapi dirinya yang beku-diam di dalam keranda

januari ?tak genap usai, rabu belum petang, namun ia memilih pulang

?

?

Luwuk, 2016

sinole: sagu yang disangrai bersama garam

  • view 70