Humor in a Good Way

Reski Sululing
Karya Reski Sululing Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Maret 2016
Humor in a Good Way

Kamis lagi, it means weekend hampir tibaaaaaaaa. Besok tanggal merah, ya? Yang kerja di media kayak saya mah, tanggal merah atau hari Sabtu juga kita tetap ngantor. *krai, but it's alhamdulillah in every way, ya. :')
?


?
Nah, hari ini saya mau menulis soal humor, humor in a good way. Iya, soalnya ada beberapa humor yang sifatnya itu receh.?Eh, ada ya? Bukannya yang receh itu kepingan logam? Hihi, iya, ada kok humor receh, bukan hanya kepingan logam atau kepingan hatiku yang telah kau hancurkan?yang receh. Jadi, sekarang kan lagi happening soal humor-humor di kehidupan kita, baik saat lagi ngobrol santai, lagi di acara formal, saat bersosial media, bahkan di acara-acara televisi atau radio yang mengudara bebas.
?
Soal ini, sebenarnya memang, kita sangat butuh yang namanya humor di kehidupan, bahkan, menurut sebuah penelitian, orang yang memiliki selera humor yang baik, termasuk orang dengan tingkat intelegensi yang tinggi. Makanya, beberapa perempuan memasukkan tipe lelaki yang berselera humor yang baik ke dalam kriteria lelaki idaman bakal teman hidup, termasuk saya sendiri. Rasa-rasanya, menghabiskan waktu bersama seorang lelaki dengan selera humor yang porsinya pas, akan sangat menyenangkan sekali, kamu termasuk yang begitu,kan?
?
Jadi, selera humor setiap orang itu berbeda, ada yang selera humornya "tinggi", ada yang "pas", ada yang receh. Terkadang, saat kita lagi bercanda sama seseorang, kita melempar satu dua jokes atau candaan yang inginnya mengundang tawa, biasanya, bukannya mengundang tawa, akhirnya malah jadi awkward dan kaku, sampai-sampai serupa ada backsound jangkrik di sana, haha. Ada yang pernah mengalami? Saya pribadi, beberapa kali pernah begitu, apalagi kalau sedang acara keluarga, dan di sana diisi oleh bapak-bapak dan kaum ibu, candaan dan humor yang saya lempar sering tak bersambut tawa, malah mengundang tatapan yang terpancar sangat aneh.
?
Selera humor yang berbeda memang menjadi pemicu utama. Gap usia mungkin berpengaruh, atau juga lingkungan dan bahan referensi bacaan atau tontonan. Jangankan di usia yang terpaut jauh, di antara teman sebaya pun, saya biasanya mendapatkan respon yang tidak diinginkan, atau bahkan saya menerima candaan yang menurut saya ndak banget. Siapa yang bisa disalahkan? Tidak ada, sebab selera orang berbeda-beda. Contoh, saat menonton tayangan televisi yang berisi acara lawakan, saya akan sangat susah sekali untuk tertawa, sedang teman di samping saya sudah terpingkal-pingkal bahkan menitikkan air mata dan lari ke belakang karena kebelet, saking dirasa lucunya acara itu. Saya? Diam, kaku, dan kemudian memutuskan untuk mengganti siaran yang berujung pada teman nonton saya yang marah.
?
Seriously, saya susah sekali menemukan unsur humor di acara televisi yang isinya saling menghina fisik atau bahkan saling pukul atau menyakiti, walaupun hanya pakai alat-alat yang dari gabus dan sejenisnya. Susah. Tapi, di luar sana akan ada banyak sekali orang yang terpingkal-pingkal melihat aksi para orang di televisi ketika berbuat demikian, sambil ikut-ikutan teriak, "Masak aeeeeer!" dan seterusnya. Kenapa saya tahu? Soalnya beberapa kawan dekat saya senang nonton yang demikian. Ehehe.
?
Sebaliknya, di komputer pribadi saya tersimpan begitu banyak rekaman stand up comedy, baik yang dari luar negeri dan juga dari Indonesia. Walau terkadang saya lumayan berpikir untuk lawakan dari orang asing, karena di stand up comedy kan selalu mengangkat isu yang sedang hangatnya di sekitar mereka, tapi saya selalu berhasil tertawa lepas, apalagi jika komediannya berasal dari Indonesia, saya akan setengah mati terpingkal-pingkal tertawa. Ketika saya sodorkan ke beberapa kerabat untuk menonton, mereka menatap saya risih dan bilang, "Ini apa sih, Ki?!".?See?Semua bergantung selera.
?
Malahan, saya akan lebih mudah tersenyum-senyum saat lihat tulisan-tulisan lucu di belakang truk, yang tidak jarang nyerempet ke porno ya, tapi saya merasa kalau mereka kreatif luar biasa. Contohnya:
?
?
?
?
?
Belum lagi di media sosial, khususnya Twitter, kita akan sangat mudah menemui begitu banyak akun-akun yang dibuat untuk melucu, nah, saya seriiiiiing sekali menemui kalau apa yang ditulis itu maksa banget untuk melucu. Namun, ada beberapa akun favorit saya, mereka selalunya melucu dengan effortless, artinya, mereka menulis bukan bermaksud untuk melucu, tapi berhasil untuk menggelitik saya.
?
Intinya, semua kembali ke selera masing-masing. Tidak ada yang bisa disalahkan soal humor-humor ini. Lalu, bagaimana dengan judul tulisan saya di atas? Maksudnya, entah apa atau bagaimanapun selera humor kita, usahakan itu tidak menyakiti atau melukai fisik dan perasaan siapapun. Berusaha untuk mengontrol ke mana larinya candaan atau humor kita agar tidak menyaki orang lain, dan pastinya tidak menyinggung SARA. Ngeri kan kalau candaan kita berujung merusak nama baik kita sendiri dan menambah catatan hitam di kepolisian, hiiiiy. Dah, itu aja.

  • view 418