Bagian 3 - Terima kasih untuk malam ini

Renni Arista
Karya Renni Arista Kategori Project
dipublikasikan 26 Oktober 2016
MASIHKAH RINDU ITU ADA?

MASIHKAH RINDU ITU ADA?


(+) Hatiku terlanjur jatuh.. jatuh sejatuh-jatuhnya disaat yang tak tepat. (-) Heiii, sadarlah! Tidak pernah ada kata tepat untuk terjatuh. (+) Ah kau benar. kalau boleh memilih aku tak ingin terjatuh. Meskipun aku tidak tahu masa depanku Allah takdirkan seperti apa..

Kategori Fiksi Remaja

609 Hak Cipta Terlindungi
Bagian 3 - Terima kasih untuk malam ini

Terlalu cepat bagi Nara dan Afri untuk menjadi sangat akrab atau bahkan sangat dekat layaknya sepasang kekasih. Tidak ada kata-kata cinta yang terucap diantara mereka. Afri terlalu dekat untuk disebut hanya sebagai seorang teman bagi Nara, terlalu berlebihan jika mengingat cara Afri memperlakukan Nara, setidaknya itulah yang dirasakan Nara.

Nara memang menyukai Afri, meskipun masih tak pernah diakuinya. Nara merasa nyaman dan bahagia bisa menjadi akrab dengan laki-laki yang diam-diam membuatnya jatuh cinta.

Malam itu menjadi yang pertama kalinya bagi Nara untuk jalan berdua bersama Afri, tak ada rencana sebelumnya sehingga suatu saat mereka membahas makanan favorit masing-masing. Nara yang baru beberapa hari yang lalu menikmati “nasi goreng kambing” masih dapat membayangkan lezatnya makanan itu, dan tanpa diduga Afri mengatakan kalau dia akan mengajak Nara ke tempat favoritnya dengan menu yang ada daging kambing tentunya.

Nara memperhatikan punggung Afri yang sedang berjalan menuju kasir. Dalam lamunan tentang laki-laki yang tertangkap di ujung matanya.

Terima kasih untuk canda tawa yang pertama kalinya bersama kamu..

Malam pun menjadi saksi, bintang menjadi penerang..

Malam ini bersamamu di sebuah tempat yang sederhana tetapi membuat hatiku seperti melayang di angkasa..

Aku masih ingat, di sepanjang perjalanan tadi hidungku mencium aroma masakan yang berbahan dasar daging kambing.

Ku tanya kamu tidak merasakannya, mungkin karena kita berencana makan kambing malam ini.

Suatu saat aku ingin ke tempat ini lagi, entah dengan siapa, atau dengan kamu saat kita sudah menjadi pasangan yang halal suatu saat nanti.

Semoga kita berjodoh.

 

Tanpa disadari, Afri sudah berada tepat dihadapannya.

“Ra..” bisik Afri.

Nara masih tidak bergeming, masih tersenyum dan tatapannya entah kemana.

“Halo. Kamu baik-baik aja Ra?” Sambil menggerakkan telapak tangannya tepat di depan mata Nara.

“Eh eh kamu? Sejak kapan?.” Nara menjadi bertambah malu dibuatnya.

“Kamu mikirin apa hayoo, senyum-senyum gitu.” Ledeknya dengan senyum jahil.

“Hmm,, Ayo kita pulang, sudah malam.” Nara mengalihkan pembicaraan.

  • view 143