#2 - Everything I do

Renni Arista
Karya Renni Arista Kategori Project
dipublikasikan 04 Oktober 2016
#2 - Everything I do

Pagi hari di sebuah halte, diantara penumpang-penumpang yang sedang menunggu kedatangan Bus Transjakarta. Sesak yang terasa ketika berebut masuk ke dalam Bus yang datang begitu lama. Berdiri berhimpitan dengan penumpang-penumpang yang tidak menyisakan ruang untuk leluasa bergerak dan terus bertahan hingga halte pemberhentian terakhir karena saat perjalanan berlangsung memberikan kursinya untuk seorang ibu lanjut usia. Semua itu tidak membuatnya manyun dan merasa letih kali ini. Sejak beberapa bulan yang lalu, hari-hari yang dilalui tak luput dari satu nama yang memenuhi pikiran dan hatinya. Seseorang yang ketika ia mengingatnya, dapat membuat dia tersenyum dan berdendang sepanjang hari.

Beberapa minggu ini, Nara selalu memonitor sosial media milik Afri yang hanya sesekali memperbarui postingan statusnya. Nara terkadang mengganti Display Picture BBM setelah laki-laki itu memperbarui status atau tampilan gambar BBM-nya. Hanya karena ingin tahu respon laki-laki bertubuh tegap dan tinggi itu atau hanya ingin mencari perhatian, yang dilakukan Nara tak ubahnya seorang yang duduk di tepi danau dan melempar kail untuk memancing ikan. Beberapa saat kemudian, respon yang dicari pun tiba, Afri memberikan jempol pada update miliknya. Begitu beberapa kali, beberapa waktu mereka bertukar "jempol" milik mereka, hingga akhirnya ada yang memulai untuk chat karena suatu keperluan pekerjaan. 

Sapaan di pagi hari kadang terdengar di salah satu handphone mereka. Setiap hari tidak ada yang dilewatkan untuk mengobrol sebelum beranjak ke tempat tidur masing-masing. Tidak pernah satu hari pun mereka lewatkan untuk saling bertanya  atau menceritakan apapun yang menarik bagi mereka, tentang Agama, motivasi, politik, atau sekedar gurauan, hanya melalui chatting whatsapp atau BBM. Meskipun setiap hari Nara selalu bertemu dengan Afri, hanya sekilas mereka saling menatap dan melempar senyuman lalu Nara pergi dengan senyum membuncah saat berjalan menatap langit dan lagi-lagi menunggu Bus Transjakarta. Pulang ke Rumah.

Oh Nara. Kau mulai membuka "pintu gerbang rumahmu" padahal belum saatnya. Kau mulai berdua-duaan dalam ruang chattingmu dengan laki-laki yang membuat hatimu berdebar-debar itu. Semoga kau mampu istiqomah dan tidak menanggalkan cita-citamu.

 

  • view 126