Sayur Sunda dari Manado [Ramadhan 6 – Hidup Harmoni dalam Keberagaman]

Reni Fatwa Gumilar
Karya Reni Fatwa Gumilar Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Juni 2017
Sayur Sunda dari Manado  [Ramadhan 6 – Hidup Harmoni dalam Keberagaman]

1 Juni 2017, orang-orang di media sosial sibuk memposting tentang pentingnya hari pancasila, tentang bagaimana pancasila lahir, tentang evaluasi pancasila selama ini menemani indonesia dari tahun 1945. Orang-orang sibuk dengan hastag ‘saya Indonesia saya Pancasila’. Aku memerhatikan timeline facebook dan instagramku dengan seksama bagaimana mereka memaknai pancasila sebagai dasar negara yang memersatukan bangsa. Tidak ada satu bangsa pun yang menghendaki adanya kehancuran dan perbedaan yang memecah belah. Benar? Semua negara menginginkan bangsa yang rukun, damai dan hidup harmoni dalam perbedaan.

Sederhana ....

Hari ini tanggal merah, rasanya kampus pun akan sepi tanpa banyak mahasiswa yang berlalu-lalang. Niatnya hari ini akan ku isi dengan mengerjakan tugas kelompok mata kuliah konstruksi instrumen bersama rekan yang lain di kampus, namun karena beberapa hal yang membuat kami belum memahami prosedur mengerjakan tugas, akhirnya tugas dicukupkan sampai rekap skor z tanpa bertemu di kampus. Berbeda, aku dan rekan-rekan memiliki karakteristik berbeda, ada yang santai-santai saja ketika dihadapkan dengan tugas-tugas kuliah, ada yang sibuk sendiri, ada yang rajin dan tekun, ada yang mengerjakan tugas mepet deadline, macam-macam bukan? itu disebut sebagai budaya. Budaya bukan sekedar perbedaan suku/ras, berbeda pun berbicara mengenai kepribadian dan karakteristik. Yap, walaupun kami berbeda-beda toh tugas tetap terkumpul, kenapa? Karena kami damai dalam setiap perbedaan.

Ini menarik ....

Hari ini tepat hari ke 6  menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kosan terasa sepi tanpa banyak penghuni, biasanya anak-anak kampus sebelah sering ramai memainkan gitar dan berdiskusi hingga larut malam. Hari ini berbeda, hujan mulai turun menyambut berbuka puasa. Aku mengelurkan payung warna tosca menelusuri jalanan sekitar kosan untuk membeli nasi dan takjil buka puasa.

Aku memutuskan membeli gorengan ibu di ujung sana, sambil menunggu penggorengan, seseorang bertubuh tinggi dengan mata sipit, kulit putih dan .... bisa ditebak? Ia pria Korea, kurang drama apa ya hujan-hujan tiba-tiba datang cowok Korea bawa payung, berharap ngajak sepayung berdua HAHAHA berasa jadi Ji Eun Tak yang didatengin Goblin, oh tidak!! Ia mencoba berbicara menggunakan bahasa Indonesia, “Ibu saya beli bala-bala 3” bilangnya, namun yang terdengar ditelingaku, “Ibu sarangheo”, duh kaan godaan menjelang buka puasa. Ya itu takjil sebelum buka puasa, manisnya senyum cowok korea hehehe Tuh hikmahnya, yang berbeda negara aja tersenyum, jadi gak ada alasan untuk kita satu negara gak saling senyum, poin sederhana menjadi bangsa yang damai dan harmoni adalah melakukan hal kecil terlebih dahulu. lhoooo.

Ini sebenarnya ....

Singkat cerita setelah berbuka puasa dan shalat magrib, aku memutuskan membaca quran sampai selesai satu juz. Jelas terdengar suara tetangga kosan asal Manado, berbicara sedkit keras, yang sepertinya jago bahasa inggris, tiap kali nyanyi lalu barat enak didengar, seorang Ibu yang tinggal dengan anak laki-lakinya, yang setiap hari jelas terdengar membangunkan anaknya, yang setiap waktu sholat selalu mengingatkan mengambil air wudhu, yang setiap anaknya belajar ibu itu selalu menemani meski beberapa pertanyaan tak mampu ia jawab, yang katanya lebaran ini cuma anaknya aja yang pulang ke Manado, yang tiap malam menemani telinga ku sambil nugas. Tidak berisik, tidak sama sekali, rasanya ingat suasana rumah. Duh jadi inget mamah di rumah.

Belum habis kubaca full satu juz, suara pintu terdengar diketuk oleh seseorang, tanpa mengucapkan salam pintu kamarku diketuk, setelah kubuka, hal pertama yang ia sodorkan adalah senyuman dan ia adalah ibu Manado ...

 

“Kirain saya gak ada ...” bilangnya

“Ada Bu, hehehe kenapa Bu?”

“Ini ada sedikit sayur dimakan ya buat sahur”

 

Entah kenapa langsung mikir apa ibu Manado tahu kalau aku selama di kosan gak pernah sahur, terharu seketika,

 

“Ibuu ... iya makasih yaa Bu ....”

“Iya ini cuma sedikit, dimakan yaa”

“Iya Ibu terimakasih banyak ... “

 

Ia kemudian pergi dan memberikan senyum manis di bibirnya

 

Aku bilang itu Sayur Sunda asal Manado. Sepertinya ibu memasak sayur memakai bumbu sunda, tak asing dilihat dan dilidah, sayur toge dengan sedikit campuran lada, tempe goreng kesukaan ku yang dimasakan menggunakan kecap namun sedikit pedas di lidah ku, dan ikan yang ia simpan di atas piring, oh ya takjil nya pun tak lupa ia selipkan di wadah itu. Tapi sebenarnya bukan itu, bukan perihal wujud atau material yang ia berikan, tapi perihal keikhlas berbagai antar sesama. Kita sebenarnya tidak terlalu saling kenal, hanya tersenyum manakal papasan waktu parkir motor. Apa yang menjadi poin pentingnya? Bisa kita simpulkan sama-sama?

Oke,

Dari manapun asal kita, budaya, ras, agama, suku, berusahalah untuk tetap hidup harmoni dan damai dalam perbedaan.  Tidak ada aku, tidak ada kamu, yang ada hanya kita. Sekian inspirasi hari ini semoga puasanya berkah yaa bagi yang menjalankan dan tetap cinta pancasila karena kita indonesia.

  • view 103