Guru-able atau Ibu-able?

Reni Fatwa Gumilar
Karya Reni Fatwa Gumilar Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Maret 2017
Guru-able atau Ibu-able?

 

Banyak orang bilang, entah berkarir atau tidak, seorang perempuan tetap harus berpendidikan. Bukan untuk menyaingi laki-laki namun agar bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang membanggakan. Tapi tidak sedikit juga yang bilang, buat apa perempuan berpendidikan tinggi? ujung-ujungnya ke dapur juga kan, ngurus anak, ngurus suami, bahkan ngandelin penghasilan dari pekerjaan suami. Stereotip di lapangan seperti itu adanya. Mari sama-sama saling meluruskan, meskipun sudut pandang tiap orang berbeda, namun

Kegiatan sekolah masih tetap sama, rutinitas belajar, olah raga, jajan, botram alias makan bersama menjadi kegiatan yang sedikit banyak memang diakui membosankan tapi iklim kelas akan berbeda ketika guru BK masuk ruang kelas.

"Ibu ih jangan belajar, capek Bu belajar wae"
"Ibu mau maen games?"
"Ibu maennya di luar yuk!"
"Ibu kenapa jarang ke sekolah? Mau curhat"


Proses pendidikan itu bukan hanya berfokus pada materi ajar yang diberikan namun juga melibatkan kondisi psikologis peserta didik. Lalu bagaiamana kita mampu menumbuhkan dan mengotimalkan iklim kelas agar mereka tertarik dan betah di kelas?

Khusus buat remaja yang duduk di bangku SMP, biasanya mereka suka riweuh dan gak bisa diem, banyak bicara, banyak bertanya, ada juga yang acuh tak acuh, tidak mendengarkan, sibuk sendiri, dan segala aktifitas nya. Suara kita tentu tak mampu mengimbangi suara mereka, biasanya biarkan mereka berbicara semaunya, dan kita diam saja sekitar 5-7 menit di depan kelas. Diam saja!. Biasanya gegedug/orang yang berpengaruh di kelas akan langsung bilang "suuuut, Ibu mau bicara dengerin heyyy" ke temen-temennya.

Kemudian, kita pegang satu siswa yang sering bikin kelas rusuh. Anggap saja ketua nya, kita beri dia kepercayaan untuk selalu mengatur keamanan dan mengkondisikan kelas agar selalu tertib. Biasanya, ketua itu memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi dan manakala ia diberi kepercayaan ia akan patuh dan merasa diberi kuasa.

Usahakan jika di kelas, kita sering melakukan moving/pergerakan dan mobilitas ke setiap bangku untuk berdialog bersama peserta didik.

Terakhir, tetap kita harus memiliki kreativitas tinggi untuk mengaplikasikan teknik layanan di kelas semenarik mungkin.

..

Menjadi guru adalah belajar, belajar membelajarkan diri untuk belajar bersama perserta didik.


Jadi, Guru-able atau Ibu-able? Jadi Ibu buat anak-anak, anak kandung dan anak didik

  • view 192