Self-counseling Sebagai Upaya Pertama Menjadi Konselor yang Meaningful

Reni Fatwa Gumilar
Karya Reni Fatwa Gumilar Kategori Psikologi
dipublikasikan 31 Januari 2017
Self-counseling Sebagai Upaya Pertama Menjadi Konselor yang Meaningful

 

“Education is the best powerful weapon to change the world”, tentu kalimat tersebut sering terdengar ditelinga bukan? Iya kalimat yang dilontarkan oleh Nelson Mandela (presiden Afrika Selatan) tersebut membuat setiap orang berpikir lebih jauh dan terbuka terhadap pendidikan, terutama bagi seorang pendidik. Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik dapat menjadi senjata paling kuat untuk meningkatkan kecerdasan, akhlak/karakter, nilai-nilai dan masa depan bagi perubahan suatu bangsa.

Pendidik termasuk konselor memiliki peranan penting dalam pendidikan, baik dalam pendidikan formal maupun informal. Khususnya dalam setting sekolah, konselor akan menjadi fasilitator dalam upaya membantu siswa mengembangkan segala hal yang ada pada diri siswa ke arah yang optimal. Sejatinya proses pendidikan tidak hanya berupa materi ajar namun lebih jauh dari itu pendidikan berkaitan dengan integritas (akhlak, moral, nilai-nilai, karakter). Jika guru mata pelajaran memberikan pemahaman kepada siswa melalui materi yang diajarkan di dalam kelas, maka konselor sekolah akan memberikan pemahaman dan pembelajaran tentang kehidupan.

Konselor dikategorikan sebagai pendidik, maka dalam pelaksanaan kerjanya harus berlandaskan pada aspek-aspek kependidikan. Lebih rinci lagi, aspek yang harus dimiliki oleh konselor tersusun dalam suatu kerangka kompetensi yang dinamakan dengan kompetensi konselor. Kompetensi tersebut mencakup empati, respect, genuine (asli) dan konkret. Namun sebelum unjuk kerja di lapangan yaitu berhubungan langsung dengan konseli, konselor harus mampu mengelola dirinya sendiri. Teknik yang perlu dimiliki konselor dalam mengelola diri salah satunya yaitu self-counseling.

Self-counseling berarti melakukan konseling terhadap diri sendiri (diri konselor) artinya bahwa konselor sudah harus mampu memberikan treatment-treatment khusus terhadap diri sendiri baik dalam hal mengelola emosi, menghadapi masalah, memecahkan masalah hanya dengan dirinya sendiri. Adanya self-counseling tersebut memberikan penjelasan bahwa banyak hal dalam diri prbadi konselor yang tidak perlu diketahui oleh khalayak, tidak menyusahkan orang lain dengan keadaannya, tidak mengumbar kondisi pribadi di depan umum namun konselor adalah pribadi yang profesional dan mampu menempatkan diri sehingga mampu menjadi konselor yang utuh dan meaningful.

Tidak semua orang memiliki keinginan untuk menjadi pendidik. Konselor adalah profesi yang melibatkan interaksi dengan orang lain, sehingga dalam pelaksanaannya sisi pribadi konselor-lah yang akan mampu membangun hubungan konseling yang berkualitas. Sebelum konselor memberikan layanan konseling kepada konseli, konselor harus mampu mengelola diri sendiri terlebih dahulu. Maka dengan begitu konselor akan mampu berkomunikasi secara efektif dengan konseli, mampu membaca bahasa tubuh konseli, menumbuhkan empati, menciptakan suasana nyaman dan adanya eye contact dalam sesi konseling dan kepuasan konseli adalah bayaran bagi konselor.

Menjadi sebuah pencapain besar jika konselor mampu melakukan self-counseling, konselor dapat menjadi pribadi yang utuh dan meaningful bagi dirinya, konseli dan khlayak umum. Serta secara sosial mampu mengaktualisasikan diri di lingkungan.

Pada dasarnya siswa adalah individu yang sedang berkembang dan menuju ke arah perkembangan yang optimal. Peran konselor akan membantu siswa untuk mengoptimalkan bakat minat, potensi, kompetensi, kecerdasan dan hal lainnya yang ada pada diri siswa. Namun tetap saja, sebelum mengembangkan siswa ke arah optimal, hal yang terlebih dahulu dikembangkan adalah diri pribadi konselor. Hal tersebut ditempuh dengan perkuliahan dengan memperoleh teori-teori konseling untuk kemudian dibiasakan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

<!--

  • view 130