Jendela Rumah Nenek

Reni Fatwa Gumilar
Karya Reni Fatwa Gumilar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Desember 2016
Jendela Rumah Nenek

#ramadhan19

 

Kalau saja kita bersedia membuka mata lebih lebar, ada banyak surga di bumi yang Allah ciptakan. Tanpa kita sadari surga itu adalah tempat ternyaman dengan sejuta surga-surga kecil yang tersedia.

 

Sebut saja rumah nenek,  adalah tempat yang dihiasi dengan doa-doa yang selalu terpanjat untuk putra-pitri nya. Adalah rumah dengan atap penuh cinta untuk Tuhan nya. Adalah rindu yang selalu menjadi tempat pulang untuk anak cucu nya. Adalah nenek 1954 yang masih kuat sampai detik ini. Alhamdulillah.

 

Tepat di bawah kaki gunung burangrang, rumah tradisional yang dibalut dengan cat warna hijau itu menjadi tempat yang selalu ingin dihuni. Rumah dengan lantai papan dari kayu, dengan dinding dari bilik, dengan kompor bukan gas, dengan lemari kayu, dengan jendela kayu. Yha jendela rumah nenek.

 

Jendela rumah nenek, berpikir aku sejenak. Berpikir bahwa manusia juga butuh membuka dirinya, membuka jendela hatinya. Jangan menunggu diketuk tapi ikhlas untuk membuka sendiri hatinya, ridha lillahitaala. Dengan lembut bisik putri nenek (red: mamah), "sadaya ge aya waktosna, tos waktosna muka jandela hate, pasrah ka gusti Alloh."

 

Jendela rumah nenek, aku menemukan pelajaran bahwa hidup butuh celah untuk diisi. Bersedia diisi keihlasan, keridhaan, kritik, ujian, dan segala hal yang Allah berikan pada hamba-Nya agar giat berdoa dan ikhtiar.

 

Jendela rumah nenek, tegas nenek sore tadi "hirup kudu ka hareup, sing panjang pangharepan."

 

Jendela rumah nenek, 19 Ramadhan ❤

  • view 161