Burangrang dan Pemandian Kuda

Reni Fatwa Gumilar
Karya Reni Fatwa Gumilar Kategori Budaya
dipublikasikan 04 November 2016
Burangrang dan Pemandian Kuda

KATA PENGANTAR

            Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa,karena atas perkenan-Nya kami telah menyusun serita Gunung Burangrang dan Pemandian Kuda yang berlokasi di Kampung Gunung Bakti Desa Cihanjawar Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta.

            Dengan segala kerendahan hati kami haturkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada juru kunci sebagai narasumber yang telah memberikan informasi dan penjelasan tentang cerita Gunung Burangrang dan Pemandian Kuda,sehingga dapat dijadikan bahan dalam penyususnan cerita.

            Penyusunan cerita ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah,khususnya tradisi memandikan kuda dan tradisi ngabungbang yang berhubungan dengan cerita lagenda yaitu kejadian suatu tempat,sehingga merasa bangga terhadap daerah itu sendiri karena mengenal sejarahnya yang bersifat local.

            Saran dan kritik kami dambakan,demi perbaikan dan kesempurnaan penyusun selanjutnya.

 

Purwakarta,Desember 2003

Penulis

 

SAMBUTAN

Assalamualaikum Wr.Wb

            Dengan segala senang hati saya mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak,khususnya kepada penulis dan narasumber yang telah menyumbangkan pemikirannya untuk menyusun cerita Gunung Burangrang dan cerita Pemandian Kuda.

            Perlu kita ketahui bahwa cerita Gunung Burangrang dan Pemandian Kuda merupakan cerita yang memiliki nilai historis dan tempat bernilai keramat,karena banyak orang yang mengenal istilah Pemandian Kuda yang berlokasi di Suku Gunung Burangrang merupakan tempat istirahat dan tempat berziarah.

            Mudah-mudahan dengan menyusun cerita ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan Pemerintah dalam menggali urusan kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan daerah untuk memperkaya budaya Nasional.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Cihanjawar,   Desember 2003

Kepala Desa Cihanjawar

 

 

ENUH NURHAYAT          

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………...i

Sambutan………………………………………………………………………………………..ii

Daftar Isi………………………………………………………………………………………..iii

BAB     I           Pendahuluan…………………………………………………………………...1

BAB     II         BURANGRANG DAN PEMANDIAN KUDA………………………………4

                                    A.Dongeng dari rakyat ke rakyat…………………………………………….4

                                    B.Masa peninggalan kerajaan Mataram…………………………………... 11

                                    C.Masa Pemerintahan Kabupaten Karawang……………………………..16

                                    D.Masa DI/TII……………………………………………………………….. .17

                                    E.Masa Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I)………………...19

                                    F.Masa sekarang dan harapan yang akan datang…………………………20

BAB     III        KESIMPULAN……………………………………………………………….24

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………26

Lampiran-lampiran

  • Peta Gunung Burangrang

 

BAB I

PENDAHULUAN

            Siapa yang harus mencintai daerah itu ? putara daerahlah sebagai jawabannya yang harus cinta pada lingkungannya sendiri dengan melakukan berbagai macam cara untuk menjaga keutuhan eksistensinya.Menggali kembali serta melestarikan budaya merupakan salah satu perwujudan cinta daerah itu sendiri,bahkan termasuk orang yang berimanlah apabila seseorang mencintai tanah airnya.

            Dengan menggali kembali budaya daerah,maka akan memberikan sumbangsih bagi pembendaharaan budaya Nasional,begitu pula dipandang dari sudut pendidikan, karena pendidikan erat sekali kaitannya dengan kebudayaan,serta pendidikan itu pewaris kebudayaan,sehingga dalam menggali kembali budaya yang hamper lenyap perlu didukung dan dikelola langsung oleh pendidikan,khususnya tentang sejarah yang berhubungan dengan kejadian suatu tempat,kepercayaan,dan misteri,baik yang bersifat fiksi maupun kejadian yang benar-benar terjadi.

            Sejarah lokal yang akan dimunculkan tentang kejadian di suatu daerah yaitu “Pemandian Kuda” di daerah suku Gunung Burangrang yang tepatnya di Kampung Gunung Bakti Desa Cihanjawar Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta.Hal ini terjadi pada tempo dulu hingga sekarang,dengan ditulis bersumberkan dari dongeng rakyat ke rakyat,survey ke tempat kejadian,dan daftar pustaka yang dapat menunjang penulisan cerita . Atas dasar itulah cerita “PemandianKuda” yang berlokasi di suku Gunung Burangrang ingin diangkat menjadi sejarah lokal Desa Cihanjawar,sehingga generasi sekarang dan yang akan dating dapat mengetahui sejarah Pemandian Kuda,sebagaimana dalam pepatah “ tak aka nada sekarang kalau tiada dulu,dan takkan ada masa dating kalau tiada sekarang” , maka dengan sejarahlah untuk memaknai pepatah itu.

            Lokasi Pemandian Kuda memiliki beberapa mata air yang terkenal diantaranya: Cikubang,Cibendungan,dan Citengah.Istilah Cikubang berasal dari kata Ci atau Cai berarti air dan kubang artinya kobak atau kolam kecil untuk mandi(guying),sedangkan istilah lain Cikubang adalah Ci berarti air,kubang berasal dari kata ngabungbang yang artinya diam di luar rumah pada tempat keramat di malam tanggal 14 Mulud,Kubang berasal pula dari kat bungbang yang berarti tempat yang pohon-pohonnya sudah ditebang (caang).

            Istilah Cibendungan berasal dari kata Ci atau cai berarti air dan bendungan artinya tempat yang dibendung atau ditampung airnya.Sedangkan Citengah berasal dari kata Ci berarti air dan tengah artinya pusat atau letaknya berada di tengah.

            Dari istilah Cikubang,Cibendungan,dan Citengah erat sekali kaitannya dengan istilah Pemandian Kuda.Sehingga dari ketiga istilah tersebut dapat diambil pengertian secara etimologi,yaitu :

  • Cikubang : FSuatu tempat yang berbentuk kobak atau kolam kecil        keluar

air Yang bening,tawar dan dingin,digunakan untuk       memandikan kuda dan kerbau.

FMata air yang lokasinya di tengah-tengah tanah yang luas atau di tengah pesawahan dengan tidak terdapat pohon-pohon yang tinggi.

FAir atau mata air tempat mandi yang digunakan pada bulan Mulud terutama malam 14 Mulud,karena airnya mengandung keramat ,yaitu badan lebih kuat,ingin dicintai dan kasih saying (Banyu Tresna) dan mengharapkan kehidupan yang sejahtera.

  • Cibendungan : FMata air yang bending atau ditampung   dalam  bentuk   kolam

Besar yang digunakan untuk kolam renang,pemandian kuda,dan pengairan sawah.

  • Citengah :   FMata air yang letaknya diantara mata air Cikubang dan mata air

Cibendungan serta berlokasi di bawah makam Embah Panim (orang yang pertama memandikan kuda)

            Untuk lebih jelasnya tulisan ini akan memaparkan rangkaian cerita pemandian kuda secara periodisasi dan misteri-misteri Gunung Burangrang,yaitu:

1.Dongeng dari rakyat ke rakyat                           

2.Masa peninggalan kerajaan Mataram                           

3.Masa Pemerintahan Kabupaten Karawang                              

4.Masa DI/TII                                   

5.Masa Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I)

6.Masa sekarang dan harapan yang akan datang

-

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

BURANGRANG

DAN

PEMANDIAN KUDA

 

A.DONGENG DARI RAKYAT KE RAKYAT

            Pada mulanya istilah “Pemandian Kuda”,bersifat fiktif yaitu cerita dari rakyat ke rakyat yang tidak dinyatakan oleh bentuk tulisan dan pengarangnyapun tidak diketahui (anomin).Menurut cerita rakyat,pemandian kuda erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang menghadirkan cerita kejadian suatu tempat,yaitu tiga gunung yang berada di sebelah utara Bandung,Gunung Tangkuban Perahu,Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Burangrang.Itu terjadi akibat tidak diterimanya lamaran Sangkuriang kepada Ibunya Dayang Sumbi,sehingga kekesalan dan kemarahan Sangkuriang yaitu menendang perahu yang dibuat semalaman menjadi tengkurap (nangkub) menjadi Tangkuban Perahu,bekas pohon yang kayunya dibuat perahu (tunggul) menjadi Bukit Bunggul,dan daun-daunnya dari pohon yang ditebang meranggas atau rontok (ngarangrang) menjadi Burangrang.

            Sepeninggalnya legenda Sangkuriang,tiga Gunung itu menjadi buti kejadian suatu tempat,sehingga rakyat menduga bahwa tiga gunung itu mempunyai nilai mistik yang tinggi,karena menurut kabar secara misteri dari tiga gunung tersebut sewaktu-waktu suka muncul suatu gunung yang terkenal di daerah Pasundan yaitu Gunung Sunda yang dijadikan tempat mensucikan diri para wali dari hal-hal keduniawian.Hal ini terbukti dengan adanya batu tulis (prasasti) Curug Cipulus yang bertuliskan huruf Arab,karena termasuk prasati bersejarah bekas peninggalan para wali.Dalam misinya para wali itu menyebarkan agama Islam khususnya di daerah Pasundan.Salah seorang wali yang bertafakur di tempat itu namanya Syeh Maya,sedangkan pengikutnya yang sering datang pula ke tempat itu antara lain :

Syeh Pangku Nagara,Embah Dalem Cakra Buana,Embah Dalem Jaga Buana,Embah Dalem Langlang Buana,Embah Dalem Ijar Buana dan Embah Surya Kencana dari Gunung Masigit.

            Batu tulis Curug Cipulus lokasinya berada di Gunung Burangrang yang letaknya berdekatan dengan air terjun (curug) Cipulus yang mengalir air dari sungai Cikahuripan sehingga dikenal dengan nama Batu Tulis Curug Cipulus.Namun ada juga yang menyebutkan bahwa daerah itu dikenal daerah Batu Tulis karena terdapat batu bertulis yang di atasnya terdapat gua,menurut informasi masyarakat yang pernah naik ke Batu Tulis bahkan naik ke puncaknya yang namanya dikenal Batu Lampu,di sana terdapat beberapa makam yang disebut daerah Gunung Sunda.

            Menurut juru kunci Batu Tulis Bapak Ujang Shudin,keanehan-keanehan yang sering muncul di tempat itu , antara lain :

  1. Apabila waktu di sana terjadi hujan,kemudian berlindung di dalam gua yangkelihatan kecil,keanehannya semua orang dapat masuk meskipun orangnya banyak.
  2. .Pengunjung yang pernah menginap di Batu Tulis pernah melihat orang yang bertubuh besar memakai pakaian khas Arab (Islam) dan salah seorang yang menginap sendirian, pernah mengalami keanehan yaitu begitu pulang dari batu tulis seakan-akan berjalan di jalan raya sampai ke rumah juru kunci di Kampung Pasir Banteng.
  3. Air sungai Cikahuripan yang letaknya di bawah batu tulis selalu bening sepanjang 30 M, meskipun terjadi banjir dan airnya keruh di tempat lain, di sana tetap bening.

Pengunjung yang   datang ke batu tulis  mempunyai    maksud maksud tertentu

yaitu :

  1. Datang bukan untuk berniat musyrik atau percaya kepada kekuasaan selain Allah ,karena batu tulis bukan untuk pemujaan.
  2. Berniat untuk tafakur (mendekatkan diri kepada Allah) di tempat sunyi.Biasanya dengan diam di tempat sunyi , Allah memberikan kemudahan untuk mengabulkan do’a hamba-Nya.Hal ini selalu dilakukan oleh para wali di waktu dulu.
  3. Berniat meraih kehidupan dunia yang sejahtera misalnya : untuk naik pangkat dan jabatan ,mendapat pekerjaan,berusaha (mencari nafkah) dengan cara dagang,tani,dan usaha lain.,cepat mendapat jodoh dan lain sebagianya.
  4. Berniat untuk mendapat ilmu kebatinan.

Dengan      tujuan-tujuan    tersebut     bias tercapai   ,apabila ada    nasibnya dan

Melaksanakan syarat-syaratnya,yaitu :

  1. Melaksanakn kewajiban shalat 5 waktu dan menjalankan perilaku yang baik,serta menjauhi kebatilan.
  2. Menikuti petunjuk juru kunci dengan cara membaca wirid-wirid yang harus dibaca di gua batu tulis dan ba’da shalat.
  3. Mengambil air wudhu di sungai Cikahuripan dengan tidak boleh batal wudhu sampai ke gua batu tulis, sambil membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  4. Pada hari jum’at batu tulis tidak didatangi pengunjung,karena dulunya para wali sedang melaksanakan shalat jum’at di tempat lain,bahkan melaksanakannya di Mekkah ,sehingga kebiasaan-kebiasaan ini secara turun-temurun sampai sekarang.

Bagi pengunjung    yang melanggar    aturan-aturan yang diberikan juru kunci,

Biasanya mendapatkan musibah yang tidak diharapakan.Untuk itu pentingnya juru kunci tersebut dapat member jalan kea rah kesuksesan.

            Juru kunci-juru kunci yang dan sedang melaksanakan kejuruannya yaitu :

  1. Embah Hasan
  2. Embah Muhasif
  3. Bapak Elas
  4. Embah Usif
  5. Bapak Ujang Sahudin

Tidak setiap orang dapat menemukan gunung sunda kecuali bagi orang yang suci dengan mensucikan badannya di air Cihanjawar (Banyu Tresna) yaitu air yang bersih,bening dan dingin sehingga menjadi salah satu desa di kabupaten Purwakarta yaitu Desa Cihanjawar.

Keanehan-keanehan yang sering nampak yang berhubungan dengan gunung sunda,diantaranya : Di gunung sunda tempatnya bagaikan manusia sedang bermimpi,tempatnya indah dan subur,segala macam tanaman tumbuh dengan subur dan berbuah lebat, sehingga bagi orang yang pernah menemukan gunung sunda biasanya membawa bibit tanaman yang dijadikan bekal bagi kehidupannya.Karena kejadiannya demikian maka banyak orang menganggap bahwa gunung sunda merupakan tempat pemujaan untuk mencari kehidupan duniawi.Karena itu pula maka untuk menemukan lokasi gunung sunda sangat sulit.

Keadaan di gunung sunda sering terdengar suara gamelan wayang yang tak terlihat orang yang menabuhnya.Orang yang melanggar aturan biasanya diberikan kutukan (supata) , diantaranya telah terjadi lima kali jatuh kapal terbang di kawasan gunung burangrang yaitu pada zaman penjajahan Belanda sebanyak dua kali,tahun 1975 , 1986, dan tahun 2001 .Konon katanya hal ini terjadi disebabkan oleh kapal yang terbang melewati makam (ngalangkangan) para wali .Kutukan yang lainnya menimpa Desa Cihanjawar yaitu pada tahun 1986 terjadi banjir besar merusak areal pertanian yang berasal dari luapan air sungai Cihanjawar dan Ciherang.

Cerita dari rakyat ke rakyat (dongeng) pemandian kuda yang berada di suku Gunung Burangrang.

Penduduk Cihanjawar gunung menyebutnya dengan istilah “KUDA SAMPARANI” karena kuda tersebut memiliki kekuatan dan keanehan , diantaranya penduduk sering mendengar suara kuda tetapi wujudnya tidak ada,hanya terdengar suaranya saja.Konon kabarnya apabila di malam hari terdengar suara kuda,ini artinya ada kuda samparani sedang mandi dan minum di pemandian kuda,kuda tersebut berasal dari gunung gedogan yang berada di wilayah gunung burangrang.Gunung gedogan salah satu bukit di gunung burangrang yang lokasinya daerah bebatuan yang bentuknya seperti kandang kuda.

Keanehan lain tentang kuda samparani yaitu penduduk sering mendengar suara kuda berlari menarik gerobak bahkan penduduk sering melihat kuda menarik gerobak pada malam hari , padahal di kala siang hari jangankan melihat kuda menarik gerobak,melihat kuda yang lewatpun tidak pernah.

Kuda samparani selalu berpinda-pindah tempat,sehingga dapat menghubungkan daerah satu dengan daerah lainnya misalnya di daerah Citukung Sawit ada telapak kaki kuda pada sebuah batu,orang menyebutnya telapak kaki kuda samparani,begitu pula di Gunung Cupu Cianting ada prasasti telapak kuda Samparani,bahkan istilah-istilah lain yang selalu digunakan pada kuda samparani antara lain kendali kuda sekarang dikenal menjadi Cikendali yaitu daerah yang berada di kecamatan Plered.

                Cimetinya dikenal dengan nama rukmini.Istilah rukmini berasal dari bahasa Sansekerta serta dari kata rakmi atau rinukmi yang artinya permata,ini berarti [ula suatu benda yang memancarkan cahaya,yang terangnya seperti purnama,sehingga setiap malam tanggal 14 Mulud sudah menjadi tradisi diadakan upacara ngabungbang.

            Asal-usul mata air Cikubang , bermula dari seorang pedagang minyak yang berjalan membawa dagangannya,tiba-tiba wadah minyak tumpah karena tertendang (katejeh) oleh kuda Samparani yang selalu terbang.Pedagang itu menangis karena barang dagangannya tumpah ke tanah,sedangkan orang yang menunggang kuda tersebut tidak jelas namanya.Konon kabarnya penunggang kuda tersebut bernama Syaidin Ali.Dan ada pula yang menyebutkan penunggang kuda itu seorang wali.Meskipun belum jelas secara pasti nama penunggang kuda itu,namun yang paling  penting penunggang kuda itu melihat pedagang yang nangis,kemudian turun dari kudanya untuk menolong pedagang,penunggang kuda melakukan sesuatu yaitu mengambil tanah yang tersiram minyak kemudian diperas membentuk lubang.Dari lubang tersebut keluar air yang dingin dan jernih,lubangnya berbentuk kubang (kolam kecil) ,sehingga menjadi sebuah mata air yaitu mata air Cikubang yang airnya rembesan dari gunung Gunung gedogan.Dari mata air itu mata air Cikubang dijadika suatu tempat yang keramat yaitu tempat pemandian kuda,karena menunjukan kejadiannya suatu tempat yang berpangkal dari kuda samparani.

            Mata air Cikubang selain dari tempat pemandian kuda juga digunakan untuk ngabungbang olah para pengunjung terutama pada bulan Mulad,namun selain dari ngabungbang banyak pula pengunjung sengaja dating untuk mandi dengan tujuan untuk memperkokoh ilmu kesaktian dan kekuatan badan.Untuk mencapai tujuan tersebut,maka orang yang melakukannya pula memenuhu syarat-syarat yang harus dikerjakan,yaitu :

  1. .Melaksanakn mandi sebanyak 49 kali,dengan setiap kali mandi menyiram kepala sebanyak 7 kali.
  2. Dilaksanakan 7 malam dimulai pada malam jum’at.
  3. Apabila ada orang yang melihat ,diusahakan orang yang mandi jangan bergerak , karena tidak akan terlihat.
  4. Ketika akan mandi bertemu dengan orang lain,niatnya harus diurungkan,karena termasuk syarat jangan bertemu dengan orang lain.
  5. Membaca asma-asma Allah yaitu:
  6. Basmallah
  7. Allahu Akbar (memulyakan Allah)
  8. Membaca Syahadat

Dalam membaca syahadat bias pula diartikan ke dalam bahasa Melayu,Jawa,dan

Sunda,karena kebanyakan orang Sunda,selalu menggunakan bahasa Sunda,dengan tujuan untuk mengucapkan bahwa Tuhan yang wajib di sembah hanyalah Allah SWT serta menyebutkan keesaan Tuhan,misalnya “Kangsa Katunggal”

  1. Juru Kunci membacakan jampi-jampi.

Apabila semua syarat dapat  dilaksanakan   dan   terpenuhi,maka keinginannya bisa

tercapai , dalam waktu kebelakang untuk menguji tercapainya tujuan yaitu memindah-mindahkan batu besar yang berada di tengah kobak tersebut,yang saat ini batu besar tersebut,tertimbun oleh tanah dan pasir .

            Aki Mahria termasuk juru kunci yang selalu memandikan pengunjung di pemandian kuda di Cikubang,pekerjaan beliau sebagai juru kunci lahir secara turun-temurun yang merupakan penyandang warisan dari leluhurnya terdahulu,adapun leluhur tersebut yaitu :

1.Pak Arja

2.Ayah Enok

3.Ua Ener

4.Aki Mursani

5.Aki Mahria

 

B.MASA PENINGGALAN KERAJAAN MATARAM

            Embah Penim termasuk salah seorang pengikut Sultan Agung Kerajaan Mataram yang ikut mengadakan penyerangan ke VOC di Batavia (Jakarta) tahun 1628,namun penyerangan tersebut mengalami kegagalan karena kurangnya bekal,senjata,serta kurangnya persatuan dan kesatuan.Sehingga tentara Sultan Agung banyak yang mundur ke Cirebon dengan tujuan untuk menyusun kembali kekuatan.

            Pada tahun 1629 tentara Sultan Agung yang dipimpin oleh Pangeran Sumedang membuat lumbung-lumbung padi di sepanjang jalan yang dilalui oleh tentara Sultan Agung .Pendirian lumbung-lumbung padi.

            Sebagai tempat penyediaan makanan,diketahui oleh tentara VOC,maka lumbung-lumbung itu dibakar oleh kaki tangan VOC.Akhirnya serangan yang kedua dari Kerajaan Mataram mengalami kegagalam pula.

            Dengan kegagalam kedua kalinya,pengikut Sultan Agung banyak yang mundur ke daerah selatan sampai ke suku gunung burangrang yang terdapat di Desa Cihanjawar dan Pasanggrahan,pengikut-pengikut tersebut antara lain :

1.Eyang Panambahan (R.Nata Kusumo)

2.Eyang Ale (Eyang Alesih)

3.Embah Sarnim (Tengku Pradarahma)

4.Embah Jaya (Embah Seta)

5.Embah Dengkun

6.Embah Panim

            Semasa hidupnya Embah Panim selain member nama kampong Cinyawar Gunung, beliau juga yang pertama kali membuka daerah Cinyawar Gunung menjadi kampong baru (ngabedah) sampai menetap di kampong tersebut.Apalagi kalau setelah tahu bahwa air kampong baru itu dingin,bening,dan menyejukan.Bahkan beliau semakin betah saja untuk bermukim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.Meskipun usianya semakin tua tetapi badannya tetap kuat,begitu pula dalam ilmu kanuragannya termasuk orang yang sakit,karena sering mandi (ngabungbang) di air gunung itu yang biasa dilakukan pada malam tanggal 14 Mulud.Selain ngabungbang,Embah Panim suka memandikan hewan peliharaannya yaitu kuda.

            Tempat pemandian itu berupa mata air yang bersumber dari gunung burangrang namanya dikenal Cikubang (Banyu Tresna) yaitu air yang digunakan untuk membersihkan badan agar kuat jasmani dan rohani dalam memupuk rasa cinta kasih terhadap Allah SWT, sesame manusia dan cinta terhadap lingkungan.Pemandian kuda memiliki lima mata air yang airnya selalu mengalir dengan tak pernah reda meskipun mengalami kemarau panjang.Kelima mata air itu jaraknya berdekatan dan diantara mata air-mata air tersebut terdapat Padepokan Embah Panim yang menetap sampai akhir hayatnya dan di padepokan itu pula beliau dimakamkan yang dijadikan pemakaman umum kampong Cinyawar Gunung.

            Lokasi padepokan Embah Panim dikelilingi oleh solokan dan lima mata air yang airnya besar, kalmia mata air itu digunakan menurut fungsinya masing-masing, yaitu : Mata air I namanya mata air Cikubang merupakan mata air pusaka tempat pemandian kuda dan tempat ngabungbang yang jaraknya agak jauh dari padepokan sekitar 300 M. Mata air II adalah tempat pemandian kuda yang kedua atau tempat membersihkan setelah dimandikan di Cikubang,karena airnya paling besar maka mata air II airnya digunakan pula untuk mengairi pesawahan.Mata air III letaknya berada di bawah padepokan dan diantara mata air yang lainnya, sehingga dikenal dengan nama mata air Citengah, tempat ini digunakan untuk bersuci (berwudhu) dan tempat beribadah karena didirikan langgar.Citengah merupakan tempat pertemuan kedua solokan yang airnya berasal dari beberapa mata air yang berada di lokasi pemandian kuda kecuali aliran air dari Cikubang.Mata air IV dan V digunakan untuk kolam ikan (balong) yang letaknya di sekitar padepokan,dipinggir kolam ditanami pepohonan dan bungaa-bunga yang menghiasi keindahan sekitar kolam.

            Dari semua mata air yang berada di lokasi pemandian kuda,airnya mengalir ke hilir,berbaur menjadi sebuah sungai yaitu sungai Cinyawar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            S.Cinyawar                             Pesawahan

 

 

                                                                        Solokan

KOLAM

IKAN

 

 

 

 

 

Kolam

Ikan

               Solokan            Mata air III                                   Mata Air IV

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Mata Air I

Mata

 Air II

                 Citengah                                                                                 Cikubang

 

 

 

                                                                 Padepokan

                                                 Embah Panim                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

  Mata Air V                                                                                                                                                              

 

 

 

GUNUNG BURANGRANG

DENAH LOKASI PEMANDIAN KUDA

 

C.MASA PEMERINTAHAN KABUPATEN KARAWANG

            Pada tahun 1820-1827 Raden Aria Surianata yang bergelar Dalem Santri, yang kemudian beliau menetapkan Wanayasa sebagai Ibu Kota Kabupaten Karawang.Dan beliau wafat di Wanayasa,kemudian dimakamkan di tengan Situ Wanayasa.

            Dalem Santri merupakan bupati Karawang ke-sembilan , sekaligus sebagai bupati pertama yang bekedudukan di wilayah Purwakarta.Semasa tugasnya beliau sering turun ke Desa  dan Kampung dengan menunggang kuda, bahkan sering sekali ke kampung Cinyawar Gunung untuk beristirahat sambil memandikan kudanya karena beliau mendengar dongeng rakyat Cinyawar Gunung,bahwa air Cikubang baik untuk memandikan kuda bahkan seringnya ngabungbang,sehingga pada saat itu pemandian kuda Cinyawar yang bertempat di kampong Cinyawar mulai terkenal se-Kabupaten Karawang.

            Gegeden (pejabat) Kabupaten Karawang dan daerah bawahannya yaitu dari Purwakarta,Subang,Dengklok,Pamanukan,dan sekitarnya,sering dating menghadap Bupati ke Wanayasa kemudian memandikan kudanya di Cinyawar Gunung.

            Pada masa Pemerintahan RAA Sastradiningrat (1854-1863) yang bergelar Uyang Ayim, beliau membangun pendopo,mesjid Agung dan Situ Buleud serta merancang pembuatan sarana olah raga pacuan kuda (Lapang Purnawarman).Pada waktu itu para gegeden yang mengetahui sejarahnya pemandian kuda sering dating ke Cinyawar Gunung dengan maksud untuk memandikan kuda di air Cikubang,karena air dan tempatnya mengandung keramat dan kekuatan supranatural.Karena kuda yang telah dimandikan di air Cikubang mempunyai kukuatan dan ketangkasan, apalagi dalam adu balap selalu menang karena larinya kencang.

            Tradisi memandikan kuda dan ngbungbang tidak hanya dilakukan oleh para gegeden saja,bahkan rakyat biasalah yang sering memandikannya.Hal ini terus berlanjut sehingga rakyat secara turun-temurun mengetahui sejarah pemandian kuda.

            Sejak tahun 1950-an pengunjung yang berasal dari wilayah Subang,Dengklok,Pamanukan,dan sebagainya, baik dari kalangan gegeden maupun masyarakat sudah jarang dating,karena pada waktu itu bertepatan dengan wilayah Purwakarta menjadi Kabupaten Purwakarta,yang ibu kotanya berkedudukan di Subang. Sehingga hubungan dengan Kampung Cinyawar Gunung menjadi jauh. Apalagi pada tahun 1956-1957 sama sekali tidak ada yang memandikan kudanya di Cinyawar Gunung karena wilayah gunung burangrang dikuasai oleh gerombolan DI/TII.

D.MASA GEROMBOLAN DI / TII

            Pada tahun 1956 wilayah gunung burangrang dijadikan basis gerombolan DI/TII  di wilayah Bandung bagian utara yang menyebar sampai ke suku gunung burangrang yaitu di Desa Cihanjawar dan Desa Pasanggrahan.Apalagi kampong Cinyawar Gunung yang jaraknya sangat dekat dengan gunung burangrang yang selalu menjadi incaran dan santapan gerombolan.Sehingga masyarakat menjadi ketakutan karena sering datang meminta makanan untuk bekal di hutan.Kejadian ini terus-menerus terjadi yang akhirnya diketahui oleh pihak berwajib yaitu TNI. Dalam operasi keamanannya TNI berhasil menembak beberapa orang anggota gerombolan.Akibat tertembaknya beberapa orang anggota gerombolan tersebut,maka pada tahun 1957 seminggu setelah kejadian,gerombolan DI/TII menyerang kampung-kampung di Desa Cihanjawar,rumah-rumah dibakar,masyarakat dibunuh,dan kekayaan dirampas.

            Kesedihan melanda Desa Cihanjawar, mayat berantakan di mana-mana, pemukiman masyarakat hancur lebur, yang akhirnya kampung-kampung tersebut di kosongkan. Masyarakat pun berevakuasi ke daerah lain seperti Pasanggrahan, Cikeris, Bojong, bahkan ada yang pindah ke kota mengikuti sanak familinya.

            Dengan munculnya pemberontakan DI/TII di wilayah Jawa Barat,maka pada tahun 1960 Pangdam VI Siliwangi Bapak Ibrahim Aji mengambil inisiatif untuk mengadakan pemberantasan gerombolan DI/TII dengan operasi Pagar Betis. Berkat bantuan rakyat, TNI berhasil memberantas gerombolan. Termasuk pemimpinnya Karto Suwiryo menyerah  dan bertanggung jawab atas pemberontakan-pemberontakan yang terjadi.

            Gerombolan yang ada di gunung burangrang pun banyak yang menyerahkan diri dan mati kelaparan sehingga pada tahun 1962, Jawa Barat aman kembali dari gerombolan DI/TII.

            Pada tahun 1962 kampung-kampung di Desa Cihanjawar dibangun kembali,khususnya di kampung Cinyawar Gunung. Masyarakatnya bergotong-royong dan kerja bakti membangun kembali rumah-rumah. Atas kebersamaan penduduk dalam kerja bakti maka nama kampung Cinyawar Gunung diubah namanya menjadi kampung Gunung Bakti.

            Sejak itulah pemandian kuda Cikubang di kampong Gunung Bakti mulai digunakan kembali, banyak lagi pengunjung yang datang dengan tujuan untuk beristirahat (niis) dan ngabungbang yang mempunyai kuda, sambil memandikan kuda.

  1. MASA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG TAHAP KE 1 (PJPT 1)

            Dalam Rencana Pembangunan Lima tahun  II ( REPELITA ) tahun 1974-1979 , sasarannya mengutamakan sektor pertanian menuju swasembada pangan, untuk menempuh sasaran tersebut Pemerintah dalam meningkatkan hasil pertanian melaksanakan program Panca Usia Tani diantaranya pengairan (irigasi), termasuk mata air yang berada di kampung Gunung Bakti Desa Cihanjawar dibangun untuk pengairan persawahan.

            Pada tahun 1975 mata air II yaitu tempat pemandian kuda yang kedua dan mata air III Citengah dibangun oleh Pemerintah, mata air II dibangun berbentuk kolam yang berukuran 15 x 25 M. Kolam itu berfungsi sebagai penampung air (Cibendung) sehingga kolamnya terkenal dengan Cibendungan.

            Pada tahun 1975 bupati Purwakarta, Bapak Muhtar sering pacuan kuda di lapangan Purwakarta dan beliau sering memandikan kudanya di pemandian kuda Cihanjawar Gunung. Sehingga beliau member julukan kepada kampung Gunung Bakti yaitu sebagai kampung Sumber Jaya yang artinya sumber kejayaan dan kekuatan.

            Dari tradisi itulah beliau tertarik pada pemandian kuda Gunung Bakti, sehingga pada tahun 1975 dibangun pemandian kuda Cibendungan dan Citengah.

  1. MASA SEKARANG DAN HARAPAN YANG AKAN DATANG

            Pada saat ini yang namanya pemandian kuda tinggal kenangan, tiada lagi pengunjung yang memandikan kudanya di mata air Cikubang, Cibendungan, dan  Citengah. Hal ini dikarenakan pula oleh jarangnya orang memiliki kuda baik dari golongan pejabat maupun golongan masyarakat biasa, berbeda dengan tempo dulu kuda merupakan hewan peliharaan yang digunakan untuk alat angkutan dan pacuan, sedangkan sekarang alat angkutan tidak menggunakan kuda lagi, melainkan menggunakan kendaraan bermotor.

            Selain jarangnya terdapat kuda juga tempat pemandian kudanya pun tidak layak pakai untuk memandikan kuda karena keadaan sudah rusak. Meskipun tahun 1975 mata air Citengah dan Cibendungan dibangun, namun sampai saat ini belum ada perbaikan.

            Meskipun tradisi memandikan kuda hanya tinggal kenangan, tetapi tradisi ngabungbang pada bulan Mulud masih banyak, bahkan selain bulan Mulud pun banyak pengunjung yang dimandikan oleh juru kunci. Hal ini berarti tempat untuk memandikan kuda masih berfungsi walaupun hanya untuk mandi, sehingga tradisi memandikan kuda tidak akan sirna begitu saja. Karena terangkat oleh tradisi ngabungbang.

            Juru kunci-juru kunci yang masih memandikan pengunjung di lokasi pemandian kuda, yaitu :

1.Bapak Ujang Sahudin

2.Aki Mahria

3.Anang

4.Dede (cucu dari Aki Makria)

            Dari keempat orang tua tersebut yang paling tua dan lebih tahu tentang sejarah pemandian kuda yaitu Aki Mahria bahkan beliau meskipun umurnya sudah lebih dari 100 tahun, tetapi masih siap untuk memandikan orang yang datang.

            Mata air yang berada di lokasi pemandian kuda berfungsi pula untuk mengairi persawahan dan lahan pertanian sayuran, bahkan kampung Gunung Bakti termasuk daerah penghasil sayuran yang dipasarkan ke pasar Wanayasa, sedangkan sayuran khas Gunung Bakti di Pasar Wanayasa adalah selada air. Pedagang sayurpun berasal dari Desa Cihanjawar, khususnya di kampung Gunung Bakti tidak ketinggalan setiap hari Minggu dan Rabu menjual sayurannya, malahan pedagang sayur pasar Wanayasa kebanyakan orang Gunung Bakti. Nampaknya kenyataan ini bercermin pada nilai historis, yaitu pada tempo dulu hubungan Wanayasa dengan Gunung Bakti sangat erat berkaitan dengan pemandian kuda dan tempat peristirahatan, sehingga pada saat inipun kedua daerah itu terjadi kontak hubungan yang bergerak dibidang ekonomi.

            Tradisi ngabungbang merupakan warisan dari leluhur yang perlu dilestarikan dan dikembangkan keutuhannya, sehingga tradisi ini tetap Nampak dikalangan masyarakat. Begitu pula tradisi memandikan kuda yang sudah hampir lenyap, ingin dilestarikan dan diangkat kembali meskipun sudah jarang terdapat kuda.

            Untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi ngabungbang memandikan kuda perlu didukung dari semua pihak, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah. Kebiasaan tersebut pada masyarakat masih melekat dan dijiwai meskipun kendala-kendala sering muncul tetapi masyarakat masih tetap melaksanakannya.

            Adapun kendala-kendala tersebut antara lain :

  1. Sebagian orang beranggapan tradisi tersebut merupakan perbuatan musyrik. Padahal kalau dikaji lebih dalam serta diterima dengan hati nurani, tradisi ini akan memperkuat dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
  2. Tempatnya sudah rusak.
  3. Sudah jarang terdapat kuda.
  4. Masih banyak masyarakat yang belum mengenal sejarah pemandian kuda.
  5. Tidak senang terhadap kebiasaan tradisional dan konvensional.

Dari semua kendala  itu  dapat  diatasi apabila ada  kerjasama  dari  semua pihak

yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya. Hal ini bisa terjadi dan sering muncul apabila dilihat dari sebelah pihak, sehingga pelestarian budaya tak akan terwujud. Namun kalau kita memandang dari berbagai sudut maka kita akan menampakan potensi-potensi yang ada serta keuntungan-keuntungan yang menjadi harapan di masa datang.

            Potensi-potensi yang ada di lokasi pemandian kuda seta peluang-peluang untuk mendapatkan keuntungan, yaitu :

  1. Memiliki beberapa mata air.
  2. Airnya jernih, dingin dan tawar.
  3. Memiliki pemandangan yang indah.
  4. Udaranya sejuk dan bersih.
  5. Jauh dari keramaian kota.
  6. Dapat ditempuh oleh kendaraan bermotor.
  7. Dapat meraih (income) pendapatan daerah khususnya pendapatan Desa, karena airnya digunakan oleh daerah lain terutaman air bersih.
  8. Dapat dijadikan tempat refresing atau istirahat.

Dengan  melihat  potensi dan    peluang, maka lokasi   pemandian kuda ingin sekali

dijadikan lokasi objek wisata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

            Cerita Burangrang dan Pemandian Kuda bersumber dari dongeng rakyat ke rakyat yang memaparkan tentang legenda atau kejadian suatu tempat yang diangkat menjadi sejarah local disuatu daerah yaitu sejarah local Desa Cihanjawar.

            Wilayah Burangrang yang sangat luas, terdiri atas beberapa bagian wilayah berupa anak gunung, bukit, lembah, dan sebagainya. Dari beberapa daerah tersebut baru sebagian daerah yang dapat diketahui tentang cerita lahirnya nama daerah tersebut, masih banyak tempat yang perlu digali dan diungkap riwayatnya, karena tak mungkin lahir suatu nama tempat seandainya tak ada sejarahnya. Meskipun berbagai persepsi dilakukan namun setidaknya dapat mengenal daerah itu, termasuk nama gunung Burangrang pun banyak pendapat mengungkapkannya, yaitu Burangrang berasal dari kata “ngarangrangan” yang artinya pohon yang daun-daunnya berjatuhan atau rontok. Istilah tersebut diambil dari cerita Sangkuriang. Istilah Burangrang berasal pula dari kata “burang” dan “rangrang”, burang artinya ranjau yang terbuat dari bambu runcing untuk menangkap binatang. Sedangkan rangrang artinya ranting-ranting kecil dari pohon. Jadi Burangrang artinya suatu tempat berupa hutan atau gunung yang masih angker dengan penuh jebakan-jebakan yang menimbulkan bahaya, hal ini dapat terjadi apabila tidak sopan dalam bertindak dan berbicara.

            Cerita Pemandian Kuda dipaparkan secara periodic, yaitu cerita sejak zaman dahulu sampai sekarang, bahkan mengungkapkan keinginan masa yang akan datang yaitu lokasi pemandian kuda dapat difungsikan kembali eksistensinya dengan dijadikan tempat objek wisata. 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Ruslan A. (1981), Monografi Desa Pasanggrahan, Pemerintah Desa Pasanggrahan.
  2. Surana, (2000), Aku Cinta Bahasa Indonesia, Jakarta : Tiga Serangkai
  3. …………,(2003), Kilas Balik Sejarah Kota Purwakarta, Koran Wibawa Karta Raharja.
  4. Sumarsono T. (1996), Maher Bahasa Sunda, Bandung : CV Geger Sunten.
  5. Dinas P dan K, (1996), Kamus Basa Sunda, Bandung : CV Geger Sunten.

           

           

 

 

 

 

 

 

             

                         

           

             

  • view 489