Padamu, Boleh Aku Meminta Bahagia?

Reni Fatwa Gumilar
Karya Reni Fatwa Gumilar Kategori Psikologi
dipublikasikan 04 September 2016
Padamu, Boleh Aku Meminta Bahagia?

Ini bukan tentang kita yang seringkali merasa tidak bahagia, bukan tentang ketidakmampuan mengontrol diri sendiri agar sebisa mungkin menjadi bahagia, bukan tentang kondisi lingkungan yang tidak mendorong kita untuk bahagia. Tapi ini tentang bagaimana sebenarnya kita memaknai bahagia.

 

Orang bilang, bahagia itu miliki kita, kita sendiri yang ciptain. Tapi bagiku, kita juga butuh orang entah untuk kita bahagiakan atau menjadi sumber kita bahagia, yang jelas diri kita dengan orang lain menjadi suatu siklus untuk saling membahagiakan. Maka yang menjadi sorotan utama adalah kondisi internal dan eksternal yang saling mendukung.

 

Salah satu kondisi internal kita adalah masalah persepsi, apa yang orang lain pikirkan tentang kita hal tersebut menjadi hak mereka dan miliki mereka. Tapi pada saat hal tersebut sudah masuk ke diri kita, kita tidak serta merta mempatenkan bahwa anggapan orang atau informasi tersebut adalah sesuatu yang benar. Setiap kepala memiliki isi yang berbeda, yang penting jangan saling merasa benar dan tidak saling menjatuhkan. Maka yang kita lakukan adalah berusaha untuk mem-persepsi-nya informasi yang masuk dalam diri kita sebelum akhirnya kita patenkan menjadi milik kita seutuhnya. Terkadang kita mudah terbawa suasana manakala sesuatu hal masuk ke dalam diri kita dan seringkali emosi kita mudah meluap-luap. Sehingga yang kerapkali dilakukan adalah mengambil keputusan tanpa berpikir secara matang. Lebih selektif lagi yaa mem-persepsi informasi yang masuk ke diri kita!

 

Makhluk sosial diciptakan untuk hidup saling bergantung, bukan memiliki banyak ketergantungan. Bahagia pun begitu, kita dan orang lain saling membahagiakan untuk bahagia tapi tidak menggantungkan sepenuhnya bahagia kita pada orang lain. Kita memiliki banyak orang untuk kita mampu bahagiakan, siapapun itu entah yang memang orang yang kita sayangi atau orang yang tidak kita kenal sekalipun.  Tanamkan bahagia pada semua orang, senyuman adalah hal sederhana sebagai bentuk berbagai bahagia.

 

Nyatanya Maslow mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, artinya kita semua membutuhkan orang untuk menyayangi dan mencintai kita, untuk apa? Tentunya untuk membuat kita bahagia.

 

Sederhana, aku dan kamu adalah kita yang mampu membuat siklus untuk saling membahagiakan!

  • view 241