lainnya

Ren Reina
Karya Ren Reina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Oktober 2017
lainnya

Aku diam membisu dalam sunyi malam yang membeku.  Aku menumpas rasa dingin yang menyelimuti kalbu. Bicara dalam kata-kata yang bebas mengurai setiap susunan pemikiran yang selama ini teredam oleh keinginan menjadi orang yang baik. Diam mungkin cara terbaik yang kumiliki. Diam mungkin ekspresi yang kupilih untuk sebuah penjagaan diri dari ancaman yang paling mengerikan, neraka.

Suasana kebekuan saat liarnya lisan yang hadir, kucairkan dengan dzikir. Aku tak ingin waktu menculik diri hingga tersekap dan tak berdaya oleh ancaman sanksi illahi. Kupaksa diri ini menghindari  luangnya waktu yang sia-sia. Karena saat kekosongan waktu itu datang. Yang sering muncul ialah lipatan kata yang kadang terucap kepada sahabat, sanak saudara, tak teratur mencabik-cabik hati baik disengaja atau tidak disengaja. Baik itu saat serius bicara ataukah bercanda, maka kupilih dengan seksama sebelum ada celah-celah kecil yang menyakiti orang lain dengan dzikir yang terucap dari bibir.

Akhirnya aku mencoba meredam diri. Semacam kata “sepakat” yang kuciptakan beririsan dengan hati dan pikiran. Dua hal yang menyempurnakan penciptaan manusia bahwa diam adalah pilihan untuk sebuah cara memenjarakan lisan yang kadang liar tak beraturan.

 

  • view 24