Seliter Kereligiusan Tidak Akan Menyakiti

Regina Pamungkas
Karya Regina Pamungkas Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Januari 2017
Seliter Kereligiusan Tidak Akan Menyakiti

Hari itu Selasa, tanggal 13 Desember 2016, saya bertemu dengan 3 orang teman di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika Maghrib tiba, kami sholat berjama'ah di musholla. Bukannya ingin bermaksud lebay, tapi ketika saya sholat berjama'ah, saya merasakan nuansa seperti bulan Ramadhan. Mungkin karena sudah lama saya tidak sholat berjama'ah di masjid, jadi ketika saya sholat berjama'ah lagi, entah mengapa kenangan bulan Ramadahan yang dijemput oleh otak saya. Menurut saya, sholat merupakan cara terbaik untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat.

Transformasi yang saya rasakan ketika saya mulai takbiratul ihram sampai salam sangatlah besar. Jika sebelumnya saya bersenang-senang dan tertawa terbahak-bahak sebagai ekspresi kesenangan, ketika saya sholat, saya merasa lebih tenang dan jiwa saya menjadi seimbang kembali. Sholat juga mengajarkan kita menjadi orang yang bersabar. Secara logika, sholat akan lebih baik dilakukan secara khusyuk dan tanpa rasa terburu-buru, karena terburu-buru merupakan salah satu perbuatan setan. Bacalah setiap ayat, maknai artinya, dan kamu pasti akan merasakannya juga.

Kunci untuk mendapatkan bimbingan-Nya adalah dengan cara membuka hati dan pikiran untuk menerima-Nya. Sebelumnya, saya sering memertanyakan keberadaan Tuhan. Walaupun begitu, saya tetap melaksanakan ibadah selama 40 hari (anjuran dari seorang sahabat muslimah) dan sekarang saya menjadi lebih baik. Setidaknya saya tidak lagi memertanyakan keberadaan Allah SWT.

Saya pun ingin orang-orang terdekat di sekeliling saya yang tidak memercayai adanya Tuhan, bisa mencoba melakukan hal yang sama dan kamu akan merasakan efeknya. Saya tidak ingin ada yang tertinggal, mari kita temukan Tuhan bersama-sama dan menjadi orang yang lebih baik setiap harinya. Saya berbagi pengalaman lebih jauh tentang hal ini di https://www.youtube.com/watch?v=5aHoi6X_Mfs

  • view 81