Sebuah Pesan Untuk Ayah Masa Depan

Refina  Sundari
Karya Refina  Sundari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 06 Juli 2016
Sebuah Pesan Untuk Ayah Masa Depan

Halo, Ayah Masa Depan... 

Aku adalah seorang putri dari seorang laki-laki yang ku panggil "Papa" dalam keseharianku. Ini adalah sedikit pelajaran yang dapat ku bagikan kepada calon Ayah atau lelaki yang kelak akan menjadi seorang Ayah dalam waktu dekat. Seorang Ayah adalah salah satu peran yang sangat penting di dalam keluarga. Selain mencari nafkah, ia juga bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya. Namun, kadang terdapat hal-hal sepele yang seringkali terlupakan oleh seorang Ayah sehingga anak-anaknya memiliki persepsi yang berbeda. Semoga kisah ini dapat menginspirasi dan menjadi pelajaran yang sangat berarti bagi calon Ayah di masa depan. Selamat membaca! 

Defa, wanita muda berumur 20 tahun ini berasal dari keluarga broken home.  Jika melihat kondisi hubungan orang tuanya, sebenarnya ia tidak begitu  menyesali perceraian orang tuanya. Ia juga merasakan kesedihan yang mendalam atas kejadian tersebut tapi tak berlarut-larut dalam kesedihan. Sikapnya terlihat normal, seolah semua baik-baik saja, walaupun Defa sempat bingung bagaimana menjelaskan kondisi keluarganya kepada teman-teman dan kerabatnya apabila mereka menanyakan perihal pribadi tentang kehidupannya. Masalah itu dapat diatasi dengan baik oleh Defa, kecuali satu hal..... hubungan maupun komunikasi dengan ayahnya tidak berjalan dengan baik.

Hampir semua orang menyalahkan Defa. Sebagai anak pertama, Defa memang dianggap dewasa di keluarga tersebut dan selalu memutuskan beberapa hal penting terkait dengan urusan keluarga. Namun, Defa juga merupakan orang pertama yang disalahkan karena ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya. Apakah itu sepenuhnya kesalahan Defa? Tentu tidak.

Saat ini dia menyadari bahwa sikapnya tidak sepenuhnya benar dan bukanlah contoh yang baik untuk adiknya. Tetapi, Defa memiliki alasan tersendiri mengapa ia bersikap demikian. 'Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai', peribahasa tersebut sudah cukup jelas mewakili penjelasan Defa kepada semua anggota keluarga besar yang menyalahkan sikapnya tersebut. Defa cukup menyayangkan sikap ayahnya yang tidak pernah ada untuknya ketika ia sedang melalui masa perjuangannya dalam setiap kompetisi yang ia ikuti dan beberapa operasi bedah yang ia lalui. Selain itu, terdapat beberapa hal yang cukup menyayat hatinya, yaitu ketika ia melihat sang Ayah menjalin hubungan dengan wanita lain tanpa diketahui oleh Ibunya. Ya, cukup menyakitkan bagi seorang anak berumur belasan tahun pada waktu itu.

Defa adalah anak yang sangat aktif dan berprestasi. Tidak hanya prestasi akademis, ia juga berprestasi dalam bidang olahraga dan dapat menguasai seni tari, musik, serta bahasa asing dengan baik. Begitu pula dengan adiknya, Tio, 2 bersaudara tersebut sangat berprestasi dan memiliki minat di bidang yang sama. Ibunya merupakan sumber semangat dan kekuatan keduanya. Bagi Defa dan Tio, ibu adalah segalanya. Selalu ada dan terus mendukung apapun, dimanapun, dan kapanpun dalam segi materi, waktu, maupun tenaga. Walaupun aktif di bidang olahraga, sebelumnya kondisi fisik Defa sangat lemah sehingga ia membutuhkan operasi bedah untuk mengangkat penyakitnya. Sosok Ibu selalu menyertai Defa dalam kondisi apapun dan tetap di sampingnya ketika ia merasa sangat takut untuk menjalani operasi. Sangat disayangkan, Ayah tidak pernah melakukan hal yang demikian. Keberadaan Ayah hampir tidak dirasakan oleh Defa dan adiknya.  

Awalnya, Defa memang tidak keberatan jika ayahnya tidak pernah hadir atau meluangkan sedikit waktunya untuk bertanding maupun mengantarnya ke tempat latihan atau karantina yang ada di luar kota bahkan di provinsi yang berbeda. Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, ayahnya mulai tidak menyukai kegiatan-kegiatan positif yang sedang ia jalani. Ayahnya juga menjatuhkan opini-opininya mengenai keinginan dan tujuan jangka panjangnya pada hal tersebut. Ya, mimpi Defa dipatahkan oleh sang Ayah. Padahal ayahnya tidak pernah melihat kerja keras Defa untuk mencapai mimpi-mimpinya, sekaligus bakat Defa yang sangat berpotensi untuk masa depannya.  Demikian pula dengan Tio, minatnya di bidang seni, yaitu film, musik, dan teater seringkali dicibir oleh sang Ayah sebagai hal yang 'remeh'. Tidak ada dukungan moral maupun materi untuk Tio, bahkan ia hanya mendapatkan komentar-komentar negatif yang menjatuhkan dari sang Ayah. Pendapat Defa dan Tio tidak pernah dihiraukan sedikitpun. 

Dalam kondisi tersebut, Defa tetap menghargai ayahnya dan sama sekali tidak bersikap kurang ajar walaupun dalam hatinya ia sangat marah, sedih, serta kecewa. Ia berusaha untuk tetap menjaga sopan santun demi menghormati ayahnya. Namun, suatu saat hal tersebut hilang sesaat dalam hati Defa. Ia melihat ayahnya menjalin hubungan dengan wanita lain dari pesan SMS dan foto-foto yang ada di galeri handphone sang Ayah. Defa tidak sengaja melihatnya karena ingin meminjam handphone ayahnya untuk menelepon seorang teman. Sejak saat itu, hati Defa terasa sakit dan merasa dibohongi oleh orang yang selama ini ia sayangi.

Ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, Defa tidak berusaha menghentikan hal tersebut. Bagaimana sebuah keluarga harus dipertahankan ketika sudah tidak ada lagi kepercayaan dan rasa saling menghargai satu sama lain? Seorang anak memang wajib untuk menghargai dan menghormati orang tuanya, tetapi seorang anak juga memiliki hak untuk dihargai. Defa berpikir bahwa rasa sayang itu harus ditunjukkan dengan komunikasi yang baik sehingga tercipta kepercayaan dari masing-masing pihak yang terlibat. Jika ada satu yang tidak melibatkan dirinya pada hubungan komunikasi tersebut, maka ia kehilangan satu kesempatan untuk merasa dicintai dan dipercayai sepenuhnya.

Sedikitnya komunikasi membuat Defa tidak dapat menyelami hati ayahnya dan tidak memahaminya setelah orang tuanya berpisah. Ia pun sedikit enggan menunjukkan rasa sayangnya pada sang Ayah karena tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Seringkali pendapat Defa berbeda dengan ayahnya mengenai keutuhan keluarga, padahal opini tersebut merupakan hal yang sangat jujur dari hatinya dan disampaikan dengan sangat baik. Sayangnya, Ayah Defa tidak menerima hal tersebut dan mengecap Defa sebagai anak durhaka yang tidak akan sukses di kemudian hari. Setelah itu dia mendapat ancaman-ancaman finansial dan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh orang tua kepada anaknya. Defa tidak sakit hati jika orang tuanya berkata kasar, tetapi pesan-pesan yang memojokkan dirinya, terlebih ibunya, membuat psikis Defa sedikit goyah. Akhirnya, Defa merasa serba salah dan memutuskan untuk tidak bertemu ayahnya maupun menjalin komunikasi demi kebaikan dirinya agar kondisi psikisnya normal kembali.

Keputusan itu membuatnya harus bersabar terhadap persepsi-persepsi keluarga maupun teman yang menyalahkan dirinya. Defa hanya tersenyum jika ia disalahkan, toh orang-orang hanya tahu kulit luarnya saja tanpa mengetahui perjalanan hidup Defa yang menjadikan ia seperti yang sekarang. Ia hanya menjelaskan alasan yang sebenarnya apabila sangat terpaksa, itupun hanya dengan orang-orang yang dia percayai. Tidak bisa dipungkiri bahwa Defa tetap menyayangi ayahnya sama seperti ia menyayangi ibunya, namun bentuk kasih sayang yang ia berikan tentu tidak sama. Wanita muda ini sangat yakin bahwa ayahnya sangat sayang kepadanya, tapi sangat disayangkan sang Ayah menganggap sepele waktu bersama buah hatinya ketika usia mereka masih sangat belia. Dukungan materi terasa tidak berarti tanpa adanya dukungan moral, semangat, saling menghargai, dan kepercayaan.  

Masalah yang ada dalam hidup Defa mengandung banyak hikmah sebagai pelajaran untuk dirinya. Defa berharap semoga kejadian yang menimpanya saat ini tidak terjadi pada keluarganya di masa depan maupun orang lain. Ya, quality time bersama keluarga menjadi hal yang sangat penting dan tetaplah luangkan waktu bersama buah hati Anda nantinya. Jadilah Ayah Masa Depan yang dapat menciptakan keluarga yang bahagia dan menghasilkan anak-anak yang hebat di masa depan :)

(Based on true story)           

                     

       

  • view 239