Kadang Memang Lucu

Redi Antara
Karya Redi Antara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 April 2017
Kadang Memang Lucu

Kadang lucu ya jika kita mengingat kembali perjalanan cinta kita.

Awalnya, kita adalah dua orang yang tak pernah saling mengenal. Kita memang sering ketemu tapi tidak ada yang aneh dengan pertemuan kita. Aku selalu tersenyum, engkau pun selalu tersenyum saat kita berpapasan. Itu adalah hal wajar yang biasa aku lakukan kepada orang-orang yang aku temui. Kita juga hanya saling menyapa sekadarnya saja sebagaimana yang biasa dilakukan pada orang lain. Bahkan, untuk beberapa kali kita juga pernah saling acuh.

Tapi, kenapa tiba-tiba kita bisa hidup bersama sebagai sepasang kekasih?

Aku tidak tahu siapa yang menyemai benih cinta diantara kita. Yang aku tahu, benih-benih itu telah mengakar dalam hati. Setelah itu, cerita kita menjadi berubah.

Senyum yang senantiasa kita bagi bukan lagi senyum biasa tapi senyum bahagia. Senyum yang selalu membuatku rindu. Begitupun sapaan kita. Kadang, aku sering tak bisa tidur hanya karena seharian belum mendengar suaramu. Sebegitu hebatkah cinta yang telah tumbuh diantara kita?

Kita banyak menghabiskan waktu berdua saja. Mencuri-curi kesempatan hanya untuk bertemu. Hal yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kadang, aku juga tak bisa tidur hanya karena belum bertemu denganmu sehari saja.

Tapi, cerita itu kini tinggal kenangan. Benih cinta yang tumbuh diantara kita ternyata tak mampu bertahan saat musim berubah.

Memang, kita masih berusaha untuk saling tersenyum saat kita bertemu. Namun semuanya terasa hambar. Sapaan kita pun rasanya seperti tak ikhlas terucap. Hingga akhirnya kita seolah menjadi dua orang yang tidak saling mengenal. Apakah memang cinta hanya sebuah siklus?

Kadang memang lucu jika mengingat semuanya. Tapi, mengingat apa yang pernah kita jalani berdua kadang membuatku harus mengusap lelehan air mata di pipiku.

Ya begitulah, cinta memang tak pernah masuk akal. Karena memang sejatinya cinta adalah perkara hati yang tak bisa diterjemahkan akal.

Kini, aku menyadari banyak hal prihal cinta.
Saat kita memutuskan jatuh cinta maka saat itu kita juga harus berdamai dengan duka. Cinta tak selalu berujung pada ikatan serius sebuah pernikahan. Karena, cinta juga hadir hanya untuk mengajarkan kita kedewasaan, melatih kita dalam duka dan kesedihan. Agar kelak saat kita sudah bersama orang yang tepat, kita tak akan melakukan kesalahan-kesalahan yang berujung pada kesedihan karena cinta. Agar kelak kita bisa menghargai seseorang yang tulus mencintai kita karena kita pernah merasakan bagaimana rasanya ketulusan yang tak dihargai.

Sebenarnya, yang membuatku kecewa dan bersedih bukan karena caramu meninggalkan atau keputusanmu yang memilih pergi. Namun, yang membuatku merasa kecewa adalah dengan caramu mencintaiku. Cintamu sangat menggebu-gebu di awal waktu, janjimu banyak yang kau umbar seolah benar-benar tulus mencintaiku namun semuanya menjadi hambar, semuanya menjadi dingin.

***

 Tulisan ini juga sudah di unggah di blog Catatanrediantara.blogspot.co.id

  • view 107