Tentang Nama

Reanata Widjaja
Karya Reanata Widjaja Kategori Project
dipublikasikan 18 November 2016
Diary Anak Lab

Diary Anak Lab


Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Lalu bagaimana jika hal-hal seperti persahabatan & cinta justru terjadi di dalam laboratorium?

Kategori Fiksi Remaja

381 Hak Cipta Terlindungi
Tentang Nama

Sebulan telah berlalu sejak pertama kali Re menginjakkan kaki di lab Ibu Tara. Re sudah mulai disibukkan dengan kegiatan lab yang menguras waktunya. Setiap pagi ia harus datang lebih awal, lantas menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Mulai dari memecahkan bongkahan es batu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, me-UV mikropipet, tip, tube dan MQ yang akan digunakan, hingga memastikan reagen yang akan digunakan sudah tidak dalam kondisi beku dan homogen.

Pukul delapan biasanya Ibu Tara datang, lalu bertanya apakah semuanya sudah siap atau belum. Jika sudah Ibu Tara akan mulai mengajari Re bagaimana membuat PCR mix, lalu memasukkan sampel, menghomogenkan keduanya sampai siap untuk dimasukkan ke mesin real-time PCR. Dan Re akan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ibu Tara bertanya sekali dua jika ada hal-hal yang belum dimengerti olehnya.

Setelah selesai Ibu Tara akan mengajak Re ke lab RICE, lab dimana mesin real-time yang akan mereka gunakan berada. Lalu Ibu Tara akan mengajari Re menggunakan mesin real-time tersebut sambil menjelaskan prinsip kerja mesin tersebut. Setelah semua sampel dimasukkan ke dalam mesin, Ibu Tara akan melakukan pengecekan sekali lagi pada semua kondisi dan pengaturan mesin yang telah di setting sebelumnya. Setelah proses amplifikasi mulai berjalan, keduanya akan meninggalkan lab tersebut dan baru akan kembali dua jam  kemudian, saat proses amplifikasi telah selesai dengan sempurna.

Selama dua jam itulah Re akan bisa bersantai sejenak. Ia akan merapikan semua alat dan bahan yang ia dan Ibu Tara gunakan. Membersihkan peralatan yang perlu dibersihkan sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu ia akan menyalin beberapa catatan yang telah dibuat oleh Ibu Tara sebelumnya ke dalam log book pribadinya. Terkadang ia juga menyempatkan diri untuk mengisi boks tip yang telah kosong lalu membungusnya dengan koran, plastik tahan panas  lalu melabelinya dengan nama dan tanggal. Tip-tip itu perlu disterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan.

Sesekali ia juga membantu mas Atang—teknisi lab untuk membungkus cawan petri yang akan disterilisasi. Di saat yang lain ia akan membuat larutan TAE 1X jika botol TAE berlabel “Baru” yang terletak di banch dekat jendela sudah hampir habis isinya atau bahkan kosong sama sekali. Ia juga akan membuang larutan TAE 1X di botol berlabel “Bekas” jika warnanya sudah mulai pekat atau menjadi kebiruan.

Dan disela-sela mengerjakan hal-hal tersebutlah Re bisa leluasa berbincang-bincang dengan teman-teman labnya yang lain termasuk kak Salman. Mereka bisa membicarakan apa saja. Mulai dari hal-hal yang ada kaitannya dengan penelitian dan pekerjaan di laboratorium sampai ke hal-hal yang sifatnya lebih pribadi seperti keluarga. Bagi Re yang memang cerewet, berbincang dengan siapapun selalu saja menyenangkan, terutama dengan kak Salman.

***

Setiap Senin, Ibu Tara menjawibkan semua staff labnya melakukan progress report, menyampaikan laporan tentang kegiatan penelitian yang dilakukan selama seminggu belakangan. Apa saja pencapaian yang telah diraih, kendala yang dihadapi dan hal-hal yang akan dilakukan selanjutnya.

Re masih ingat progressnya yang pertama kali. Pagi itu, untuk pertama kalinya ia tahu nama lengkap kak Salman, Salman Al-Farisi. Nama itulah yang tercantum pada slide pertama dari powerpoint yang dibuat oleh kak Salman. Informasi berharga yang disimpan baik-bak oleh Re dalam ingatannya.

Entah mengapa mengetahui nama lengkap kak Salman rasanya begitu membahagiakan untuk Re. Apalagi selama ini informasi pribadi mengenai kak Salman begitu terbatas. Meski seringkali mengobrol tentang berbagai hal, kak Salman selalu lebih suka menjadi pendengar. Jadilah Re yang memang sangat cerewet selalu mendominasi menjadi pembicara.

Jika pun kak Salman mau bercerita, yang diceritakannya tak lebih dari hal-hal umum. Rasanya sulit sekali bagi Re untuk memancing kak Salman agar mau menceritakan tentang hal-hal pribadinya, minimal tentang informasi pribadinya. Padahal selama ini Re terkenal mahir memancing informasi dari orang-orang yang dianggap sulit untuk terbuka pada orang lain. Mungkin yang dibutuhkan Re hanyalah lebih banyak waktu, pikirnya.

Pagi itu Re juga mempresentasikan progress penelitiannya. Seperti kak Salman dan semua temannya yang lain, ia juga mencantumkan nama lengkapnya di slide pertama powerpoint yang dibuatnya. Reanata Widjaja. Nama itu terpampang jelas, bahkan Re ikut menyebutkannya di awal presentasi.

Dalam hati, ia menunggu respon kak Salman saat mengetahui nama lengkapnya untuk yang pertama kali. Tapi rupanya tak ada reaksi apapun dari kak Salman. Ia bersikap seperti biasa, dan lebih tertarik pada isi dari progress penelitian Re dibandingkan dengan mengetahui nama lengkap Re untuk yang pertama kali.

Pagi itu Re merasakan kekecewaan pertamanya terhadap kak Salman. Aneh memang cara kerja pikiran sesorang yang sedang jatuh cinta. Re sendiri juga tidak tahu mengapa rasanya sekecewa ini hanya karena kak Salman tidak bereaksi apapun saat mengetahui nama lengkapnya untuk yang pertama kali

***

Kekecewaan yang dirasakan Re menguap begitu saja keesokan harinya ketika Re terbangun dari tidur. Betapa bodohnya ia, pikirnya, merasa kecawa hanya karena hal sepele seperti itu? Sekalipun kak Salman tak menunjukkan reaksi apapun saat mengetahui nama lengkapnya untuk yang pertama kali, bukankah selama ini ia selalu memanggil Re dengan berbeda? Bukankah ia selalu menyebutkan “Reanata”secara lengkap, bukan hanya “Re” seperti yang kebyakan orang lakukan?

Tidakkah itu cukup untuknya? Re kembali memkirkan tentang betapa egoisnya ia kemarin. Reanata, Reanata, Reanata. Ia mengucapkan namanya sendiri dalam hati secara berulang-ulang. Bukankah itu saja sudah istimewa? pikirnya.

Pagi itu ketika ia menyusuri jalan setapak menuju lab, ia memutuskan bahwa nama Reanata yang selalu diucapkan dengan utuh oleh kak Salman setiap kali menyebut tentang dirinya sudah cukup untuk membuatnya merasa istimewa. Dan ia merasa bahagia karenanya. Jika kali ini kak Salman membuatnya merasa begitu istimewa hanya karena nama, ia berharap esok lusa ada hal-hal lain yang dilakukan kak Salman yang kembali membuatnya merasa begitu istimewa.

***

  • view 196