Awal Mula

Reanata Widjaja
Karya Reanata Widjaja Kategori Project
dipublikasikan 11 November 2016
Diary Anak Lab

Diary Anak Lab


Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Lalu bagaimana jika hal-hal seperti persahabatan & cinta justru terjadi di dalam laboratorium?

Kategori Fiksi Remaja

311 Hak Cipta Terlindungi
Awal Mula

Semilir angin yang berhembus menggerakkan ranting-ranting pohon False Ashoka yang berjajar di sepanjang jalan misterius ini. Misterius sebab jalan ini selalu saja diselimuti kabut setiap pagi. Hanya ada dua bangunan tak terpakai yang terletak di sisi kanan dan kiri jalan ini, sisanya dipenuhi oleh semak belukar dan pohon-pohon yang cukup besar. Membuat kesan misterius semakin melekat kuat pada jalan yang menjadi penghubung antara dua pintu masuk ini.

Dan Re—tokoh utama pada cerita ini—justru begitu menyukai jalan misterius itu. Baginya jalan itu seperti gerbang yang akan membawanya ke dunia yang sama sekali berbeda dengan dua yang selama ini dikenalnya. Ia bahkan seringkali membayangkan, suatu ketika, setelah ia melewati gumpalan kabut yang melayang-layang di sepanjang jalan itu ia akan tiba di tempat yang beum pernah dilhatnya selama ini. Lengkap dengan makhluk-makhluk aneh yang selama ini hanya bisa dibayangkan olehnya saat membaca cerita dongeng anak-anak.

Sebagai seorang perempuan dewasa berusia 22 tahun imajinasi Re memang terbilang masih cukup tinggi. Mungkin karena selama ini ia sangat menyukai cerita-cerita fantasi seprti Harry Potter atau Charlie and The Chocolate Factory. Maka ia begitu bersemangat ketika harus melewati jalan misterius itu lagi pagi ini.

Sambil membawa tas ranselnya yang berwarna cokelat ia mulai meyusuri jalan beraspal itu dengan penuh percaya diri. Hanya ada kabut tipis yang menemaninya, sehingga ia masih bisa melihat dengan jelas daun-daun False Ashoka yang sesekali bergerak karena tertiup angin. Ia berjalan sebanyak lima puluh langkah sebelum akhirnya berbelok ke sebelah kiri, dan mulai menyusuri jalan setapak yang di kanan-kirinya berjajar green house dengan beragam tanaman di dalamnya.

Jalan setapak itu berkelak-kelok dan berujung dengan bagian jalan yang menurun, lalu membuka kearah padang rumput yang tak terlalu luas. Setelah melewati padang rumput, ada semacam labirin berkanopi yang menjadi penghubung antar bangunan. Alih-alih mengikutinya, Re justru lebih suka memotong dengan tetap berjalan lurus melalui sepanjang sisi gedung sebelum akhirnya jalan yang dilaluinya membuka ke sebuah perempatan.

Jalan di sebelah kirinya menuju ke lapangan terbuka dengan rumput hijau segar yang menutupi permukaannya yang bentuknya bulat. Jalan di sebelah kanannya menuju ke sebuah gedung yang menjadi pusat administrasi. Dan jalan di depannya mengarah ke gedung berlantai dua dengan cat abu-abu gelap. Pintu masuk ke gedung itu terbuat dari kaca yang terbagi menjadi dua bagian, dan keduanya memiliki lebar yang sama, dengan stiker yang identik tertempel pada masing-masing sisinya.

Re berjalan lurus dan memasuki gedung abu-abu itu. Sesampainya di dalam bangunan gedung ia langsung menaiki tangga yang terletak di sebelah kiri. Di atas, ada dua lorong dengan dua pintu yang sama-sama terbuka. Lagi-lagi Re memilih untuk berjalan lurus lalu mengetuk pintu ketiga yang berada di sebelah kiri, di seberang ruang kosong yang tak terpakai.

Terdengar jawaban dari dalam, memintanya untuk masuk. Maka dengan tangan yang sedikit gemetar, Re meraih pegangan pintu lalu membukanya. Hal pertama yang dilihatnya setelah pintu itu terbuka adalah sosok seorang laki-laki. Mengenakan pakaian berwarna putih dengan celana jeans berwarna gelap. Laki-laki itu tampaknya sedang berkutat dengan sesuatu yang ada di dalam laptopnya, tetapi ia memilih untuk menoleh ketika Re membuka pintu. Selama sepersekian detik tatapan mata mereka saling bertemu. Lalu sebagai basa-basi keduanya saling mengangguk. Dan dalam sepersekian detik itulah hati Re justru jatuh. “Kayaknya gue bakal suka sama cowok ini”, ucap Re dalam hati.

***

Belakangan Re tahu jika laki-laki itu bernama Salman. Mahasiswa pasca sarjana dari salah satu universitas terkemuka di Jawa Barat. Lelaki berwajah teduh itu selalu ramah, membuatnya cepat akrab dengan staff lab yang lain, tapi tidak dengan Re. Seminggu telah berlalu sejak kedatangan Re yang pertama kali. Tapi sejauh ini rutinitasnya sepanjang hari hanyalah membaca paper-paper penelitian yang akan diajadikan acuan untuk penelitiannya. Ibu Tara—pembimbing Re—belum mengizinkannya untuk langsung mengerjakan penelitian.

Jadilah ia terkurung di dalam ruangan kerja Ibu Tara seharian, berselancar di dunia maya. Mencari paper-paper yang mungkin akan menunjang atau paling tidak, ada kaitannya dengan penelitiannya. Membaca dan membandingkan metode-metode penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Kegiatan yang Re, lebih suka menyebutnya dengan “studi literatur”. Pekerjaan membosankan yang membuat ngantuk, pikirnya.

Padahal esensi utama dari penelitian adalah studi literatur. Tapi bagi Re kegiatan itu begitu membosankan. Ia lebih suka terjun langsung ke lab dan mengerjakan sampel. Tapi bagaimana mungkin itu bisa dilakukan jika landasan pengetahuan tentang apa yang akan ditelitinya saja Re tidak punya? Maka meski dengan berat hati, Re tetap harus menjalankan kegiatan studi literatur ini dengan sebaik mungkin.

Selama ini ia hanya mendengar tentang Salman dari Anna, Dea dan Gea, teman penelitian Re di lab yang sama. Anna dan Dea memang sudah mulai melakukan penelitian, sementara Gea sama seperti Re, masih disibukkan dengan studi literatur. Mereka bertiga seringkali meributkan tentang kak Salman, membandingkannya dengan salah seorang senior mereka dikampus.

“Menurut gue sih dia itu setipe sama kak Hanif.” Ucap Gea suatu hari. Ia baru saja mengemukakan pendapatnya tentang kemiripan antara kak Salman dengan kak Hanif—seniornya dikampus.

“Iya sih, tapi kalau kak Hanif itu kan kalem banget ya, kalau kak Salman tuh masih ada pecicilannya sedikit.” Kali ini ganti Anna yang menyampaikan opininya.

“Eh gue penasaran deh, dia itu sebenernya udah nikah belum ya?” Dea tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang tak biasa. “Tapi sih kalau dari pembawaanya tuh ke-bapak-an banget. Cocok lah kalau udah punya anak.”

“Kalau menurut gue sih belum. Soalnya dia masih kayak anak kecil gitu.. Beda kali kalau udah nikah mah, harusnya kan udah agak lebih dewasa gitu pembawaannya.” Lagi-lagi Gea menyampaikan pendapatnya.

Dan Re hanya memilih untuk diam dan menjadi pendengar tanpa perlu ikut terlibat dalam percakapan. Selama ini ia selalu merasa familiar setiap kali mendengar nama Salman. Ia merasa sudah pernah mengenal Salman sebelum ini, meski ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

***

“Oh, jadi kakak tinggal di Tangerang juga?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Re pada suatu pagi. Saat kak Salman sedang mengajarinya cara menggunakan timbangan analitik.

“Iya, kamu juga dari Tangerang?” Kali ini kak Salman yang balas bertanya.

“Iya, aku sama Dea juga dari Tangerang loh.” Entah mengapa nada bicara Re terdengar begitu ceria saat mengucapkan kalimat barusan.

Dan setelah itu percakapan tentang Tangerang masih terus berlanjut. Ternyata kak Salman adalah sosok yang begitu ramah, pikir Re. Meski baru saling mengenal, ia sudah merasa tidak canggung lagi untuk mengobrol dengan kak Salman. Apalagi selama ini kak Salman begitu membuka diri. Di saat Re masih malu dan takut untuk membuka percakapan atau sekedar menyapa, kak Salman akan melakukannya lebih dulu.

Meski sangat cerewet, Re memang selalu malu untuk membuka percakapan dengan orang yang baru dikenalnya. Membuatnya cenderung menjadi pendiam setiap kali berada di lingkungan yang baru. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin nyaman ia dengan orang-orang di sekitarnya, sifat cerewetnya akan mulai muncul perlahan-lahan.

***

  • view 157