Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 9 Maret 2016   22:46 WIB
Sandal ke Surga

Saya adalah mahasiswa kependidikan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang. Itu artinya, pada awal tahun ketiga masa pendidikan saya, harus menjalani PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Kebetulan saya mendapatkan tugas di sebuah sekolah di Kendal. Dan alhamdulillah gumong (guru pamong) saya, yang mendampingi dan menilai saya selama PPL juga baik sekali.

Suatu kebahagiaan tersendiri saat mendapatkan jatah gumong yang sepaham dengan kita. Menurut saya, beliau adalah wanita impian. Mengapa? Karena sebagian besar kehidupan beliau adalah apa yang saya idamkan terjadi dalam hidup saya di masa yang akan datang. Beliau adalah seorang istri yang baik, menurut saya. Beliau guru yang tegas, disiplin, seorang ibu dari dua orang laki-laki dengan segala kecerdasannya, seorang istri dari aktifis agama, seorang yang menjalankan usaha sampingan di rumah dengan?ngrumati?para pegawainya dengan penuh kasih sayang, adil, san rendah hati, serta seorang wanita yang berhati lemah lembut. Saya sangat suka saat-saat dimana kami bisa berbincang berdua, saling bercerita tentang apapun. Selalu ada cerita menarik yang bisa saya ambil hikmah dari beliau. Mulai dari usaha yang dijalankan hingga tentang keluarganya.

Pada suatu waktu, kami berkesempatan untuk berbincang. Yaitu saat kami menjalankan tugas piket. Waktu itu, beliau hampir saja meneteskan air mata. Saat beliau bercerita tentang keluarga, tentang suaminya yang hampir setiap hari membuatnya menangis. Ya, menangis karena haru atas perilaku sang suami kepadanya. Cerita tentang suaminya yang mengenakan daster lengkap dengan kerudung saat gumong saya mulai kesal dan jenuh mengurus rumah tangga, saat tiba-tiba suaminya memegang kaca dan mengenakan lipstick di depannya, senantiasa berkata, "Opo sih gunane nesu? Ora ono (Apa sih gunanya marah? Nggak ada)."
"Rak pak ngguyu!?(Nggak mau ketawa!)"
"Sopo sing ngongkon ngguyu??(Siapa yang nyuruh ketawa?)", jawab sang suami sambil melanjutkan riasan wajahnya.
Siapa yang tidak tertawa akan kelucuan itu? Hahaha

Selalu ada rasa kagum memang saat mendengar cerita tentang keluarga beliau. Satu lagi hal yang membuat kami berdua meneteskan air mata pagi itu. Mungkin karena kami adalah wanita. Dan wanita itu perasa. Baper kalau bahasa jaman sekarang. Cerita tentang anak kelas 3 MI (setara dengan SD) di sebuah pondok tahfidz dekat rumahnya.

Waktu itu beliau duduk di ters masjid ketika si anak sedang adzan. Tak berapa lama, Pak Yai pun datang untuk mengimami sholat. Seusai adzan, si anak bergegas turun dan menuju luar masjid hanya untuk membalikkan sandal Pak Yai, anak, dan juga cucunya, kemudian kembali masuk untuk sholat berjama'ah. Beliau yang duduk di teras dan menyaksikan hal tersebut pun sontak meneteskan air mata, kemudian teringat anaknya yang sedang tirakat di sebuah pondok pesantren sebuah kota dengan dua wali di dalamnya.

Entah apa yang ada di pikiran anak tersebut. Entah perilaku siapa yang ditiru olehnya. Hal yang sudah sangat jarang kita temui dalam kehidupan sekarang, yang biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa hormat dan pelayanan pada sesama makhluk Allah. Tak hanya kepada yang lebih tua, seharusnya hal seperti itu dilakukan kepada setiap orang. Lebih luas lagi, setiap makhluk Allah juga berhak mendapatkan perlakuan baik dari kita. Tumbuhan dan hewan pun jika kita perlakukan dengan baik, pasti akan berdampak baik pula pada diri kita.

Sekali lagi, kita harus bisa mengolah ego. Dan bersedia belajar dari siapapun, apapun, kapanpun, dan dimanapun. Selamat menata diri menjadi manusia yang lebih bermanfaat, semoga kita selamat bersama orang-orang yang kita selamatkan.

Karya : ratna aulia