Allah Suka Orang Baik Hati

ratna aulia
Karya ratna aulia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Maret 2016
Allah Suka Orang Baik Hati

"????? ?????? ????????"

Kalimat yang selalu kita sebut di setiap sholat, bahkan tak hanya pada waktu tersebut, namun setiap kita mengawali apapun dengan?al-faatihah, petunjuk jalan yang luruslah yang kita minta.

Dua hari yang lalu saya mengikuti diskusi yang termasuk dalam rangkaian acara selapanan FKMNU (Forum Komunikasi Mahasiswa Nahdhatul Ulama) di kampus saya. Saya sangat tertarik dengan pembicaranya, atau nara sumber diskusi tersebut. Beliau adalah dosen pendidikan luar sekolah, namun juga mengajar pendidikan agama Islam pada mata kuliah umum. Diskusi tersebut bertema "Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita".

Acara diawali dengan pembacaan maulid simtudduror oleh para mahasiswa, lengkap dengan?mahallul qiyamnya dengan diiringi grup rebana. Hal tersebut yang sering membuat saya asyik mengikuti acara-acara keagamaan. Terasa lebih dekat hati kita dengan Rasulullah. Kemudian untuk semakin memperkuat kecintaan kita pada negara ini, juga disisipkan nyanyian Indonesia Raya di dalamnya.

Sebagian rentetan acara selesai, giliran sesi diskusi tiba. Dengan gaya khas beliau, seakan kita menyaksikan?stand up comedy?islami, materi disampaikan dengan begitu menarik. Beliau memang dikenal dekat dengan siapapun. Pakaian sederhana yang dikenakannya, dengan warna putih atau hitam, kendaraan beliau yang kadang nyeleneh, gaya bicara yang ceplas-ceplos, dan pemikiran yang realistis, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengagumnya.

Setelah panjang lebar beliau menjelaskan, tibalah waktu tanya jawab. Seorang mahasiswi mengajukan pertanyaan, "Pak, harusnya kalau berjama'ah kan makmum berada di belakang imam walaupun jaraknya satu jengkal. Lah sekarang ini banyak kita jumpai yang gaya berjama'ahnya sejajar, bahkan harus pepet-pepetan. Misal kita menjadi tamu di sebuah majelis, lalu saya diajak sholat berjama'ah dengan gaya seperti itu, bagaimana?"

Kemudian penanya kedua, "Ngapunten, Pak. Saya cuma mau tanya alamat bapak?ten pundi njeh? Barangkali saya pengen mampir. hehehe".

Untuk pertanyaan pertama, jawaban beliau gampang saja. "Ya sholat saja seperti mereka. Niatnya membuat mereka bahagia. Gusti Allah pasti memaklumi. Belum tentu apa yang mereka lakukan salah. Belum tentu juga yang selama ini kamu lekukan itu benar. Hidup itu penuh misteri. Nyatanya selama ini kamu masih selalu meminta petunjuk jalan yang lurus pada-Nya. Berarti kan kamu nggak tau jalan yang lurus itu yang mana. Jika kamu menganggap mereka salah, tapi ujug-ujug pas di akhirat Gusti Allah bilang kalau semua cara diterima, gimana??Isin tho koe.?Terus masalah pepet-pepetan, alasannya biar setan nggak ikut sholat? Kan ya malah bagus tho?nek?setane mau ikut sholat. Kalau saya sih senang-senang saja. Kalau bisa iblis diajak sekalian. Biar rame. Nggak usah dibuat rumit. Paham?"

"Buat masnya tadi, alamat saya di ....... . Nanti silakan mampir saja. Rumah saya dekat dengan kelurahan. Nggak bagus, tapi sering dikunjungi artis. Dan yang pasti saya lebih terkenal dari lurah di situ. haha"

Beliau menutup diskusi dengan kesimpulan, "Kita itu jangan sok benar.?Wong?tiap sholat kita masih meminta petunjuk jalan yang lurus gitu kok. Kalau kamu merasa sudah tau jalan yang benar, berarti kamu berani mengurangi satu ayat dalam surat?al-faatihah.?Menghormati satu sama lain kan malah enak tho. Karena sebaik-baik manusia itu yang siap melayani orang lain. Bukan yang minta dilayani."

Dosen yang hampir enam tahun ini menghindari acara-acara Tv kecuali sepeak bola dan tinju, memang selalu menjadi favorit saya. Semoga beliau selalu dilimpahi kesehatan oleh Allah.

"Maafkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut saya, bukan karena saya membenci kalian, tapi itulah wujud kemesraan dari saya. Wassalamu'alaikum..."

Sebenarnya masih banyak sekali pelajaran yang disampaikan oleh beliau. Sayangnya saya belum pandai merangkai kata menjadi cerita yang runtut dan menarik. hehe

Secara logika, manusia berhak melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Tapi bukankah lebih indah jika kita berusaha memenuhi kehendak orang lain terlebih dahulu, baru memikirkan diri sendiri? Karena kebahagiaan orang lain, itulah yang terpenting. Melakukan segala sesuatu dengan hati, dan berusaha mengabdi pada siapapun.

Selamat menata diri menjadi manusia yang lebih bermanfaat, semoga kita selamat bersama orang-orang yang kita selamatkan.

  • view 130