Mata Ikan, Persalinan, dan Akhirat

ratna aulia
Karya ratna aulia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Februari 2016
Mata Ikan, Persalinan, dan Akhirat

"Sepertinya saya tak sekuat apa yang saya pikirkan."

Mengaoa saya berkata demikian?

?

Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya menjalani operasi kecil di bagian telapak kaki. Sepertinya ada mata ikan di daerah tersebut dan harus diambil. Sebelumnya, saya tidak merasa takut sama sekali. "Ah cuma operasi kecil." Dan saya menganggapnya remeh. Karena menurut teman-teman, operasi untuk penyakit semacam itu tidaklah rumit, Bahkan ada juga yang memberanikan diri untuk menggunting sendiri mata ikan tersebut. Jadi saya ayem-ayem saja waktu mau operasi

Tapi semua keteguhan hati, keberanian diri, kekokohan iman, seketika ambyar saat seorang?Mas-Mas?dari dalam bilik yang bertuliskan "POLI BEDAH" menjerit kesakitan.
"Aaaa...."
Jeritan itu tak hanya terdengar satu kali. Tak kuat jari-jariku menyangga telepon genggam yang telah lama saya mainkan. Sesakit itukah?

Ketakutan saya semakin menjadi ketika lelaki itu keluar dari ruangan dengan tubuh lemas. Masih bisa jalan memang, tapi mukanya itu lho, pucat. Sampai harus dibaringkan di ruang sebelah. Masa lelaki kaya gitu?
Kami seisi ruangan fokus memandang lelaki tersebut sambil tertawa. hahaha

Tapi kemudian saya berpikir, lelaki yang biasa dikenal kuat saja seperti itu, apalagi saya nanti. Waah semakin deg-degan diriku.

Selang satu pasien setelah lelaki lucu itu, nama saya dipanggil. Dokter menanyakan keluhan; "Mata ikan, dok."
Lalu langsung saja tubuhku disuruh tengkurap. Mulailah air mataku berlinang. Walaupun si dokter berusaha untuk mengajakku mengobrol, mungkin biar saya nggak takut, tetap saja air mataku mengalir. Apalagi saat jarum demi jarum menancap di kakiku untuk dimasukkan obat bius. Banjir seketika pipiku.

Ternyata, saya tak setangguh yang saya pikirkan. hahaha

Operasi selesai. Dokter dan perawat mengejekku gara-gara menangis. Kemudian saya, ibu, dan adikku menuju apotek. Sebenarnya, yang sedari tadi merasakan ketakutan adalah ibuku. Kata adikku,"Si mbak yang mau operasi kok malah ibu yang deg-degan." Ibu juga tak mau berada di ruangan saat aku menjerit kesakitan. Mungkin beliau tak ingin melihat wajahku yang penuh dengan air mata, dan memilih untuk berdoa sekuat hati di luar sana.

Lalu beliau berkata,"Baru segitu aja nangis. Apalagi nanti kalau melahirkan."

Jleb jleb jleb!

Terima kasih Allah, karena Kau hadirkan manusia untuk meracik obat bius sedemikian rupa agar operasiku tak terlalu mengerikan. Tapi, apa di akhirat nanti ada yang serupa?

?

  • view 169