Teman Menuju Surga

ratna aulia
Karya ratna aulia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Teman Menuju Surga

Semenjak saya tinggal di pesantren, banyak hal yang berubah dari hidup dan diri saya. Beragam aktifitas baru saya lakukan. Satu hal yang identik dengan seorang santri, yaitu ngaji. Apa sih itu ngaji?

Ada yang bilang bahwa ngaji itu "ngatur jiwo" atau "ngasah jiwo". Sering orang menganggap bahwa ngaji itu belajar kitab, membaca Al-Qur'an, dan kegiatan-kegiatan lain yang berbau agama. Padahal menurut saya, ngaji itu tak melulu berhubungan dengan kitab atau sejenisnya. Karena sejatinya ngaji itu belajar dari setiap apa yang ada di dunia ini. Karena di setiap apa yang kita lewati hari itu, pasti ada pelajaran yang dapat kita ambil. Asal kita selalu berpikir terbuka. Entah dari perkataan orang-orang yang selalu dipuja karena kebijaksanaannya, atau dari orang-orang yang biasa dicaci karena perilakunya yang kurang sejalan dengan yang lain, bahkan dari apa yang kita lakukan sendiri pun pasti ada yang dapat kita ambil sebagai pelajaran.

Pengasuh pesantren, biasa kami panggil "Ayah", selalu mengajarkan bagaimana cara menata hati. Tiap Senin malam, kami melakukan?mujahadah nariyah. Kegiatan yang diwajibkan untuk seluruh santri. Salah satu manfaatnya yaitu untuk membentengi diri kita dari masalah-masalah yang akan kita hadapi. Agar hati kita selalu kuat. Selain itu, dari buku-buku yang saya lihat di?ndalem beliau, kebanyakan tentang tasawuf. Dan sejak saat itu saya tertarik dengan bahasan tersebut. Karena menurut saya, menelisik hati seorang manusia itu asik.

Saya mulai mencoba untuk membaca buku tentang tasawuf tersebut, hingga akhirnya ketagihan sampai sekarang. Saya banyak belajar dari beliau. Beliau pernah?ngendikan?(berkata) bahwa kita memang harus menghancurkan hati kita terlebih dahulu agar nantinya bisa terbuka dan menjadi manusia yang hebat. Dari semua ini, saya belajar bahwa ikhlas dan sabar memang menjadi kunci utama dalam menjalani hidup.

Di luar sana banyak sekali manusia-manusia yang tak mau mengalah, terlalu memaksakan kehendak dirinya, dan semua tentang keegoisan. Bagaimana bisa menjemput kebahagiaan kalau tak menanamkan kesabaran dan keikhlasan dalam hati? Sedangkan di luar sana banyak sekali orang yang tak mempedulikan senyummu. Tak pernah memikirkan kepentinganmu.

Akhirnya, saya merasakan sebuah perubahan yang sangat besar. Dan saya bahagia karenanya. Di tempat tersebut, saya bisa menemukan teman-teman yang selalu mengajak bersholawat, berdiskusi mengenai agama, dan mengajarkan bagaimana cara mencintai Allah, rasul, juga makhluk-Nya.

Berpikir bahwa diri kita telah menjadi manusia yang baik pun sebenarnya tidak terlalu sejalan dengan pikiran saya. Tapi tak lantas saya menganggap bahwa diri ini bodoh, karena saya bersyukur telah dikaruniai oleh-Nya akal untuk senantiasa berpikir. Kata Ayah, "Jangan rendahkan dirimu saat berdoa. Karena sama saja kamu merendahkan Tuhanmu, dan tidak bersyukur atas apa yang dikaruniakan padamu. Tapi rendahkanlah dirimu saat beristighfar. Saat memohon ampun kepada-Nya. Karena memang dirimu manusia yang banyak dosa."

Melihat perubahan lingkungan saya, jadi teringat kata Kurniawan Gunadi, "Tujuan yang sama, akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan."

Anda percaya?

Saya iya. Sudah terbukti, banyak teman baru yang saya kenal karena pemikiran atau tujuan mereka yang sama dengan pemikiran atau tujuan saya sekarang. Dan tentunya, mereka memberikan dampak yang sangat positif kepada saya.

Pada akhirnya saya berpikir, bahwa?teman-teman yang tepat akan mempercepat jalan kita menuju Tuhan~