Siswi Abal-Abal Hingga Mahasiswi Pesantren

ratna aulia
Karya ratna aulia Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Siswi Abal-Abal Hingga Mahasiswi Pesantren

Sejak dulu, saya mempunyai pemikiran bahwa jika kita ingin berubah, jalan termudahnya yaitu dengan berpindah lingkungan atau tempat tinggal. Saya pun tak pernah meragukan pemikiran tersebut. Karena apa? Semua sudah terbukti. Mulai dari saya dilahirkan sampai sekarang sudah banyak sekali perubahan yang saya alami. Saat saya tinggal di lingkungan?perkotaan dg penduduk yang tak terlalu mengurus kehidupan orang lain, dg bahasa Jawa krama yang masih kental di keluarga saya, kemudian pindah ke?sebuah desa yang lingkungannya berbeda dengan tempat tinggal saya sebelumnya, lama kelamaan bahasa krama saya pun mulai luntur. Main ke sana kemari hingga tak terkontrol.

Sampai saat sekolah di MAN (setingkat SMA) pun saya masih jarang menggunakan penutup kepala yang sering disebut jilbab. Mengapa? Mungkin karena teman-teman saya pun manusia yang setipe. Punya pacar juga anak band. Menemani latihan ke studio, nongkrong di rumah temannya, dan lain-lain. Tak pakai jilbab tak masalah baginya. Karena yang ada di pikiran saya saat itu mungkin hanya kesenangan. Tapi menurut saya itu wajar-wajar saja. Usia anak SMA memang sedang labil-labilnya. Bertentangan dg pendapat orang tua juga menjadi bumbu dalam kehidupan saya saat itu. Sering bertengkar dg ibu dan akhirnya tak betah di rumah.

Hampir setiap hari saya pulang bersama senja. Ke mana saja?

Selain ekstrakurikuler, saya hobi main. Ya, berdiam, mengobrol, dan lain-lain di rumah teman hingga senja menjemput. Dimarahi orang tua karena telat pulang? Sudah biasa. Masuk kamar, lalu kunci pintu.

Namun sepertinya orang tua saya patut berterima kasih kepada seseorang yang sedikit demi sedikit bisa mengubah diri saya menjadi lebih baik. Jadi sering sholat dhuha, tak melupakan jilbab saat bepergian, dan perubahan perilaku ke arah yg lebih baik.

Siapa dia?

Seorang laki-laki yang pernah menduduki peringkat dua paralel sekolah, hingga dijuluki "manusia langka" oleh bapak kepala, karena hanya dia laki-laki yang berada di deretan manusia cerdas di sekolah. Dia juga dipandang 'alim' ole para guru dan siswa di sekolah. Tiap jam istirahat pertama, waktunya digunakan untuk sholat dhuha. Istirahat kedua untuk sholat dhuhur berjama'ah. Peci yang selalu bertengger di kepalanya juga menjadi ciri khasnya. Julukan yang disandangnya, "Pak Haji", karena dia sudah menjalankan umroh dua kali pun membuat kagum seisi sekola. Lumayan ganteng dan berasal dari keluarga yang mampu. Siapa yang nggak mau dijadikan pasangannya?

Seterkenal itu dia di sekolah, membuat saya juga ikut-ikutan terkenal karena keanehannya. Mengapa aneh? Ya anehlah, orang seperti dia bisa-bisanya memilih saya sebagai pasangannya.

Tapi usia hubungan kami tak terlalu panjang. Setelah mengalami pasang surut percintaan, akhirnya kami dipisahkan oleh jarak saat kami mulai kuliah. Dia di Jogja dan saya di Semarang. Dia mengakhiri hubungan kami gara-gara saya terlalu sibuk, katanya. Tapi kehilangan orang semenakjubkan dia tak lantas membuat saya frustasi dan melakukan hal konyol seperti yang sering orang -yang gila karena cinta- lakukan. Anak pondok pesantren nggak boleh galau gara-gara lawan jenis kali. haha

Ya, awal masuk kuliah saya langsung masuk pesantren. Ceritanya ingin tobat. Teman-teman juga nggak percaya kalau saya bakal betah di pesantren. Apalagi dengan konsentrasi yang saya ambil di kampus, Pendidikan Bahasa Arab. Benar-benar mereka tak pernah mempercayai itu. Tapi, inilah awal perubahan sesungguhnya.

***

Lingkungan yang sangat berbeda, pola pemikiran mereka, cara berpakaian, tingkah laku, dan semuanya. Mulai belajar hidup dengan banyak orang, berpikir sesuai dengan pemikiran mahasiswa, menghindari memakai jeans, berperilaku sopan, tawadhu' kepada yang lebih tua, belajar kitab kuning, mendalami ilmu agama, menaati peraturan pondok, takziran-takziran, semuanya semula tak pernah terasa nyaman dalam kehidupan saya. Hidup macam apa itu?! Saya yang menjalani hidup, mereka yang repot.

Tapi benar, semua butuh proses. Ingin menjadi baik pun butuh proses. Yang awalnya saya keluar masuk pondok tanpa ijin, ghibahin pengasuh, bolos ngaji, sampai akhirnya sedikit ?demi sedikit hati saya terbuka. Entah karena orang tua saya yang selalu mendoakan anaknya agar berubah ke arah yang lebih baik, atau mendapat ilham dari mana, saya tak tahu.

Pastinya, hidup di pondok pesantren, di balik semua aturan-aturannya, ada banyak kenikmatan yang wajib kita rasakan. Mungkin ini sepercik kenikmatan yang bocor dari surga. haha

  • view 224