Catatan Hati Pasca Daurah

Ratna Setianingsih
Karya Ratna Setianingsih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2016
Catatan Hati Pasca Daurah

Catatan Hati Pasca Dauroh

 

Kata-kata dauroh terasa asing ditelinga saya, wajarlah karena saya belum pernah mengikuti kegiatan semacam ini, dan didalam bayangan saya dauroh ini semacam kegiatan penggemblengan untuk para santri yang akan sedikit menyeramkan karena persiapan untuk terjun ke masyarakat sebagai da’i dan da’iyah yang tangguh menghadapi persolan umat.

Hari dauroh yang ditunggu-tunggupun telah tiba, setelah sebelumnya kelas saya (dirosah selasa, rabu dan jum’at) mengadakan syuro untuk jam keberangkatan dan kendaraan menuju TKP yaitu di pesantren BIK Tegal Waru Bogor. Setelah perdebatan yang lumayan panjang, akhirnya diputuskanlah kami janjian di terminal rawamangun pukul 07.30 pada hari jum’at tanggal 17 Juni 2016 dengan koordinator Mas Yunus Mulyadi. Tetapi tiba-tiba keesokan harinya, mas Yunus tiba-tiba melanggar perjanjian karena diminta membawa mobil bersama ustadz.Yah apalah daya, saya bersama mak risti akhirnya melakukan voting ulang. Dan karena kami akhwat tangguh, akhirnya saya, mak risti, ulya dan mba apri tetap pada perjanjian awal berangkat menggunakan aptb hanya saja tempat janjiannya yang berbeda, dan rencananya saya bersama ulya dan mba apri janjian di shelter busway TU Gas, turun di shelter UNJ dan dari sana naik APTB dan menjemput mak risti.

Dan rencana tinggallah rencana, baru awal keberangkatan, rasa-rasanya saya mengalami ujian yang sangaaaaat berat, ujian kesabaran dan keikhlasan menuju kebaikan. Setelah kami (saya, ulya dan mba apri) sampai di shelter busway UNJ, kamipun bertanya pada mas-mas transjakarta,

Saya : ”Mas kalo APTB masi lewat jalus busway ga mas?” (karena menurut penuturan mak risti      APTB masi terintegrasi  ke jalur busway dengan biaya 3500).

Mas TJ : “sudah gak mba per tgl 1 juni kemarin, kalo mba mau naik harus dari luar”.

Saya : “(ekspresi kaget)”, tapi nasi sudah menjadi bubur, jadi apalah daya.

Akhirnya saya menelfon mak risti, setelah berdiskusi lumayan lama, mak risti menyarankan kami ke shelter utan kayu, dan di sela-sela diskusi ternyata terjadi miscom kembali. Kamipun meneruskan perjalanan kami menggunakan TJ menuju shelter utan kayu, ada kejadian yang lumyan menegangkan ketika di TJ, ketika kami sedang pada bengong tiba-tiba ada ibu-ibu pingsan di dalam TJ, seketika suasana menjadi sedikit panik, untung ulya sedia air di dalam tas nya (padahal kita sedang berpuasa) dan saya bawa sedikit cemilan (untuk persiapan dauroh). Setelah kejadian itu, akhirnya bus kami sampai di shelter utan kayu, kami ber tiga pun turun, dan ternyata setelah sampai disana, kami tidak menemukan mak risti, dengan sigap saya meyuruh ulya untuk menelfon mak risti karena kebetulan pulsa saya habis (hehehe). Setelah menelfon, kami sadar ternyata kita salah, yang dimaksud mak risti adalah shelter utan kayu rawamangun bukan shelter utan kayu.Kami bertiga diam tanpa kata mengetahui hal tersebut, dengan rasa sabar yang sangat besar kami akhirnya melanjutkan perjalanan kembali, kami harus transit di shelter LIA BPKP dan menyebrang jembatan yang panjangnya subhanallah sekali.Sepanjang kami berjalan dijembatan saya dan ulya mengutuk ngutuk mak risti dan dia harus bertanggung jawab atas semua ini. Kamipun sampai diutan kayu dengan sangat kelelahan, dan begitu bertemu mak risti, bukannya dia merasa bersalah, dia malah dengan merasa tidak bersalah mentertawakan muka kami yang entahlah sudah seperti apa waktu itu (kusut, kucel, dll). Itulah pelajaran pertama yang saya dapat, jalan menuju kebaikan pastilah tidak akan gampang, selalu ada rintangan dan hambatan untuk menguji seberapa  niatkah kita dalam berhijrah.

Singkat cerita akhirnya kamipun sampai di Pesantren BIK Tegal Waru Bogor, dan pelajaran ke dua pun saya dapatkan.Niat awal berangkat lebih pagi ke Bogor adalah untuk bersantai dan tilawah Qur’an, tapi ternyata sesampainya disana dan masuk ke dalam rumah, masyaAllah saya tidak bisa mendeskripsikan keadaan rumah itu (sedikit lebay si) hehe. Lantai rumah yang kotor, lengket, cucian piring dimana-mana dan lucunya lagi salah satu staf BIK (yang tidak bisa saya sebut namanya) mengatakan bahwa keadaan dalam kulkas di rumah tersebut, sangat-sangatlah kotor dan jika “mas X” ini membayangkan kembali ketika membersihkannya, dia tidak bernafsu makan, entahlah saya juga tidak ingin membayangkan. Akhirnya “the wonder santriwati” (saya, ulya, mak risti dan mba apri) seketika membagi tugas dan bekerja sama membersihkan dan memperindah dalam rumah pesantren tercinta kita ini. Saya dan mba apri bertugas menyapu dan mengepel, mak risti dan ulya mencuci piring.Setelah kami berjibaku dengan semua pekerjaan rumah tangga tersebut kami diberi mandat untuk memesan makanan berbuka dan saur serta berbelanja kebutuhan membuat ta’jil.Kami bertiga pun bersama Mas Yunus pergi berbelanja ke pasar. Yang sangat memprihatinkan adalah ketika kami akan memesan makanan di sebuah warteg, terlihat dari depan warteg itu seperti tutup dan sepi, tapi ketika saya dan mak risti masuk ke dalam, astaghfirullah banyak sekali pengunjung laki-laki yang sedang makan. Dan benar saja perintah puasa ini hanya untuk orang-orang beriman sebagaimana firman Allah pada Al-Baqarah ayat 183, Allah dengan penuh kasih sayang hanya memanggil hambaNya yang beriman untuk melaksanakan perintah puasa ramadhan yang hanya berlangsung 1 bulan dalam setahun ini dan pahala puasa ini benar-benar Allah langsunglah yang akan menilai.

Belanja pun usai, kamipun kembali ke pesantren dan bersiap-siap membuat beraneka ta’jil untuk hari jum’at dan sabtu. Kami membuat jelly beraneka rasa, kolak, sop buah, sayur bunga pepaya (hasil metik depan pesantren). Kami berbagi tugas dan bekerja sama dengan baik dan Alhamdulillah dibantu santriwati lain yang sudah datang. Dikomandoi oleh mak risti akhirnya semua masakan selesai tepat waktu sebelum berbuka tiba. Pelajaran ke dua pun saya dapat tentang kerja sama, gotong royong, bekerja secara ikhlas, menahan egoisme, dan ukhuwah islamiyah yang sangat terasa.

Waktu berbukapun telah tiba, Alhamdulillah rasa lelah perjalanan, membereskan pesantren, dan memasak terbayarkan ketika sirup susu strawberry membasahi tenggorokan. Dan pelajaran ketiga pun saya dapat ketika materi sesi pertama yang dibawakan ustadz Agus dimulai.Tentang kinerja otak manusia yaitu pikiran sadar (consius) dan pikiran bawah sadar (subconsius).Tetapi sebelum materi dimulai ustadz agus meminta semua santri untuk menggambarkan impian dan cita-cita kita selama 20 tahun kedepan dengan periode per 5 tahun. Ketika menggambarkan impian tersebut, saya berfikir agak keras dan bertanya dalam diri sebenernya impian dan cita-cita apa yang ingin saya capai, akhirnya setelah berfikir saya menggambarkan impian dan cita-cita yang benar-benar saya inginkan (yang tidak bisa saya tuliskan disini karena malu hehehe). Disini saya sadar, bahwa manusia harus memiliki tujuan serta cita-cita dalam hidupnya, agar hidup ini menjadi berguna, tidak hanya sebatas hidup, bekerja, menikah, punya anak lalu mati.Karena Allahpun telah berfiman bahwa Dia tidak menciptakan Jin dan Manusia selain untuk beribadah padaNya.Jadikanlah ibadah kita sebagai alasan dan sebab Allah memeberikan rahmat serta kasih sayangNya pada kita selaku hambaNya.Jadikanlah cita-cita dan impian kita menjadi cita-cita dan impian yang bermanfaat untuk manusia lainnya, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya.

Setelah kami menggambarkan impian dan cita-cita kami, ustadz aguspun memberikan tips-tips agar impian kami bisa tercapai, bahwa kami harus mengulang-ngulang impian kami dan memasukkan ke sub consius kami, kitapun bisa memasukkan hal-hal positif kebagian sub consius dan mendeleting memori buruk pada sub consius kita. Karena bagian sub consius memiliki peranan besar pada karakter dan watak kita pada nantinya.

Sesi pertamapun selesai, kami sholat isya dan taraweh berjamaah lalu kembali ke dalam pesantren khusus area akhwat. Didalam rumah (pesantren) saya berinisiatif membuat mie rebus telor dan mengajak makan bersama mak risti, karena saya melihat mie dan telur nganggur, setelah mie pun jadi dan siap disantap, tiba-tiba staf BIK masuk untuk menuangkan air gallon dan mengatakan sesuatu yang membuat saya dan mak risti terdiam, kata beliau “itu mie rebus punya tukang ya” , alamak ini mie ternyata punya tukang dan bukan punya pesantren, dan secara pede nya tanpa izin saya memasaknya, tapi apalah daya mie telor sudah jadi dan memanggil-manggil untuk dimakan (sebenarnya karena lapar juga hehehe), akhirnya mie tersebut tetap kita makan dan keesokannya kami akan mengganti mie tukang tersebut. Jadi pelajaran berharga dari merebus mie ini adalah, telusurilah sumber makanan yang akan kamu makan apakah halal dan thoyib untuk dimakan atau tidak, karena kehalalan dan kethoyiban suatu makanan akan mempengaruhi perangai dan sifat kita pada nantinya.

Malam kian larut, santriwatipun sudah terlelap dalam mimpinya.Dan pelajaran berikutnya segera saya dapatkan. Pukul 03.00 saya terbangun karena suara alarm hp dan karena sudah waktu sahur, saya bangun dan segera mengambil air wudhu untuk sholat tahajud, entah masih setengah sadar atau apa sayapun sholat dengan kiblat yang saya yakini benar, dan ketika masuk rakaat ke dua, teman-teman berbisik sepertinya saya sholat menghadap kiblat yang salah, dan setelah kesadaran saya yang mungkin sudah penuh kembali ketika sholat saya berfikir dan astaghfirullah benar saja saya salah kiblat, kiblat yang seharusnya saya belakangi. Ya Allah ampuni hambamu ini (emot sedih).Akhirnya saya batalkan sholat saya dan sambil cengar-cengir untuk menghilangkan rasa malu pada teman-teman saya berkilah kalo saya lupa dan mungkin masi setengah sadar karena mengantuk.Jadi untuk teman-temanku setelah bangun tidur lebih baik duduk sejenak, kumpulkan nyawa barulah setelah terkumpul, ambil air wudhu lalu sholat agar nantinya tidak salah kiblat.Kejadian memalukan itupun terlewati, dan kamipun makan sahur, agar tidak mubazir kami makan nasi secara bersama-sama, 1 bungkus nasi berdua atau bertiga. Disini ukhuwah islamiyah kami sangat terasa dan kemubaziranpun bisa kami hindari, Alhamdulillah J.

Sinar mentari pagi ini enggan muncul karena tetesan air hujan masih setia turun membasahi tanah, dari pengumuman bada’ sholat subuh berjama’ah bahwa sesi ke 2 akan dimulai pukul 07.00 pagi waktu setempat. Dan pelajaran berikutnya pun segera saya dapatkan. Pada sesi ke dua ini akan dibahas hasil personality test yang dilakukan pada sesi pertama, ustadz agus mengelompokkan santri dan santriwati berdasarkan hasil personality testnya, ada kelompok sensing, thinking, intuiting, feeling dan insting. Dari ke 5 kategori tersebut disebutkan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saya mendapatkan kategori intuiting, ulya dan mak risti kategori thinking. Sepanjang sesi tersebut berlangsung, entah kenapa kami bertiga dan ustadz feeling (yang tidak bisa saya sebut namanya), selalu heboh dan saling melempar ledekan ketika kategori kami dipaparkan kelemahan dan kelebihannya. Dari sesi  ini saya belajar bahwa sangat penting mengenali sifat dan karakter diri sendiri karena barangsiapa mengenal siapa dirinya maka ia akan mengenal siapa Tuhannya. Menyadari  kelebihan dan kekurangan diri pun sangat penting, agar nantinya kelebihan bisa kita syukuri dan kekurangan kita perbaiki agar tidak merugikan orang lain.

Sesi ke dua pun berakhir pukul 09.30 dan saatnya saya harus pulang, berat rasanya tidak mengikuti kegiatan dauroh ini sampai selesai, karena saya yakin masih banyak lagi pelajaran yang akan saya dapatkan nantinya. Tapi UAS kuliah saya sudah menunggu, jadi apa boleh buat. Dan yang terakhir,ketika dalam perjalanan pulang saya sangat beruntung karena banyak mendapatkan banyak nasihat dari seorang guru yang baik hatinya, yang sabar menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan, terimakasih saya ucapkan kepada beliau yang lagi-lagi tidak bisa saya sebutkan namanya.

Inilah curahan hati pasca dauroh, semoga tulisan ini bermanfaat, dan saya ucapkan jazakumullahu khoiron katsiron kepada semua ustadz BIK, staf BIK dan teman-teman seperjuangan semoga kita semua selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT, aamiin....

  • view 167