Elegi Perempuan Malam

Rasull Abidin
Karya Rasull Abidin Kategori Project
dipublikasikan 17 Desember 2017
Antologi12

Antologi12


Catatan kembang sepatu

Kategori Puisi

508 Hak Cipta Terlindungi
Elegi Perempuan Malam

Hampir sekian puluh tahun berlalu...

Dan sekian generasi berganti,

Engkau duduk di sini, dengan meja yang sama 

Menghabiskan malam dan remang gelap pinggiran jalan.

Deodorant yang kau semprotkan dan gincu merah menyala,

Sekedarnya...

Menjelaskan sisa kecantikanmu disudut keriput usia

Yang makin ke ujung dunia,

Engkau sulut gulungan rokok kretek...

Aku hafal aromanya, yang telah mengetarkan nama bangsa

Hingga  jauh ke belahan dunia...

 

Menemanimu dalam kegelisahan 

Dengan jemari yang sedikit gemetar..

Aku pandang senyum kegetiran, karena dunia porakporanda

Di genggamanmu kau simpan barisan ombak patah hati

 

Di rel kereta yang kadang melintas...

Hirup pikuk kumbang hinggap, adakalanya terbang...

Menikmati bunga segar yang baru bermekaran

 

Kumbang kumbang muda yang kau pandang...

Melambungkan mendung birahi yang binal, 

sudah kesekian kalinya

Penawaranmu jadikan seonggok madu kenikmatan,

Tapi...,

Kumbang kumbang hanya  memandang.

Bukan...bukan..

Biarlah engkau lumat dalam kerongkongan 

Tidak sekali kau hadapi senja menjadi gulita

Tidak selembar asa yang engkau paksa menjadi segenggam riang,

Kini waktu yang panjang telah sampai di persimpangan

Sungguh gemintang menjadi bosan menunggumu di gelap malam

 

Bulan sabit di atas kepala mulai condong...

Sudah sekian kisah tanpa episode menjadi essay malam ini

Masuk semua ke dalam telingaku 

bahkan tarikan nafasnya jelas 

Tak mungkin aku lupakan begitu saja,

Nikmat kopi hitam yang kau reguk tinggal ampas,

menemani  kita duduk di sini...

 

Sekali lagi aku gambar bias wajahmu di antara temaram lampu

Asap rokok yang kau hempaskan memaksa kabut berlari

Sebentar lagi hari berganti...

Namun sekian kumbang enggan memandang, lantaran bunga sedap malam yang masih kuncup mulai bermekaran

Tentulah dengan janji kenikmatan yang luar biasa...

Dan memaksa engkau bertekuk lutut tak berdaya

Karena pesona malammu kian memudar

Akhirnya sirna di renggut gelap gulita.

  • view 126