Beautiful Sin

Ranika Ruslima
Karya Ranika Ruslima Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Januari 2017
Beautiful Sin

SAAT ini Alea dan sahabatnya, Calista sedang duduk di halte sekolah menunggu jemputan mereka masing-masing. Selang waktu beberapa menit, Calista sudah dijemput oleh Andre, pacarnya yang merupakan salah satu teman seangkatan Garda.

"Mau bareng nggak?" Calista bertanya setelah melihat Andre membawa mobil untuk menjemputnya. Kali-kali saja Garda memang tidak bisa menjemput Alea karena pacar sahabatnya itu lebih mementingkan bimbel daripada dirinya. Calista tahu itu.

"Nggak usah, Cal. Aku nunggu Kak Garda aja," jawab Alea.

Calista terlihat berpikir sejenak lalu berkata, "Yaudah. Tapi kalo ada apa-apa bbm atau line ya."

Alea mengangguk kemudian Calista tersenyum, "Yaudah aku duluan ya, Le."

Alea mengangguk sekali lagi. Dilihatnya Calista yang sudah memasuki mobil. Di balik kaca mobil, Alea tahu bahwa Calista sedang melambaikan tangannya. Alea pun ikut melambai.

Sudah dua jam lebih Alea duduk di halte sekolah, menunggu seseorang 'tuk menjemputnya. Alea mulai terlihat gelisah.

"Kak Garda mana sih? Mana udah sore banget lagi," rutuk Alea sembari melihat sekelilingnya.

Suasana disekitarnya sudah sepi membuat Alea mendadak merinding. Dipeluknya tubuh rampingnya sambil menggosok lengan atasnya. Entah kenapa berita-berita tentang pemerkosaan, begal dan antek-anteknya terlintas dipikirannya.

"Ya Allah, Kak Garda mana sih!?"

Dering SMS membuyarkan pikiran Alea. Buru-buru ia mengambil ponsel yang terletak di dalam tasnya. Tertera SMS dengan nama Garda menghiasi.

Sori sayang, aku kyknya gbs jmput kmu. Aku msh bimbel. Plg naik gojek aja, gapapa ya?

Sejak Garda memasuki kelas 12 dan Alea memasuki kelas 11, mereka jadi tidak sering bersama lagi karena Garda sibuk dengan bimbelnya dan Alea pun sibuk dengan tugasnya. Alea terlihat berpikir sejenak lalu ia menjentikkan jarinya.

"Aku susul aja deh," ucap Alea bangkit dari duduknya sembari tersenyum simpul.

***

JEZ!

Rencana Alea yang ingin memberikan es krim vanilla kepada Garda musnah sudah. Rencananya Alea ingin memberikan es krim yang berada ditangannya ini ke Garda mengingat cowok itu sangat menyukai es krim. Apalagi setelah lelah berpikir, es krim adalah pilihan yang tepat untuk mendinginkan pikiran. Tetapi faktanya saat ini, dihadapannya tersaji pemandangan yang amat menyesakkan dada.

Garda memeluk dan mencumbui wanita lain yang berarti; Garda mengkhianatinya.

Es krim yang berada ditangan Alea jatuh dengan sendirinya. Dilihatnya Garda tampak menikmati ciuman yang berada tepat di bibir wanita itu. Wanita itu tampak mabuk dan dengan nafsunya membalas ciuman Garda dengan ganas.

Tubuh Alea mematung melihat kejadian yang terjadi tepat dihadapannya. Didalam hatinya bertanya-tanya, apakah ia tak cukup bagi Garda? Mereka tidak pernah bertengkar hingga berkeinginan untuk selingkuh atau putus saja. Hubungannya terlihat baik-baik saja.

Itu artinya...

Garda memang berniat untuk selingkuh darinya. Buru-buru Alea pergi meninggalkan tempat itu. Alea benar-benar menyesali perbuatannya untuk menyusuli Garda. Tetapi, kalau ia tidak menyusuli Garda, ia tidak akan tahu fakta yang barusan terjadi.

"Harusnya aku dengerin Calista. Harusnya aku percaya sama dia kalo Garda itu bajingan. Sial!" Alea berjalan cepat lalu menendang kaleng yang ada dikakinya.

Alea pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Ia merasa dialah orang terbodoh yang pernah ada di dunia.

Kenapa aku harus termakan dengan omongan manisnya? BRENGSEK!

Alea melempar bantal yang tadinya ia peluk. Menurutnya, Garda adalah lelaki paling brengsek yang pernah ia kenal.

Dering telepon dari ponsel Alea membuyarkan kejadian menyakitkan yang beberapa menit tadi terjadi. Tertera nama Calista menghiasi layarnya. Buru-buru Alea mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Le... kamu udah pulang, kan?" tanya Calista diseberang sana.

Alea hanya terdiam lalu tidak berapa lama kemudian ia terisak. Alea memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Calista.

"Le, kamu kenapa?" tanya Calista dengan sirat nada kecemasan.

"Kak Garda, Cal. Dia ...," ucap Alea sambil terisak.

"Dia kenapa, Le? Aku ke rumah kamu sekarang, ya."

"Nggak u ..." Baru saja Alea ingin menjawab tetapi sambungan telepon sudah terputus. Alea pun memandang ponselnya pasrah.

Selang beberapa menit, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Le, buka! Ini aku. Calista."

Sudah Alea duga bahwa Calista pasti akan datang. Dengan cepat Alea membuka pintu kamarnya.

"Lea ..." Calista memeluk Alea setelah pintu tersebut dibuka. "kamu nggak pa-pa kan? Aku khawatir banget sama kamu," ucap Calista lirih.

Alea hanya diam lalu dengan gerakan tubuhnya, ia menyuruh Calista masuk ke dalam kamarnya. Calista masuk dan duduk ditepi kasur king size milik Alea.

"Kamu nggak ada masalah kan sama Garda?" tanya Calista langsung ke topik pembicaraan.

"Aku mau putus sama dia."

"APA!?" teriak Calista.

"Cal, nggak usah teriak. Aku belum budek!" sahut Alea kesal.

"Kenapa?" Calista mengabaikan perkataan Alea. Ia penasaran dengan alasan Alea ingin putus dengan pacarnya, Garda. Secara selama berpacaran, hubungan mereka terlihat baik-baik saja.

"Dia selingkuh," ucap Alea singkat.

"APA!?" teriak Calista lagi.

"Cal, jangan teriak-teriak napa!?"

Calista tertawa. "Ups, sori Le. Lagian aku udah bilang kan dari dulu. Kamu sih nggak percaya sama aku ..." ucap Calista.

"Maafin aku ...," ujar Alea menyesal dengan dibalas senyuman oleh Calista. Akhirnya, sahabatnya sadar bahwa pacarnya bukanlah orang yang baik.

"Duh, ponselku mana ya?" tanya Alea tiba-tiba teringat akan ponselnya.

"Mau ngapain kamu!?" tanya Calista.

"Mau mutusin Kak Garda."

"Nggak! Kamu nggak boleh mutusin dia. Kamu harus bales perbuatan dia ke kamu, Le!" Calista berkata kemudian memiringkan senyumnya.

"Ta... tapi..."

"Nggak ada tapi-tapi. Dia udah nyakitin kamu, sahabatku. Aku bakalan bantuin kamu, Le," ujar Calista meyakinkan.

Alea menatap Calista bingung. "Gimana caranya?"

Calista memiringkan senyumnya lagi dengan tatapan tajam tersirat dengan pemikiran cemerlangnya.

***

Setelah beberapa hari pasca kejadian itu, Alea tidak lagi membalas semua message yang Garda kirimkan. Biarkan lelaki itu mampus sekalian, Alea takkan peduli lagi. Kalau bukan karena balas dendam seperti yang Calista katakan, Alea pasti sudah memutuskan Garda sejak kemarin.

"Lea! Cepat turun!" Mamanya terus-terusan berteriak, membuat Alea kesal. Bisa-bisanya orang tuanya mengatakan dengan santai bahwa ia di jodohkan dengan sahabat mereka.

"Lea, kamu pasti nggak nyesel kalo tau siapa yang dijodohkan dengan kamu."

Itulah kata-kata yang dicetuskan papanya saat Alea ingin menyanggah dan mau memberikan ketidaksetujuannya. Mendengar itu, Alea mendadak pasrah. Toh, hanya melihat saja dulu. Why not?

Mungkin saja dirinya bisa membuat Garda skak mat karena pacarnya pergi meninggalkannya dan menikah dengan orang lain. Perlahan, Alea menunjukkan senyum sarkatisnya.

"Lea, cepat turun sayang. Bentar lagi mereka sampai."

"Wait, Mama!"

Mama Lea, Kierra sudah sibuk sedari tadi menyuruh Alea untuk bersiap-siap turun dan menyambut tamu mereka yang notabene-nya adalah calon suami yang dirinya sendiri tak ketahui bagaimana rupanya. Alea menghela napasnya di depan cermin, kemudian turun menuruni tangga perlahan. Alea sudah berpakaian rapi menggunakan dress-nya berwarna peach dipadu dengan bandana pita dirambut panjangnya. Ia terlihat sangat cantik dan anggun dengan polesan yang ditata oleh mamanya.

Kierra tersenyum, "Cantik sekali anak mama. Oh iya, calon suami kamu sudah datang, Lea."

DEG!

Jantung Alea mendadak berdenyut cepat saat mamanya mengatakan bahwa calon suaminya sudah tiba di halaman rumah. Ia menggesek jari jempol dengan jari telunjuknya pertanda ia takut.

Siapa calon suaminya? Apakah ia kenal? Apakah Alea harus menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya?

"Nah sayang, ini calon suami kamu ..." ucap Mama Alea.

"Kak Garda!"

Alea melotot saat melihat kedatangan Garda. Jadi, ternyata Gardalah lelaki yang dimaksud oleh orang tuanya dan akan dijodohkan dengannya.

"Nah Lea, ini calon suamimu ..." sambung Papa Alea, Darian.

"Alea nggak mau, Ma, Pa!" bentak Alea keras. Bisa-bisanya takdir membawanya lagi ke lelaki ini.

"LEA!" Darian membentak sambil memberikan pandangan tajam ke anaknya.

"Pa ... dia ..."

"Pokoknya kamu harus menerima perjodohan ini, Lea. Ini demi kebaikanmu," titah Darian.

"Kenapa, Pa!?"

"Lea! Kamu kenapa sih? Bukannya Garda pacar kamu? Harusnya kamu seneng dong!" ucap Kierra.

"Lea benci papa. Lea benci mama. Lea benci semuanya!" Alea pergi berlari meninggalkan semua orang menuju kamarnya yang terletak dilantai dua. Semua orang seakan-akan tidak mengerti. Alea tidak menyalahkan orang tuanya juga, mengingat mereka tidak tahu bahwa Garda pernah berselingkuh dengannya. Ini semua gara-gara Garda.

"SIAL!" Alea melempar bantalnya ke dinding.

"Kau lihat aja, cowok sialan. Aku bakal bales semua perbuatan yang telah kau lakukan ke diriku."

Perlu digarisbawahi bahwa Alea Darianta Kierra bukanlah gadis polos lagi. Waktu terus berjalan dan Alea tak akan sama seperti dulu lagi.

 *Bagi yang ingin membaca novel ini bisa mengunjungi akun wattpadku dengan mencari username @ranikaruslima :)

  • view 64