Kisah Perang Hattin (1): Latar Belakang Pertempuran, part 1

Randi Muhammad Anshori
Karya Randi Muhammad Anshori Kategori Sejarah
dipublikasikan 02 Mei 2017
Kisah Perang Hattin (1): Latar Belakang Pertempuran, part 1

Latar Belakang Pertempuran
 
Pada tahun 1180-an daerah-daerah pendudukan yang ada setelah Perang Salib Pertama bukan lagi merupakan "Negeri Pasukan Salib" dalam arti sesungguhnya, karena para keturunan pasukan Perang Salib Pertama tidak lagi berambisi memperluas daerah kekuasaan. Sebaliknya, mereka tengah kewalahan berjuang mempertahankan diri dan melindungi Tanah Suci umat Kristen dari pasukan Muslim yang berusaha merebutnya kembali. Selain itu, tampuk kepemimpinan kini dipegang oleh orang-orang yang berusaha hidup berdampingan dengan orang Muslim di sekitar mereka.
 
Hingga masa itu, Kerajaan Yerusalem masih menjadi negara Latin terpenting di Suriah dan Palestina. Sementara itu, Negeri Edessa (Urfa) telah berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim, wilayah Antiokhia telah jatuh ke dalam pengaruh Bizantium, dan Negeri Tripoli yang kecil telah memberontak terhadap kedaulatan Yerusalem. Pada awal 1180-an, dari sekitar 400.000 hingga 500.000 penduduk kerajaan Yerusalem, tak sampai 120.000 di antaranya yang merupakan orang latin (orang kristen keturunan Eropa Barat). sisanya adalah pribumi Kristen 'Oriental', Muslim, Yahudi, dan Samaria. Perimbangan kekuasaan para penguasa feodal Yerusalem pada akhir abad ke-12 kurang jelas, tapi secara keseluruhan tampaknya kekuasaan para raja dan bangsawan tingkat rendah mulai melemah, sementara kekuasaan sejumlah baron terkemuka makin meningkat. Kekuasaan Ordo Militer (Templar dan Hospitaller) juga makin besar, setelah diberi semakin banyak puri, karena hanya merekalah yang dianggap mampu mempertahankan puri secara efektif.
 
Sebenarnya, secara teori, pertahanan Kerajaan Yerusalem adalah tanggung jawab seluruh umat Kristen Eropa Barat. tapi pada kenyataannya, Negeri-Negeri Latin harus mengandalkan kekuatan sendiri setelah kegagalan besar Perang Salib Kedua pada 1148. Yang saat itu diinginkan oleh para pemimpin  Negeri-negeri Latin adalah prajurit professional dan sokongan dana, bukan gerombolan pasukan Salib yang membuat kekacauan lantas pulang. Sementara itu, kekalahan telak Bizantium dari Turki Seljuk di Myriokefalon pada 1176 dan pembantaian orang Latin di Konstantinopel delapan tahun kemudian menunjukan bahwa bantuan dari Kekaisaran Bizantium tak bisa diharapkan. Kerajaan Yerusalem juga menghadapi berbagai masalah di daerah kekuasaannya, hanya sedikit orang Kristen Armenia yang menetap di Palestina; orang Kristen Maronit, penduduk pegunungan yang suka berperang, hidup jauh dari pusat kekuasaan; sedangkan sebagian besar orang Kristen Suriah Yakobit masih terus mencurigai orang Latin. Orang- orang Latin hanya ikut-ikutan kebiasaan timur dalam berpakaian dalam menjaga kebersihan , dan jurang perbedaan budaya antara orang Latin dan warga setempat tak kunjung terjembatani. Hubungan antara Negeri-negeri Latin dan negera-negara Muslim disekitarnya tetap berakar pada perang, dan perdamaian langgeng mustahil tercapai, karena kedua belah pihak bersiteguh pada ideologi masing-masing yang tidak dapat menerima keberadaan satu sama lain. Sikap yang terbawa dari kemenangan yang mudah diraih dalam Perang Salib Pertama membuat elite militer Latin merasa kelewat percaya diri. Kepercayaan diri tersebut bagus bagi semangat juang pasukan Salib, namun rasa percaya diri yang kelewat tinggi itu juga bakal menggiring mereka menuju ke bencana militer. Sebenarnya rasa percaya diri mereka perlahan-perlahan mulai terkikis, terbukti dari semakin banyaknya benteng pertahanan yang dibangun pada paro kedua abad ke-12.
 
Daerah perbatasan timur Kerajaan yerusalem sebenarnya terdiri atas sejumlah sektor. Di utara (Lembah Litani) dapat ditemui sejumlah puri ynag mengagumkan. Sektor tengah, mulai dari Gunung Hermon (Jabal Asy-Syaikh), menyusur sepanjang Dataran Tinggi Golan hingga lembah Yarmuk, seharusnya dibagi dengan penguasa Damaskus. Kaum Muslim berpendapat bahwa daerah itu seharusnya juga mencakup perbukitan Balqa di sekitar Amman, tapi pada kenyataannya dataran tinggi subur antara Sungai Yarmuk dan Pegunungan Aljun didominasi oleh orang Latin. Lebih jauh ke selatan, terdapat daerah kekuasaan Latin yang disebut Oultrejourdain ('Seberang Sungai Jordan'), yang terletak di antara Sungai Yordan, Laut Mati dan Wadi Araba di barat, dan jalur strategis dari Amman hingga 'Aqabah. Dari Oultrejourdain, orang Latin memungut pajak jalan dari lalu-lintas kafilah Muslim antara Suriah dan Mesir, termasuk rombongan haji dalam perjalanan mereka ke Mekkah dan Madinah di selatan.

Keberhasilan Shalahuddin dalam merebut kembali daerah di selatan Montreal (Shawbak) pada awal 1170-an punya dampak psikologis yang besar, yaitu "membebaskan Jalan Haji, setidaknya yang berangkat dari Mesir, tidak perlu lagi membayar pajak memalukan kepada Non-Muslim.

Perkembangan paling mencolok di perbatasan Muslim adalah keberhasilan Shalahuddin mempersatukan daerah-daerah Islam yang bersebelahan dengan negeri-negeri Latin. Satu-satunya tetangga orang Latin selain Shalahuddin adalah di ujung utara, yakni negara Kristen Armenia Kilikia. Meski demikian, ada beberapa perubahan lain yang sama pentingnya di bagian Timur Tengah yang dikuasai Muslim. Konsep jihad sebagai perang melawan orang kafir, yang telah lama terkubur, dibangkitkan kembali oleh para ulama Muslim Sunni abad ke-12. Jihad kemudian menjadi gerakan militer terorganisasi untuk merebut kembali Tanah Suci, sebagaimana yang dilakukan oleh pasukan Salib ketika merebut daerah tersebut. Namun jihad tidak bertujuan untuk memaksa musuh masuk Islam, karena Islam pada dasarnya tidak menyetujui praktek penyebaran agama melalui kekerasan. Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pada abad ke-12 sikap beragama mengeras, toleransi menipis, dan tekanan terhadap umat Kristen Oriental pribumi meningkat. Kebangkitan kembali Muslim Sunni tersebut juga mengancam minoritas Muslim Syiah.
 
Bersambung In Syaa Allah...

SUMBER: Hattin 1187, Saladin's Greatest Victory karya David Nicole

  • view 98